Anak Pelaku Penikaman Kepsek di Nagekeo Berpotensi Alami Tekanan Psikologis

Sinta Tapobali

Masyarakat NTT sedang digemparkan dengan kasus penikaman seorang kepala sekolah di Nagekeo oleh oknum orang tua siswa. Sang kepala sekolah ditikam, Selasa (7/6) oleh DD lantaran anaknya tidak bisa mengikuti ujian karena belum membayar uang komite sebesar Rp 1,7 juta. Korban meninggal dunia pada Rabu, 8 Juni usai dirujuk di RSUD Ende. Saat ini pelaku DD sudah ditahan untuk proses selanjutnya.

Meski tindakan yang dilakukan sang ayah sebagai pelaku tidak dapat benarkan, namun di sisi lain psikologi anak dari pelaku yang juga merupakan korban pengusiran oleh kepala sekolah dari sekolah tentu menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Dosen Psikilogi di Universitas Nusa Cendana, Dian Lestari Anakaka yang dikonfirmasi VN, Kamis (10/6) mengatakan dalam pengamatannya atas kasus tersebut, ada tiga ejadian yang tidak menyenangkan yang berpotensi berdampak negatif pada kondisi psikologis dari siswa tersebut yaitu pengusiran dari sekolah, penikaman terhadap kepala sekolahnya dan penahanan ayahnya.

Menurut Dian, rentetan kejadian ini akan berdampak buruk bagi psikologis sang anak dan berakibat fatal mulai dari perasaan sedih, menyalahkan dirinya, takut untuk bersosialisasi kembali termasuk takut untuk kembali bersekolah.

“Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan karena kejadian penikaman bukanlah intensi anak dan ia tetap berhak untuk mendapatkan perlindungan agar tetap aman dan juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang tentu berguna bagi masa depannya,” jelas Dian.

Menurutnya, keluarga menjadi support system utama bagi anak agar anak merasa aman dan terlindungi selama menjalani masa-masa sulit ini. Pendampingan psikologis juga menjadi salah satu yang bisa dipertimbangkan untuk membantu anak agar dapat melewati semua situasi yang dialaminya saat ini.

“Sedih, takut untuk kembali bersosialisasi adalah imbasnya bagi anak. Antisipasinya dimulai dari pendampingan keluarga dan bahkan kalau perlu psikolog,” tambah Dian.

Dian bergarap masyarakat luas dan sekolah dapat memberikan kesempatan yang aman bagi anak untuk bisa bertumbuh dan berkembang di lingkungan yang sama. Namun, menurutnya jika itu tidak bisa dilakukan maka kemungkinan untuk bersekolah di tempat yang lebih aman bisa menjadi pertimbangan.

“Masyarakat luas dan sekolah juga diharapkan dapat memberikan rasa aman dengan tidak menolak anak,” harapnya. (bev/ol)

Leave a Comment