Bank Indonesia Bantu Moeda Tani Farm Kembang Drip Irigation System 10 Hektar di Sikka

Kelompok Tani Milenial, Moeda Tani Farm, usai merancang Drip Irigation System di atas lahan 10 hektar, Senin (25/10) siang. Foto: Yunus/VN
Kelompok Tani Milenial, Moeda Tani Farm, usai merancang Drip Irigation System di atas lahan 10 hektar, Senin (25/10) siang. Foto: Yunus/VN

Yunus Atabara

Kegigihan Yance Maring dalam mengembangkan Drip Irigation System untuk tanaman hortikultura di Kabupaten Sikka, Nuaa Tenggara Timur mendapat dukungan pemerintah pusat dan daerah termasuk Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga mitra.

BI membantu Kelompok petani milenial Moeda Tani Far sebesar Rp 200 juta untuk mengembangkan tanaman horti di atas lahan 10 hektar.

“Kami tidak menyangka bahwa kami dibantu oleh BI sebesar 209 juta rupiah untuk kembangkan horti di atas lahan 10 hektar di Sikka. Kami akan buktikan kepada BI dan kepada publik bahwa kami akan berhasil,” kata Ketua Kelompok Tani, Moeda Tani Farm Yance Maring kepada VN, Senin (25/10) siang.

Yance menjelaskan pengembangan horti di atas lahan 10 hektar itu menggunakan teknologi Smart Farming Drip Irrigation System yang dilengkapi sensor tanah dan suhu dalam satu kendali aplikasi.

Drip Irigation System dilengkapi dengan sensor NPK, PH, kelembaban, suhu, water flow, water level, TDS dan prakiraan cuaca. Dari data itu akan dilock (dikunci) secara real time dan akan dijadikan data dasar evaluasi.

Selain itu sensor yang ada mampu memberikan notifikasi untuk pemenuhan kebutuhan unsur hara air secara otomatis yang lebih canggih dari alat sebelumnya.

Untuk sistem yang baru, kata Yance, bisa menyimpan data perkembangan tanah dan tanaman setiap saat. Dengan demikian setiap hari bisa diikuti dengan perubahan yang ada termasuk perubahan unsur hara, NPK, PH, TDS dan prakiraan cuaca.

Yance mengapresiasi BI yang telah mendukung dana pengembangan horti di atas lahan 10 hektar, kemitraan Closed Loop yang diinisiasi oleh Kemenko Perekonomian RI.

Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Holtikultura, Kemenko Perekonomian RI, Yuli Sri Wilanti yang dihubungi VN menjelaskan konsep Closed Loop System merupakan hasil diskusi bersama pemuda tani dan Pemerintah Kabupaten di Sikka sebelumnya.

Wilanti menjelaskan Kemenko Perekonomian RI saat ini sedang melakukan pengembangan agribisnis holtikultura dengan menggunakan Inclusive Closed Loop System (Sistem Kemitraan Saling Menguntungkan).

Sistem kemitraan ini mensinergikan rantai pasok pertanian terintegrasi dari hulu hingga ke hilir yang saling menguntungkan.

Menurutnya, dalam pola kemitraan, petani sebagai pemeran utama akan dihubungkan langsung dengan semua stakeholder. Sehingga, dapat berbagi peran dengan semua stakeholder yang ada, mulai dari penyedia benih, pupuk, perlindungan tanaman, melakukan pendampingan terhadap para petani, membiayai dan memberikan dukungan permodalan, serta off-taker.

“Intinya kita mau membangun ekosistem agribisnis holti yang saling menguntungkan. Itu tujuan utama Inclusive Closed Loop System Kemenko Perekonomian RI, untuk menyatukan semua kekuatan,” ujarnya.

Pengembangan teknologi rintisan Yance, kata Wilanti, perlu mendapat dukungan semua pihak baik pemerintah, lembaga mitra dan pemerintah dalam mendukungan kemandirian budi daya hortikultura.

Kelompok Petani Milenial Moeda Tani Farm memilik  5 orang anggoya yaitu, Yance Maring dan Hando Amando, alumni Arava International Center for Agriculture Trainoing (AICAT) Israel dibantu Petrus Efronsius Nong Lalan dan dua alumni sekolah pertanian di Jepang.(bev/ol)

Leave a Comment