2.765 Warga NTT Menderita TBC

Sinta Tapobali

Jumlah penderita penyakit tuberculosis (TBC) di NTT, periode Januari hingga Agustus tahun 2021 mencapai 2.765 kasus. Jumlah kasus ini tersebar di 22 Kabupaten/Kota se-NTT, dengan jumlah tertinggi di Kabupaten Sikka  296 kasus, diikuti Kota Kupang dengan 275 kasus dan Kabupaten Belu 228 kasus.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi NTT, Herlina Salmun kepada VN, Kamis (14/10) pagi.

Menurutnya, selain tiga kabupaten kota dengan kasus tertinggi, TBC juga ditemukan di 19 Kabupaten lain,  yakni Kabupaten Alor 110 kasus, Ende 180 kasus, Flores Timur 111 kasus, Kabupaten Kupang 177 kasus.

Selanjutnya Kabupaten Lembata 56 kasus, Malaka138 kasus, Manggarai 89 kasus, Manggarai Barat 128 kasus, Kabupaten Manggarai Timur 135 kasus, Nagekeo 76 kasus, Ngada 74 kasus, Rote Ndao 17 kasus, Sabu Raijua 32 kasus.

Kabupaten Sumba Barat 50 kasus, Sumba Barat Daya 219 kasus, Sumba Tengah 14 kasus, Sumba Timur 110 kasus, TTS  221 kasus dan Kabupaten TTU 29 kasus.

Kasus TBC di  NTT mengalami fluktuasi setiap tahun. Dari data diperoleh pada tahun 2017 jumlah kasus di NTT mencapai 7.345 kemudian naik di tahun 2018 menjadi 7.632 kasus. Tahun 2019 justru mengalami penurunan 47 kasus menjadi 7.585 dan di tahun 2020 turun lagi menjadi 5.126 kasus.

Lebih lanjut Herlina menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi NTT telah melakukan berbagai upaya penanganan seperti melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat, menyebarluaskan informasi yang benar kepada masyarakat tentang TBC. Penyelenggaraan upaya perubahan perilaku masyarakat, melibatkan tokoh agama dan para stakeholder terkait untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat dan menyampaikan informasi kepada masyarakat terkait pelayanan TBC yang tepat.

“Target penemuan kasus TBC di NTT tahun 2021 sesuai dengan RPJMD mencapai 15.982 (81%), namun saat ini cakupan baru mencapai 2.765 (17%). Karena itu masih banyak PR untuk mengejar target ini dan tentu tidak hanya melibatkan Dinas Kesehatan saja namun harus melibatkan lintas sektor maupun lintas program,” ujar Herlina.

Bisa Diobati

Meski TBC merupakan penyakit yang menular namun penyakit ini sebenarnya dapat diobati karena obat TBC sudah tersedia. Penyakit TBC bisa disembuhkan dengan menjalani pengobatan secara teratur, selama minimal 6-9 bulan.
Pengobatan TBC, yang terbaik adalah di Puskesmas, klinik, dokter praktek swasta, dan rumah sakit yang sudah menerapkan Direct Observe Treatment Short (DOTS).

DOTS adalah pengobatan yang diamati langsung dalam jangka pendek, dan dibantu oleh pengawas menelan obat hingga selesai pengobatan. Pengawasan dimaksudkan agar pasien TBC tidak mangkir mengkonsumsi obat selama terapi penyembuhan penyakitnya.

Mengonsumsi obat secara teratur wajib dilakukan agar membunuh kuman TBC, mencegah penularan TBC kepada orang lain dan mencegah terjadinya resistensi obat. (Yan/ol)

Leave a Comment