Bisnis Ternak Semester I capai Rp81,8 Miliar

Petugas Karantina Pertanmian Ende memantau pengiriman ternak dari Ende menuju beberapa daerah tujuan. Gambar diabadikan, Selasa (20/7). Foto: Son/VN
Petugas Karantina Pertanmian Ende memantau pengiriman ternak dari Ende menuju beberapa daerah tujuan. Gambar diabadikan, Selasa (20/7). Foto: Son/VN

Son Bara

Karantina Pertanian Ende, mencatat selama semester satu, bisnis hewan ternak antar daerah alami kenaikan dengan nilai transaksi mencapai Rp81,8 miliar.

“Sampai dengan pertengahan Juli 2021 ini, pengiriman hewan besar seperti sapi, kerbau, kuda dan kambing dari Pulau Flores dan Lembata mencapai 27.962 ekor dengan nilai Rp81,8 miliar,” kata Kepala Karantina Pertanian Ende, Konstan, saat dihubungi, Selasa (20/7).

Catatan itu berdasarkan pada data sistem perkarantinaan, Indonesia Quarantine Full Automation System-red (IQFAST) Karantina Pertanian Ende. Hewan ternak yang dilalulintaskan mengalami peningkatan jika dibandingkan pada periode yang sama bulan Juli 2020, Year on Year (YoY). Kenaikan mulai dari 56,7 persen untuk lalu lintas tiap jenis hewan ternak besar ke daerah lain,”

Kostan menjelaskan, jumlah ternak sapi yang dilalulintaskan mengalami peningkatan pada tahun 2021 yakni sebanyak 4.725 ekor dengan frekuensi 152 kali atau naik 56,7 persen yang pada tahun 2020 hanya 3.014 ekor dengan frekuensi 71 kali.

Kemudian kerbau dari 736 ekor dengan frekuensi 36 kali meningkat pada tahun 2021 menjadi 1.672 ekor dengan frekuensi 87 kali atau naik 127,7persen. Sementara Kuda dari 104 ekor dengan frekuensi 23 kali menjadi 360 ekor dengan frekuensi 70 kali atau naik 246,1persen. Sementara hewan kambing dari semula 10.920 ekor dengan frekuensi 155 kali menjadi 21.205 ekor dengan frekuensi 481 kali atau naik 94,1 persen.

Hewan ternak itu dikirim ke beberapa wilayah di nusantara seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Dan ia mengakui menjelang Idul Adha baik tahun 2021 dan tahun-tahun sebelumnya lalu lintas hewan ternak besar mengalami peningkatan.

“Kami melakukan pengawasan di tempat pengeluaran di seluruh wilayah Flores dan Lembata. Tindakan karantina dilakukan sebelum hewan dilalulintaskan, untuk memastikan komoditas asal sub sektor peternakan ini sehat, layak dan aman dikonsumsi oleh masyarakat,” imbuhnya.

Kostan menambahkan  pihaknya mendorong para peternak melalui kerja sama, pendampingan dan juga percepatan pelayanan tindakan karantina.
Kostan pun mengajak agar pelaku agribisnis dan investor dapat bersama-sama menggerakkan subsektor peternakan di Pulau Flores, sehingga peternakan bisa lebih maju, mandiri, dan modern.

 

 

Populasi Meningkat
Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Ardu Jelamu sebelumnya menyebutkan populasi ternak sapi yang berhasil dikembangkan para peternak sapi di daerah ini menembus satu juta ekor pada 2020.

“Populasi ternak sapi di NTT hingga tahun 2020 terus mengalami pertumbuhan yang signifikan sehingga mampu menembus 1 juta ekor,” kata Marius.

Ia mengatakan, Pemerintah NTT telah menetapkan sektor Peternakan sebagai salah satu sektor unggulan, karena memiliki kontribusi yang besar terhadap pembangunan ekonomi masyarakat.

Ia mengatakan, ternak sapi yang mencapai 1 juta ekor itu merupakan hasil usaha dilakukan peternak dan tujuh investor yang bergerak dalam usaha peternakan.

“Dengan satu juta ekor ternak sapi yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di NTT itu merupakan suatu modal ekonomi untuk mengerahkan usaha ekonomi masyarakat NTT,” kata Marius.

Ia mengatakan, meningkatnya populasi ternak sapi di NTT ini berkat kerja keras pemerintah yang terus mendorong peternak mengembangkan usaha ternak secara profesional dari sebelumnya lebih mengarah pada pola tradisional.

“Apabila sebelumnya ternak dibiarkan di padang tetapi saat ini sudah mulai pada pola peternakan yang lebih moderen dengan mengkandangkan ternak sehingga bobot ternak terus meningkat,” tegas Marius.

Marius optimistis dalam kepemimpinan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi pembangunan sektor peternakan akan bertumbuh dengan pesat karena berbagai inovasi untuk percepatan pembangunan peternakan terus dilakukan.

Marius menambahkan, pemerintah NTT juga sedang mempersiapkan pembangunan pabrik pakan ternak pertama di NTT guna mendukung pembangunan sektor peternakan. (anc/son/ari)

Leave a Comment