BI NTT Ajar Mahasiswa Unwira soal Kedaulatan Rupiah

Putra Bali Mula

 

Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT kembali menggelar program BI Mengajar yang kali ini diberikan kepada mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang.

Program BI Mengajar ini dilaksanakan, Selasa (28/9), dengan tema ‘Peran BI Sebagai Bank Sentral Dalam Digitalisasi Ekonomi dan Keuangan di Indonesia’.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, menyatakan, program BI Mengajar ini rutin digelar saat ulang tahun Bank Indonesia dan HUT RI. Peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam digitalisasi keuangan dan ekonomi nasional, yakni melalui stabilitas moneter, sistem pembayaran dan stabilitas sistem keuangan.

BI mengajak mahasiswa mengenal QRIS, GPN, keuangan inklusi. Adanya QRIS, kata dia, untuk mendukung ekosistem keuangan dengan 12 juta merchant yang telah mencapai 10 juta merchant saat ini.

Ia juga menyampaikan rupiah yang harus berdaulat yaitu dengan transaksi menggunakan rupiah di wilayah Indonesia.

Rektor Unwira Kupang, Philipus Tule, juga menanggapi kegiatan itu dengan apresiasi. Ia menyebut Unwira sejak 30 Juli 2018 telah bekerja sama menyediakan BI Corner sebagai sumber belajar dengan 300 buah buku koleksi dan 1000 e-Book. BI Corner setahun kemudian, 27 September 2019, diresmikan Deputi Senior Bank Indonesia

Menurut dia, melalui kegiatan BI Mengajar ini dapat mengembangkan efektivitas belajar di tengah pandemi. Ia menyambut dan mendukung kegiatan ini agar berjalan baik.

Daniel Agus Prasetyo Deputi Kepala Perwakilan BI NTT tampil pada kesempatan pertama memberikan materi tentang QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dan GPN (Gerbang Pembayaran Nasional).

Daniel menjelaskan soal sistem pembayaran dari tunai hingga dengan non tunai atau digital. Interkoneksi dan interoperabel menjadi syarat pembayaran sistem secara digital misalnya dengan QR code atau menggunakan aplikasi dan sistem pembayaran lainnya.

QRIS juga sangat cocok sebagai alat transaksi dalam masa pandemi ini misalnya melalui OVO, GO-PAY dan mobile banking Bank NTT. QRIS juga sangat aman dalam transaksi.

“Sudah ada 60 penyelenggara bank dan non bank yang menggunakan QRIS ini,” kata dia.

Pembayaran menggunakan QR CODE, kata dia, sudah terintegrasi di aplikasi mobile banking atau mobile payment. QRIS sendiri dibangun bersama oleh BI dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang didukung penyelenggara bank dan non-bank seperti Mandiri, BNI, BRI, BCA, BSM, CIMB, BPD, Gopay, Ovo, Dana, Linkaja, Shopee, dan lain-lain.

QRIS sendiri menghubungkan dengan sumber dana yang telah familiar seperti tabungan, kartu debet, yang elektronik dan kartu kredit.

Rupiah Pemersatu Bangsa

Lexy Alexander Nggelan yang juga dari BI NTT pada kesempatan yang sama menjelaskan rupiah sebagai pemersatu bangsa dengan penggunaan uang rupiah di Indonesia untuk menjaga kedaulatan rupiah di wilayah NKRI.

“Kalau ada uang yang rusak atau robek dapat ditukar di Bank Indonesia atau kas titipan Bank Indonesia bersama bank-bank lainnya,” kata dia.

Ia juga menceritakan perjalanan uang dari awal mula pada 1946 hingga dengan saat ini yang dicetak oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Sejak awal uang yang dicetak juga dengan serinya masing-masing seperti soal budaya, tokoh nasional, hewan-hewan langka dan ikonik Indonesia atau objek wisata lainnya.

Handrianus P. Asa, narasumber lainnya BI NTT menyampaikan tentang keuangan inklusif. Menurutnya institusi keuangan berperan dalam ekonomi masyarakat terlebih setelah krisis ekonomi yang mana kelompok bawah masyarakat berpendapatan rendah sangat terdampak. Maka itu, stabilitas sistem keuangan perlu dijaga demi mendukung perbankan sebagai intermediasi dalam penghimpunan dana dan penyalurannya kepada masyarakat.

Daerah-daerah terluar juga perlu mendapatkan hak akses yang sama dan perlu ada inovasi dari perbankan untuk menjangkau daerah tak terjangkau.

Indonesia dengan perkembangan inklusi telah mencapai 76 persen dengan indikator kepemilikan rekening dan penggunaan produk layanan perbankan. Untuk akses layanan non keuangan seperti kantor atau bank di Indonesia cukup baik dibandingkan dengan Malaysia, India dan Thailand. Untuk ATM Indonesia juga cukup baik aksesnya meski penggunaannya masih jauh dibandingkan negara lainnya. (Yan/ol)

Leave a Comment