1.808 Anak di Lembata Menderita Stunting

Hiero Bokilia

 

Kasus stunting di Kabupaten Lembata hingga kini masih tergolong tinggi. Saat ini, tercatat masih terdapat 1.808 anak yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Lembata, NTT yang menderita stunting. Pemerintah Kabupaten Lembata, berkomitmen tahun 2022 mendatang jumlah kasus stunting di Kabupaten Lembata hanya 10 persen dari jumlah bayi atau anak yang ditimbang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata drh Mathias AK Beyeng kepada VN, Jumat (22/10) mengatakan, untuk mengejar target menurunkan angka stunting hingga 10 persen, dinas telah menggelar pertemuan berkala dengan seluruh kepala Puskesmas dan petugas gizi di Kabupaten Lembata untuk membicarakan masalah stunting.

Stunting atau perawakan pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak lebih pendek dari anak normal seusianya. Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia.

“Ini menyebabkan anak mengalami perawakan pendek akibat kekurangan gizi. Kekurangan gizi bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya saja tapi juga terganggu perkembangan otaknya, yang tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif,” tegas Beyeng.

Untuk mencegah anak menderita stunting, kata dia, peran semua pihak sangat dibutuhkan, terutama mulai dari keluarga untuk memperhatikan asupan gizi.

“Investasi besar bagi orangtua adalah anak-anak, karena itu masalah gizi menjadi perhatian utama orang tua,” tandas Beyeng.

Sementara itu, Bupati Lembata Thomas Ola Langoday saat menghadiri Rembuk Stunting Kabupaten Lembata di Hotel Anisa Lewoleba, Kamis (21/10) mengatakan, terdapat 1.088 anak di Lembata saat ini menderita stunting. Kondisi tersebut menurutnya harus diatasi bersama dan ia menargetkan agar tahun depan Lembata harus zero (nol) kasus stunting.

“Manusia yang paling sehat ada di Lembata, sesuai tagline Healthiest From The East. Sehat mulai dari bayi dan balita. Dan ibu harus sehat sejak remaja. Jika kita tidak siapkan ini maka jumlah stunting bisa bertambah,” tegas Langodai.

Kasus stunting yang tinggi, lanjutnya, karena pemerintah sibuk membangun infrastruktur dan belum konsen membangun manusia. Ini menurutnya terjadi kesalahan pemerintah dalam orientasi pembangunan. (Yan/ol)

Leave a Comment