Berpikir Optimis, Bertindak Positif

Penulis: Epin Solanta (Alumni Sosiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

PERCAKAPAN kita hari ini baik pada ruang “sosial fisik” maupun di “dunia maya” didominasi tema seputar covid-19. Fakta ini berangkat dari situasi pandemi covid-19 di Indonesia yang masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik, meskipun berbagai kebijakan terus diproduksi. Tidak jarang, dalam aras masyarakat akar rumput, pandemi ini seakan dianggap sebagai hal yang biasa. Anggapan ini ditunjukkan dengan perilaku apatis, seperti tidak mematuhi protokol kesehatan. Tak hanya soal “protokol kesehatan”, perang argumentasi dan “nada pesimisme” terhadap pemerintah semakin membuncah. Pemerintah dituduh tidak bertanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan besar ini. Bahkan yang lebih radikal, muncul komentar di media sosial, mendesak Joko Widodo mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Resistensi masyarakat semakin menguat pasca-pemerintah mengeluarkan kebijakan PPKM (pemberlakukan pembantasan kegiatan masyarakat) Jawa-Bali. Hal ini dikarenakan efek dari kebijakan terhadap mobilitas masyarakat sangat terdampak. Salah satu yang paling terasa dan akhirnya menjadi pemicu lahirnya persoalan baru adalah perihal rumitnya urusan administrasi dalam melakukan perjalanan jarak jauh. Keharusan untuk melakukan swab antigen atau swab PCR dan menunjukkan sertifikat vaksin adalah satu dari sekian banyak alasan penolakan terhadap kebijakan baru ini. Di Kota Kupang, misalnya, tatkala pemerintah mewajibkan pelaku perjalanan jarak jauh “memiliki sertifikat vaksin”, orang lalu berbondong-bondong mencari vaksin.

Butuh Optimis

Apa yang terjadi saat ini tentu gambaran nyata dari “cara berpikir dan berperilaku” kita. Jika laju pandemi semakin meningkat, apakah kita wajib untuk menyalahkan pemerintah? Tentu tidak. Bagi penulis, terlalu “prematur” cara berpikir kita, jika persoalan serius ini dilimpahkan kepada pemerintah. Sesungguhnya kondisi ini menjadi preseden buruk dari apa yang sudah, sedang dan mungkin akan kita lakukan ke depan.

Berpikir optimis adalah langkah awal yang seharusnya “menghiasi ruang kepala” kita hari ini. Baik masyarakat pada akar rumput maupun pemerintah selaku pengambil kebijakan harus berpikir optimis bahwa pandemi ini akan segera berlalu. Tentu ini sangat sulit, karena tak sedikit di antara kita yang masih berpikir “politis dan ekonomis”. Pandemi justru dijadikan sebagai momentum untuk meraup keuntungan. Tetapi kita perlu sekali-kali dan seterusnya untuk melihat realitas di depan mata kita.

Sudah puluhan ribu sesama anak bangsa mengakhiri hidupnya secara tragis akibat pandemi ini. Jutaan sudah terpapar yang saat ini tengah berjuang, baik di rumah sakit maupun yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Para petugas kesehatan sudah mulai lelah. Begitu juga dengan petugas yang menggali kubur. Masihkah kita menganggap ini sebagai hal biasa, bahkan menjadikannya sebagai “objek politik”. Idealnya tidak sama sekali.

Tatkala fakta menyedihkan dan memilukan ini tampak di layar televisi dan juga (mungkin) di depan rumah kita sendiri, kita tetap optimis. Kita tetap yakin dengan pemerintah dan juga petugas kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam memerangi pandemi covid-19. Tetapi yang paling utama adalah kita harus optimis dengan diri kita sendiri. Penulis sendiri pernah mengalami ini. Tatkala penulis dan keluarga terpapar covid-19, kami tetap optimis akan sembuh. Kami meyakini bahwa cara berpikir optimis akan meningkatkan imunitas tubuh. Sebaliknya jika kita terus berada dalam “cengkeraman nada pesimis”, maka sulit bagi kita untuk keluar dari penderitaan besar ini.

Bertindak Positif

Berpikir optimis tidaklah cukup untuk bisa menyelesaikan persoalan besar ini. Sekurang-kurangnya memutus mata rantai penyebaran covid-19. Oleh karenanya, kita butuh sikap dan perbuatan positif. Mulailah dari diri sendiri. Contoh yang paling sederhana adalah dengan menjalankan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Kita perlu pengendalian diri secara lebih baik untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mematuhi protokol kesehatan dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam memerangi pandemi covid-19. Berempati dan dukung para tenaga medis yang berjuang keras memberikan pelayanan kesehatan. Mari jadikan pandemi ini sebagai momentum untuk meningkatkan semangat solidaritas di antara sesama kita. Patuhi protokol kesehatan.

Leave a Comment