Benahi SDM, Baru Bisa Jual wisata Fulan Fehan

Pengunjung Fulan Fehan mengambil spot di belakang lopo untuk berfoto.

 

 

 

Stef Kosat

Destinasi pariwisata dataran tinggi Fulan Fehan telah ditetapkan sebagai pemenang pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) di Labuan Bajo. Namun masyarakat di seputaran gunung Lakaan itu, belum menangkap peluang ekonomi dari destinasi itu dan masih sebatas menonton ramainya kunjungan wisatawan.

Karena itu, hal utama yang harus dilakukan adalah pembenahan SDM masyarakat. Disamping itu, perlu sinergi antara pemerintah desa, dinas pariwisata, dinas pertanian dan dinas pendidikan dan kebudayaan serta PUPR.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Belu Edi Bere Mau, saat ditemui VN di ruangannya pada Kamis (27/5).

Ia mengatakan kolaborasi itu yang belum dilakukan sehingga pemberdayaan bagi masyarakat di Fulan Fehan tidak berjalan. Ini tidak untuk menyalahkan atau melempar tanggungjawab tapi itu fakta yang terjadi.

Sebab SDM masyarakat di sana masih sangat lemah dibandingkan daerah Flores dalam pengelolaan pariwisata.

“Jadi konsep yang harus dilakukan yakni kolaborasi lintas sektor sehingga masyarakat di Fulan Fehan mau diapakan supaya tidak menjadi penonton lagi,” jelasnya.

Menurutnya, karakteristik masyarakat dan potensi-potensi SDA di Fulan Fehan juga perlu didalami.

“Khusus soal kebersihan dan kerapihan rumah dan lingkungan, masyarakat di sana masih belum punya perhatian soal itu. Beda dengan masyarakat di daerah wisata lain. Senentara potensi sumber daya alam yang paling tampak ya peternakan dan pertanian lahan kering tentunya karena air sangat sulit. Sehingga saat berbicara mengenai industri manufaktur, maka kita bisa mengukur berapa produktivitas masyarakat di sana dari pertanian dan peternakan. Dari dua sektor ini saja belum ada data yang jelas berapa masyarakat yang menggantungkan hidup di peternakan dan pertanian. Setelah itu baru dapat ditentukan apa yang harus dijual masyarakat di destinasi wisata Fulan Fehan,” jelasnya.

Ia menfatakan pemerintah tidak bisa seenaknya pemerintah datang dan merubah mata pencaharian masyarakat di sana yang sudah ditekuni puluhan tahun. Maka pengembangan SDM supaya masyarakat mampu mengolah produk yang mereka hasilkan untuk dijual ke lokasi wisata itu snagat penting.

Dari sisi makanan, konsepnya potensi lokal harus bisa suplai.

“Tetapi yang terjadi di Fulan Fehan kan makanan dan minuman dibeli dari Kota Atambua. Padahal desa penyangga di sana seperti Halimodok, Takirin, Maudemu, Dirun, Dualasi dan Rai Ulun harusnya bisa menyuplai makan dan minum di lokasi wisata itu. Hanya harus diakui ini relatif baru dan masyarakat belum memahami pariwisata itu ikutannya apa,” ujar Edi.

Ia mengatakan atas fakta itu, maka peran dan kajian komprehensif dari dinas pertanian sangat penting di sini untuk mendukung penjualan Fulan Fehan ke depan. Selain itu, dinas peternakan juga perlu melakukan hal yang sama supaya paling tidak ke depan wisatawan tidak hanya sekedar disajikan ikan saja.

“Bisa tidak produk pertanian dan peternakan di Fulan Fehan semuanya organik. Sehingga wisatawan mengonsumsi makanan yang elit seperti daerah lain. Karena ini belum jalan dan benar masyarakat sampai hari ini baru sebatas menonton,” ujarnya.

Ia menilai atraksi yang menjadi ciri khas Belu yakni Likurai juga belum ada di sekitar lokasi Fulan Fehan.

“Tidak ada pertunjukan likurai di Fulan Fehan karena pembinaan kelompok atau sanggar tari ada di Dikbud Belu, bukan dinas pariwisata. Selain itu, desa yang paling dekat lokasi wisata itu Dirun dan Maudemu. Hanya tidak tahu berapa sanggar tari maupun sanggar pertunjukan yang tumbuh di kedua desa itu,” ujarnya.

Ia mengatakan yang sudah merasakan manfaat dari wisata Fulan Fehan adalah pemilik kuda yang menyewakan kudanya untuk ditungganggi pengunjung maupun penjual kopi dan makanan saji yang memanfaatkan lapak yang dibangun oleh dinas pariwisata.

“Sekali lagi maaf, saya harus katakan SDM masyarakat di sana sangat rendah. Selaku Kadis pariwisata, telah saya sampaikan ke Bupati Belu bahwa tantangan paling berat di dinas pariwisata dan stakholder lain adalah SDM yang sangat rendah. Sehingga ekspektasi bupati supaya Fulan Fehan setara dengan lokasi wisata dunia butuh waktu lama dan tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau membangun pariwisata menghabiskan banyak triliunan tanpa membenahi SDM maka akan sia-sia. Karena karakter, cara berpikir itu yang harus dirubah. Sehingga masyarakat di sana berubah dan butuh waktu lama,” pungkasnya.

Sementara Viktor Robinson, pengunjung destinasi Fulan Fehan, mengaku puas dengan fasilitas yang telah disiapkan dinas pariwisata. Saat ini sudah banyak fasilitas seperti area untuk beristirahat, spot untuk foto, gazebo atau lopo untuk disewa, kamar mandi maupun lapak jualan.

“Hanya saya sebagai pengunjung merasa heran masyarakat di sini hanya menonton dan membiarkan pengunjung wisata itu hanya untuk sekedar datang dan berfoto tanpa memberi dampak ekonomi bagi mereka,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, Likurai yang menjadi tarian khas Belu tidak tampak. Bahkan makanan yang dujual oleh penjual hanya mie siap saji sementara pangan lokal tidak ada.

“Kalau bisa masyarakat diberdayakan supaya mereka bisa mendapat keuntungan. Dinas pariwisata juga bisa menghadirkan objek wisata buatan seperti outbond dan flying fox di dekat gazebo yang disediakan. Sehingga pengunjung disuguhi berbagai pilihan dan pengunjung tentunya akan mengeluarkan uangnya untuk masyarakat setempat,” tambahnya. (bev/ol)

Leave a Comment