39,7 Hektare Lahan Pertanian Tertimbun Pasir

Lahan pertanian warga Desa Kiritana yang kini berubah menjadi lahan kosong karena timbunan pasir. Gambar diambil, akhir pekan kemarin. Foto:JumAL Hauteas/vn.

Jumal Hauteas

 

LAHAN pertanian masyarakat Desa Kiritana, Kecamatan Kambera seluas kurang-lebih 39,7 hektaare kini tidak dapat ditanami tanaman jagung maupun tanaman palawija lainnya karena tertimbun pasir sebagai akibat dari banjir bandang yang melanda Kabupaten Sumba Timur, Minggu-Senin (4-5/4) lalu.

Ketua Kelompok Tani Panamu Rihing, Cristian K. Anahutar menyampaikan hal ini saat ditemui VN, di kediamannya, akhir pekan kemarin. Dijelaskannya timbunan pasir ini bervariasi ketebalannya sehingga sudah sulit bahkan tidak memungkinkan lagi untuk ditanami jagung maupun tanaman palawija lainnya yang menjadi andalan masyarakat Desa Kiritana saat musim kemarau.

Masalah timbunan pasir di lahan pertanian masyarakat ini, menurut Cristian, sudah dilaporkan kepada Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing pasca banjir bandang mereda waktu lalu dan mendapatkan respons positif dengan meminta pihaknya untuk mendata luasan lahan pertanian terdampak timbunan pasir.

“Saya diminta pak bupati untuk mendata luasan lahan terdampak pasir berapa luas, dan keesokan harinya saya langsung masukkan datanya,” jelas Cristian.

Selanjutnya atas perintah Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sumba Timur turun dan melakukan pengukuran ketebalan pasir di lahan pertanian masyarakat untuk diperhitungkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk pengerukan timbunan pasir tersebut.

“Hasilnya ketebalan pasir mencapai 60-150 centi meter jadi butuh dana sekitar Rp8 miliar untuk pengerukan,” ungkapnya.

Karenanya Pemkab Sumba Timur memutuskan untuk menunda pengerukan timbunan pasir di lahan pertanian masyarakat Desa Kiritana tersebut tahun ini dan akan mengupayakannya di Tahun Anggaran 2022 mendatang dan ketersediaan anggaran kembali membaik.

Mengenai langkah mereka untuk tetap berdaya dan memiliki kesiapan bahan pangan di dalam lumbung mereka masing-masing, Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Paori Lama Hamu, Desa Kiritana ini mengungkapkan untuk saat ini pihaknya belum bisa berbuat apa-apa karena timbunan pasir yang terlalu tebal.

Ketua RT 05, RW 03, Desa Kiritana Katarina Hara Adji (60) menjelaskan tidak semua petani holtikultura di Desa Kiritana bisa kembali mengolah lahan pertaniannya pasca banjir bandang. Karena lahan pertanian mereka tertutup pasir hingga ketebalan lebih dari satu meter.

“Di pinggir sungai itu ada yang mau angkat pasirnya dan sudah sempat diukur tebalnya satu meter lebih,” ungkapnya.

Dirinya cukup prihatin dengan warga yang lahan pertaniannya terkubur pasir dengan ketebalan. Karena sebelum bencana banjir terjadi semua masyarakat Kiritana adalah penghasil sayuran bagi warga Kota Waingapu. Namun kini sebagian warga tersebut hanya bisa duduk diam tanpa mampu melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.

Saat ini Katarina mengatakan masih terus semaikan berbagai jenis bibit sayuran untuk di tanam di lahan pertanian keluarganya. Karena tanaman kangkung, jagung dan sayur putih yang sudah ditanam tampak tidak subur dan belum bisa dipanen, padahal tanamannya sudah berusia tiga minggu.

“Kita coba semua dulu, mana yang bisa hidup dan berhasil baru kita tanam banyak,” ungkapnya.

Diharapkannya pemkab melalui Dinas Pertanian bisa memberikan perhatian terhadap kondisi ini.

“Saat ini masih ada bantuan yang diberikan oleh beberapa pihak. Namun tidak mungkin bantuan ini ada sepanjang waktu,” tandasnya. (ari/yan/ol)

Leave a Comment