Arsitektur Tradisional NTT Perlu Dilestarikan

Putra Bali Mula

Yori Antar, arsitek terkenal berjuluk Pendekar Arsitektur Nusantara sangat peduli terhadap pelestarian arsitektur tradisional dari ancaman kepunahan dan ingin pola arsitektur tradisional di NTT tidak ikut hilang ditelan zaman.

Ia mengungkapkan berbagai upaya yang telah dilakukannya dalam pelestarian itu di talkshow online yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTT, Kamis (12/8). Talkshow ini bertajuk Antara Beta, Dia dan Destinasi wisata NTT yang dipandu Staf Khusus Gubernur NTT Intiyas Utami.

Yori Antar

Yori Antar

Sejak 2008, arsitek bernama lengkap Gregorius Antar Awal ini aktif melakukan restorasi terhadap rumah-rumah tradisional di Waerebo, Flores, Nias, Sumba Barat Daya dan banyak lagi. Gerakan pelestarian ini bertujuabln menyelamatkan rumah-rumah tradisional Indonesia.

Ia, dalam berbagai upaya membangun lagi rumah-rumah tradisional ini tetap mempertahankan desain, pola arsitektur, dan cara-cara kerja asli yang telah digunakan masyarakat adat sejak dahulu.

Rumah adat di Wairebo.

Rumah Adat di Wairebo

Ia menggandeng berbagai stakeholder termasuk mahasiswa dalam mencatat tradisi dan formula untuk merekam dan membukukan pengetahuan arsitektur kuno seperti Waerebo.

UNESCO, kata dia, lantas telah memberikan penghargaan atas Waerebo karena masyarakat dan akademisi yang melestarikan peninggalan penting ini.

Rumah adat di Sumba Barat Daya

Rumah adat di Sumba Barat Daya

Menurutnya, arsitektur tradisional adalah identitas dan bukti intelektualitas masyarakat NTT zaman dahulu yang sayang dan keterlaluan bila dibiarkan hilang oleh generasi saat ini. Nilai historis dan gotong-royong yang kental terkandung dalam tiap-tiap rumah adat di NTT dan sangat sayang bila punah.

“Anggapan sebagai peninggalan zaman kegelapan, zaman animisme, harus kita ubah. Kita balik, ini warisan luar biasa dan karenanya kita salah bila tidak mempelajari dna tidak melestarikannya,” tegasnya.

Terkait wisata, kata Antar, tentu bangunan lokal dapat menjadi daya tarik dan nilai tersendiri yang berkesan bagi pengunjung.

Ia mengatakan bersama dengan berbagai pihak lain, ia turut mengembangkan alur wisata baru yaitu Jalur Tenun Sumba.

Ia menyebut tenun Sumba yang sudah luar biasa mendunia ini disajikan dalam rumah tenun yang dibangun di 10 titik jalur tenun Pulau Sumba. Rumah-rumah ini dibangun dengan pola arsitektur asli masyarakat adat di sana.

Rumah-rumah tenun ini menggandeng masyarakat untuk berkarya dan menampilkan tenun Sumba dengan ragam cerita dan cara pembuatannya.

“Semoga semua desa yang ada dapat dilestarikan dan masyarakat menjadi tuan rumah agar dapat melestarikan gaya arsitektur asli yang ditinggalkan para leluhur, ” harapnya

Ia menyebut NTT berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia bahkan dunia karena sejak awal nilai gotong royong, hubungan antara manusia hingga leluhur masih kental, dan ini tercermin dalam berbagai tradisi pembangunan rumah adat di NTT. (bev/ol)

Leave a Comment