51 Unit Huntara Siap Dihuni Korban Seroja Lembata

Beberapa unit rumah hunian sementara untuk korban banjir bandang Lembata sudah rampung dan siap ditempati. Gambar diabadikan sabtu (19/6). Foto: MI
Beberapa unit rumah hunian sementara untuk korban banjir bandang Lembata sudah rampung dan siap ditempati. Gambar diabadikan sabtu (19/6). Foto: MI

Sebanyak 100 unit hunian sementara (huntara) yang dilengkapi fasilitas listrik, sumur dan taman baca, mulai menjawab kebutuhan penyintas banjir bandang di Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT.

Meski belum dapat menjawab kebutuhan seluruh penyintas akibat bencana Seroja, namun warga mengaku langkah komunitas Taman Daun mulai mengurai beban penyintas pascabencana.

Berbagai pihak turun tangan mengurus kesejahteraan penyintas, sejak badai Seroja melanda Lembata pada 4 April 2021 lalu.
Setelah Pemda setempat memulangkan para pengungsi banjir bandang, 17 Mei 2021 lalu, warga penyintas memilih untuk mengungsi ke kebun miliknya, meski dalam kondisi darurat.

Kondisi ini memantik kepedulian pegiat kemanusiaan, John Batafor dengan komunitas Taman Daunnya, untuk membangun rumah hunian sementara.

“Sudah 51 unit huntara kami bangun. Rencananya untuk tahap awalnya, kami bangun 100 unit rumah huntara dari total 1.148 KK Penyintas yang belum kebagian rumah tinggal di lokasi relokasi yang sedang dibangun pemerintah,” ujar John Batafor, pentolan komunitas Taman Daun, akhir pekan kemarin.

Ia mengatakan pihaknya sengaja membangun kompleks huntara bagi penyintas guna memudahkan pemasangan lampu listrik.
Kompleks huntara itu dilengkapi sumur, fasilitas MCK dan taman baca bagi anak-anak.

“Ada 1.148 KK penyintas dipastikan tidak menerima hunian di rumah relokasi yang sedang dibangun pemerintah, karena tahap pertama ini hanya 700 unit. Akan tetapi karena keterbatasan, kami baru dapat membangun 100 unit huntara, dilengkapi fasilitas laiknya pemukiman, meski dengan kondisi sederhana,” ujar John Batafor.

Batafor berharap dapat membantu seluruh penyintas yang hingga kini masih menempati pondok di kebun milik mereka, sambil menanti saat menempati rumah di lokasi relokasi.

Sementara , Pius Gelang Sableku, penyintas asal desa Amakaka, menyambut hangat rencana Taman Daun membangun kompleks hunian sementara.

Pius bahkan mengizinkan lahan kebun miliknya dibangun lebih banyak huntara untuk memberi kenyamanan bagi penyintas banjir bandang yang hingga saat ini masih di landa ketakutan akibat aktivitas gunung berapi Ile Lewotolok.

“Seumur hidup saya, baru Taman Daun ini yang bantu kami komplit. Rumah, fasilitas MCK, listrik, dan ada taman baca. Perhatiannya untuk generasi muda ke depan sangat membantu kami,” ujar Pius Gelang.

Pius mengaku kini ia bersama keluarga mulai dapat menempati huntara untuk menata kehidupan lebih baik ke depan. (mi/ari)

Leave a Comment