Bangun Spirit Kolaboratif, Indonesia Gelar Regional Conference on Humanitarian Assistance ke-2

 

Meski kebutuhan untuk bantuan kemanusiaan di Aisa Pasifik banyak namun aksi kemanusian masih dijalan terpisah-pisah. Butuh wadah untuk menyatukan aksi agar dampaknya lebih maksimal.

“Saat kebutuhan untuk bantuan kemanusiaan masih mencapai jutaan orang di Asia Pasifik, aksi-aksi kemanusiaan di kawasan masih dilaksanakan secara terpisah-pisah dan tidak terkoneksi. Untuk itu, dibutuhkan suatu kerangka pemersatu yang inklusif guna menguatkan kolaborasi dan kapasitas aktor-aktor kemanusiaan,” tegas Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri, Febrian A. Ruddyard dalam ‘Virtual Launching Event of the Regional Conference on Humanitarian Assistance (RCHA) 2021’, Senin(7/6).

Pernyataan ini didukung oleh Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia, Juvencio de Jesus Martins.

Menurutnya, terbentuknya sebuah kerangka untuk aksi kemanusiaan akan menjadi bukti semangat solidaritas aktor-aktor kemanusiaan di kawasan saat menghadapi situasi kemanusiaan.

Hal serupa disampaikan Koordinator Kemanusiaan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, James Gilling. Memperhatikan situasi COVID-19 yang menghadapkan aksi kemanusiaan kepada tantangan-tantangan yang semakin kompleks, Gilling menyatakan pentingnya keberadaan inisiatif yang mempertemukan dan menguatkan kolaborasi aksi kemanusiaan di Asia Pasifik.

“Ketika pergerakan aktor kemanusiaan regional dan internasional terbatasi oleh pandemi COVID-19, penguatan kapasitas aktor nasional dan lokal harus didorong secara maksimal untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam situasi krisis,” ujarnya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Kepala Delegasi ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste, Alexander Faite, menyatakan dukungan untuk mendorong terbentuknya jejaring dan inisiatif aksi kemanusiaan regional – yang berfokus kepada penguatan aksi kemanusiaan di tingkat nasional dan lokal. Dalam hal ini ICRC dapat membagikan pengalamannya yang mengedepankan kearifan lokal dalam pelaksanaan aksi kemanusiaannya.

Dalam pernyataannya Duta Besar Fiji untuk Indonesia, Amena Yauvoli, juga menyatakan dukungan terhadap pembentukan suatu kerangka kolaborasi regional yang mendorong penguatan kapasitas kemanusiaan. Ia tekankan pentingnya strategic objective yang konkret dalam maksimalisasi kerja sama antar-aktor di Asia Pasifik. Secara nasional, Yauvoli sampaikan pengalaman Fiji dalam manajemen situasi kemanusiaan yang antara lain berfokus kepada strategic objectives perlindungan dan penguatan self-resilience komunitas terdampak.

Dalam konteks nasional Indonesia, Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said mengatakan spirit kolaboratif selalu menjadi salah satu prinsip utama dalam penyelenggaraan bantuan kemanusiaan di Indonesia. Untuk itu, pihaknya akan mendukung terlaksananya inisiatif yang mendorong adanya dialog dan pertukaran pengalaman antara aktor kemanusiaan di kawasan.

Selaras dengan pernyataan-pernyataan tersebut, Febrian mengumumkan bahwa Indonesia akan kembali menyelenggarakan Regional Conference on Humanitarian Assistance 2021 pada bulan Agustus 2021. Regional Conference tersebut diharapkan menjadi bakal kerja sama lainnya yang lebih intensif di bidang bantuan kemanusiaan di Asia Pasifik.

“Regional Conference on Humanitarian Assistance tahun 2021 akan mengangkat tema ‘Advancing Humanitarian Capacities in a Changing World: National and Local Leadership’,” disampaikan Febrian.

Inisiatif tersebut mendapat apresiasi tinggi dari para peserta pertemuan. Launching Event dihadiri oleh 89 perwakilan dari 69 instansi negara, organisasi internasional/regional, dan organisasi kemanusiaan Indonesia. Selain Australia, Fiji, Timor Leste, dan ICRC, dukungan eksplisit juga disampaikan antara lain oleh Jepang, Medicine Sans Frontier, AHA Centre, SIAP SIAGA, Wahana Visi, dan ASB Indonesia.

Regional Conference on Humanitarian Assistance merupakan pertemuan pertama di Kawasan Asia Pasifik yang bersifat state-led, memanfaatkan trek 1,5, dan berfokus pada isu bantuan kemanusiaan. Setelah diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 2019, di tahun ini Regional Conference tersebut ditargetkan menghasilkan dua outcome document yang dapat membantu melancarkan operasional bantuan kemanusiaan di kawasan, yaitu: (i) Direktori Contact Points Aktor Kemanusiaan di kawasan; dan (ii) Direktori Keahlian (Expertise) Aktor Kemanusiaan di kawasan. (beverly/ol/kemenlu)

Leave a Comment