BNPB: Lokasi Kampung Adat Lewohala Lebih Tanggap Bencana Daripada Pemukiman Modern

 

 

 

Putra Bali Mula

Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) menilai Kampung Adat Lewohala yang sudah 400 tahun berada di Ile Lewotolok lebih paham akan situasi gunung dan potensi bencana yang dapat terjadi.

Abdul Muhari, Plt. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Resiko Bencana BNPB menilai keberadaan kampung adat ini lebih tanggap bencana daripada lokasi pemukiman modern dewasa ini.

Hal tersebut disampaikannya dalam webinar Dampak Seroja pada bangunan dan Infrastruktur di NTT Selasa (18/5).

Ia menyebut posisi kampung adat ini jauh dari bekas jalur lava dari gunung yang selama ini sudah tak diwaspadai. Banyak pemukiman yang dibangun di sekitar jalur bekas lava. Berbeda, dengan kampung adat tersebut. Artinya, kata dia, ada kearifan lokal yang dipertahankan dan pemahaman soal ini sehingga terhindar dari banjir bandang saat Seroja.

“Ada pemahaman dan kearifan lokal dari masyarakat adat selama bertahun-tahun,” kata dia.

Ia mengaku sudah melakukan wawancara langsung dengan masyarakat sekitar. Kondisi ini perlu dipahami untuk menentukan pemukiman.

Menurut dia, NTT sebagai kawasan kering sehingga tidak waspada begitu hujan dengan intensitas tinggi datang.

Sama halnya dengan longsor di Kecamatan Ile Boleng. Ada alur lahar yang memang dilupakan bertahun-tahun oleh masyarakat sekitar. Area aliran longsor atau debris flow justru dibangun jalan karena faktor historis yang dilupakan.

“Ini sebagai kawasan berisiko tinggi tapi masyarakat membangun di alur debris flow,” ujarnya.

Faktor banjir menjadi luar biasa karena susunan batu andesit yang menjadi landasan luncuran batu dan kemiringan gunung 60 derajat.

“Apa yang terjadi di Ile Boleng karena perumahan ada di jalur lahar sehingga rumah dibombardir dengan batu-batu ini dan hampir tidak ada peluang bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri,” kata dia.

Ia juga menyebut NTT pada April 1973 juga mengalami Siklon Tropis Flores, 1.653 jiwa meninggal dunia. Kejadian pada 2021 ini pun dapat menjadi pelajaran bagi NTT.

“Sehingga harusnya tidak signifikan,” ujarnya. (bev/ol)

Leave a Comment