11 Warga Ende Positif Rabies

Salah seorang warga korban gigitan hewan penular rabies mendapatkan layanan vaksinasi di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Ende. Foto: Son/VN
Salah seorang warga korban gigitan hewan penular rabies mendapatkan layanan vaksinasi di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Ende. Foto: Son/VN

 

 

Son Bara

Sebanyak 11 pasien di Kabupaten Ende, NTT dinyatakan positif tertular virus rabies. Untuk itu, masyarakat diminta waspada dan tidak menganggap hal biasa jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang berpotensi sebagai penyebar virus rabies.

Kepada VN, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Ende, Vitalis Kako, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakut (P2P), Ahmad Gulung, Rabu (19/5)  menjelaskan penyebaran virus rabies perlu diantisipasi sedini mungkin.

Persoalannya, dari 163 kasus gigitan oleh hewan penular rabies ada korban yang dinyatakan positif tertular rabies.
Masyarakat diminta untuk mengantisipasi sejak awal jika terjadi kasus gigitan baik oleh anjing, kucing, kelelawar, dan kera. Jika terjadi, segera lapor ke petugas medis terdekat atau melakukan pembersihan pada bekas gigitan dengan air mengalir menggunakan detergen.

“Kami sudah melakukan penanganan intensif bagi pasien yang positif rabies dengan memberikan vaksin anti rabies (VAR). Untuk 163 kasus gigitan kita sudah menggunakan 493 vial vaksin anti rabies. Bagi pasien yang positif rabies akan mendapatkan tiga kali suntikan vaksin anti rabies. Sedangkan yang negatif akan mendapatkan dua kali suntikan,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk saat ini stok vaksin anti rabies pada Dinas Kesehatan Ende sebanyak 1.831 vial. Masih mencukupi kebutuhan beberapa bulan ke depan. “Kami juga sudah minta tambahan vaksin ke pemerintah provinsi,” jelas Ahmad.

Ia menjelaskan korban gigitan anjing terbanyak merupakan perempuan dan anak. Setiap kali ada pengaduan dari korban, petugas langsung memberikan vaksin.

“Sedangkan menyangkut populasi hewan baik anjing, kucing, kera atau kelelawar itu bukan menjadi ranah kita. Hewan penular seperti anjing paling mendominasi penyebaran virus rabies di Ende. Semestinya hewan tersebut tidak perlu dimusnahkan, klau bisa pemilik hewan tersebut mengandangkan atau juga dirantai. Faktanya setiap kepala anjing yang menjadi sampel pemeriksaan hasilnya positif. Butuh kearifan dan kesadaran bersama untuk memutus mata rantai penyebaran virus rabies di Ende,” ungkapnya.

Kadis Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus sebelumnya mengatakan, Pemkab Sikka fokus memantau ketat penanganan kasus rabies disetiap wilayah kecamatan sebagai langkah untuk mengantisipasi terjadinya kasus rabies.

Ia menjelaskan pada tahun 2019 lalu kasus gigitan anjing rabies di Sikka mengalami peningkatan hingga mencapai 1.163 kasus sehingga menimbulkan 2 orang korban meninggal dunia, sedangkan pada tahun 2020, jumlah kasus rabies mengalami penurunan hingga mencapai 4 kasus, yang mana semuanya tertangani dengan baik tanpa ada korban jiwa.

Tahun 2021 ini pihaknya akan lebih fokus dalam penanganan masalah rabies disetiap wilayah kecamatan, sehingga tidak ada lagi kasus rabies di Kabupaten Sikka.

“Kalau kasus rabies di Sikka tahun kemarin tidak ada korban jiwa, kemudian untuk tahun ini kita juga fokus pemantauan ketat disetiap wilayah kecamatan sehingga masalah rabies bisa teratasi,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat harus selalu mewaspadai terhadap kasus gigitan hewan penular rabies dan apabila terkena gigitan langsung datang ke Dinas Kesehatan untuk diberikan penanganan sesuai prosedur tetapnya berupa suntikan vaksin, sehingga bagi yang terkena gigitan aman dari penyakit rabies. (mg-15/ari)

Leave a Comment