Bermula dari Kapal Pinisi hingga Menjangkau Daerah Terluar

Oleh Eva Toebe (Traveler)

TAHUN 2009, spesialis bedah torax, jantung dan pembuluh darah, dr Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, FICS, SpB, SpBTKV mencetuskan idenya untuk membuat sebuah rumah sakit yang berada di atas kapal atau disebut rumah sakit apung (RSA). Ide tersebut sebenarnya diperolehnya pada saat dokter tersebut melaksanakan operasi di Pulau Kei-Maluku dimana seorang anak usia delapan tahun dibawa oleh ibunya dari Saumlaki karena mengalami usus terjepit atau hernia femoralis inkarserata.

Karena kondisi geografis dan ekonomi, serta kondisi transportasi yang saat itu masih minim, ibu dan anak tersebut harus berlayar menggunakan kapal tradisional selama tiga malam dua hari menuju Pulau Kei untuk bisa berjumpa dokter Lie. Padahal, dengan kondisi anak saat itu harus ditangani dalam waktu 6-8 jam dan bila terlambat maka dapat menyebabkan kematian pada jaringan atau nekrosis sehingga dapat mengakibatkan tidak tertolongnya nyawa anak tersebut. Akhirnya operasi pun dapat dilakukan, kondisi usus sang anak yang saat itu sudah merah tua kehitaman tetap dipertahankan dan anak tersebut dapat disembuh.

Sekembalinya di Jakarta, dokter Lie terus mengingat kejadian tersebut.

Idenya adalah untuk melakukan jemput bola atau mencari mereka yang membutuhkan pertolongan namun tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pelayanan medis yang layak. Akhirnya ide ini diwujudkannya melalui rumah sakit di atas kapal atau dikenal dengan sebutan rumah sakit apung (RSA) yang dapat berlayar ke daerah-daerah terluar, tertinggal dan terjauh untuk memberikan pelayanan medis secara gratis.

Dokter Lie akhirnya membeli sebuah kapal pinisi, sebuah kapal kayu tua yang kecil. Uang untuk membeli kapal diperoleh dari hasil penjualan rumahnya yang digunakan sebagai uang muka pembayaran, dan sisanya dicicil selama setahun.

Tiga tahun lamanya, dokter Lie menggunakan waktunya untuk mendesign, dan mengubah bagian demi bagian dari kapal kayu itu hingga akhirnya layak menjadi sebuah RSA. Dan pada tanggal 16 Maret 2013, kapal itu mulai melakukan pelayaran perdana ke Pulau Panggang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta. Di atas kapal itulah dokter Lie mulai melakukan operasi terhadap pasiennya.

Awal memberikan pelayanan medis di atas kapal sama sekali tak mudah. Seluruh biaya dari awal hingga operasional RSA berasal dari kantong pribadinya. Dia pun harus mengoperasikan RSA-nya itu seorang diri, hanya dibantu seorang perawat yang diboyong dari tempat kerjanya. Tidak ada orang yang mau membantu sehingga tidak ada yang mau diajak kerjasama karena ide tersebut dianggap tidak masuk akal.

Namun keadaan sulit itu mulai berubah ketika dokter Lie diundang pada acara Kick Andy pada tahun 2014. Dari situlah, mulailah sumbangan demi sumbangan berdatangan. Dan berkat dukungan keluarganya baik finansial, waktu dan kemampuan, termasuk korban perasaan, maka RSA tersebut mulai melakukan pelayanan medis ke daerah-daerah terluar, tertinggal dan terjauh.

Kini, RSA dengan program Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE telah berkembang dan memiliki tiga armada dalam melakukan pengobatan secara gartis maupun memberikan bantuan kepada masyarakat di daerah terluar, tertinggal dan terjauh yang mengalami bencana.

Setelah 11 tahun RSA Dokter Lie menjalani misinya, tercatat sekitar 3.291 kali melakukan operasi mayor, 5.538 operasi minor, 2.464 perawatan gigi, 58.859 pelayanan rawat jalan dan konsultasi, penyuluhan kesehatan kepada 11.856 warga, serta 2.227 tindakan USG kandungan di pulau-pulau kecil dan terpencil, mulai dari barat sampai timur Indonesia. Semua pelayanan dilakukan secara gratis.

Fasilitas yang tersedia pada RS Apung Dokter Lie itu telah sesuai standar seperti kamar bedah, laboratorium, ruang x-ray, ruang perawatan pasien lengkap dengan tempat tidur dan ruang perawatan bayi.

Sepanjang 2020 RSA Dokter Lie telah melakukan pelayanan kesehatan sebanyak 9 kali, dimulai dari Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur. Sedangkan untuk program tahun 2021 pelayanan kesehatan dimulai pada April di wilayah Mamuju, Larantuka dan Adonara di Kabupaten Flores Timur pada Mei, Pulau Semau di Kabupen Kupang di bulan Juni dan berlanjut ke Ampang, Sumbawa Besar dan Probolinggo di Jawa Timur.

Pelayanan kesehatan RSA Dokter Lie di NTT pada Juni 2021 ini merupakan yang ketiga kalinya karena sebelumnya pada April dan Mei RSA Dokter Lie telah melakukan pelayanan kesehatan di daerah Tanjung Bunga Desa Pasirwalang dan di Adonara. RSA tersebut juga mengantar bantuan untuk korban badai Seroja di Pulau Sabu.

Seperti pelayanan-pelayanan kesehatan sebelumnya, Tim doctorSHARE kali ini juga diperkuat oleh barisan sukarelawan dari berbagai kota, termasuk dari Kota Kupang. Jumlah tenaga medis sebanyak tujuh orang dokter umum, satu dokter gigi, tiga perawat dan sukarelawan non medis. Pengobatan di Pulau Semau berlokasi di Pelabuhan Semau, Hansisi telah dilakukan sejak tanggal 8 hingga 12 Juni.

Seperti yang disampaikan pada press release DoctorSHARE bahwa pelayanan kesehatan gratis RSA di Pulau Semau kali berupa pengobatan umum dan operasi minor dengan tetap mengikuti standar protokol kesehatan Covid-19.

Dengan adanya kegiatan pengobatan kepada masyarakat di Pulau Semau ini setidaknya turut membantu pemerintah memenuhi hak masyarakat akan akses layanan kesehatan dasar yang memadai di daerah-daerah pelosok di Indonesia Timur.

Leave a Comment