Bengkel APPeK Bahas Perempuan Rentan Terdampak Pandemi

Vinsen Bureni Koordinator Bengkel APPeK

Putra Bali Mula

Kelompok perempuan di Kota Kupang mengalami tiga dampak akibat Pandemi Covid-19. Pertama, perempuan rentan korban PHK dibandingkan laki-laki. Kedua, basis ekonomi informal ikut perempuan terdampak. Ketiga, implikasinya adalah pendapatan menurun sementara kebutuhan ekonomi justru naik.

Laurens P. Sairani, dosen Fisip Undana yang juga merupakan peneliti Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (APPeK) NTT menyampaikan ini dalam webinar bersama pihak Pemerintah Kota Kupang dan Provinsi NTT, Selasa (15/6). Webinar tersebut dipandu Vinsen Bureni, selaku koordinator Bengkel APPeK.

Tekanan akibat Pandemi, kata dia, membuat usaha lesu, sebab tidak ada pembeli hingga ada usaha yang tutup. Termasuk juga keluarga penyintas Covid-19 yaitu wanita mengalami tekanan psikologis. Hal ini memengaruhi dalam upaya untuk memperbaiki ekonomi selama pandemi.

Program Bansos dalam survei dan wawancara yang dilakukan tampak tidak memperhitungkan aspek kerentanan dalam distribusi. Belum lagi permasalahan administrasi yang menjadi kendala untuk mengakses bantuan.

“Akhirnya secara riil mereka adalah perempuan yang miskin dan butuh bantuan tetapi tidak mendapat bantuan karena masalah administrasi, bahkan beberapa dari mereka akses informasi terbatas terhadap Bansos,” pungkasnya.

Pendataan yang dilakukan di tingkat RT seringkali dikambing-hitamkan bila Bansos tidak didapat. Ketua RT seringkali disalahkan bukan data di pemerintah tingkat atas yang dipermasalahkan.

“Perempuan-perempuan ini, mereka sampai malu untuk cek berkali-kali,” tambah dia.

Di samping itu, lanjut dia, harus diakui kebutuhan pangan terbantu dengan adanya Bansos yang bersifat stimulan ini.

Sebagai informasi, program PKH sendiri terbagi dalam tiga kelompok yaitu pendidikan, kesehatan ibu hamil dan  untuk disabilitas. Ada juga bantuan pangan non tunai sebesar Rp15,4 miliar untuk bantuan pangan non tunai dengan target 11 ribu penerima, 5 ribu di antaranya adalah perempuan.

BST (Bantuan Sosial Tunai) di Kota Kupang untuk 10.840 orang target dan terealisasi 10.250 orang. Kendalanya adalah saat BST disalurkan penerima manfaatkan tidak berada di lokasi.

Semua persyaratan sendiri telah ditetapkan langsung dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan Sosial. Dimana ada 14 kriteria namun cukup dengan memenuhi 9 kriteria, maka bantuan dapat diterima.

“Tetapi ini sifatnya stimulan,” jelas Arbel dari Bagian Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Kota Kupang.

Sementara dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kupang juga memprogramkan pemberdayaan bagi wanita terkait pandemi.

Kegiatan pertama adalah pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan pada bulan Juli. Kedua, pemberian kebutuhan perempuan sebanyak 40 paket dengan pelatihan untuk 40 orang. Ketiga, pelatihan manajemen bagi para wanita.

Disnakertrans Kota Kupang pada 2020 juga memberikan bantuan bagi perempuan yaitu salon, menjahit, bordir dan cuci motor. Pada 2021 dianggarkan untuk otomotif dan memang belum ada peminat dari kalangan perempuan.

Sementara data korban PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tahun 2020 yang melapor didominasi laki-laki dan 41 orang adalah perempuan yang terbanyak dari PT. Barata. (Yan/ol)

Leave a Comment