Brigpol Vicke Lomi nyatakan Banding terhadap Rekomendasi PTDH

Brigpol Vicke Lomi (berdiri membelakangi kamera) saat mendengar putusan dari komisi etik yang merekomendasikan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat kepada dirinya, dalam sidang yang berlangsung di aula Polres Sumba Timur, Selasa (22/6). Foto:Jumal Hauteas vn.

Jumal Hauteas

 

Anggota Satuan Bimas Polres Sumba Timur, Brigpol Vicke Lomi mengajukan banding atas putusan majelis komisi kode etik profesi Polri Polres Sumba Timur yang menjatuhkan hukuman Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap dirinya dalam sidang yang berlangsung marathon di aula Polres Sumba Timur, Selasa (22/6). Vicke Lomi memiliki waktu tiga hari untuk mengajukan banding dan 14 hari untuk menyerahkan materi bandingnya kepada komisi etik.

Pernyataan banding ini disampaikan Vicke Lomi menanggapi pertanyaan Ketua Komisi Sidang etik, Kompol I Ketut Diarsa usai membacakan rekomendasi putusan PTDH ini. Dimana komisi sidang etik menilai Vicke Lomi tidak dapat dipertahankan lagi sebagai anggota Polri, karena telah mencoreng nama Polri dengan terlibat dalam rekayasa pengiriman paket Narkoba jenis shabu-shabu seberat 0,281 gram kepada Andre Antoni Karwelo.

Sidang komisi etik dengan rekomendasi PTDH ini berlangsung secara marathon, dimana sidang dimulai dari pemeriksaan saksi-saksi yang dihadirkan penuntut, kemudian diskors untuk penuntut mempersiapkan tuntutannya, lalu setelah tuntutan PTDH dibacakan dan ditanggapi pendamping terduga pelanggar, sidang kembali diskors untuk majelis komisi etik mempersiapkan putusannya.

Dimana setelah sidang kembali dibuka sekitar 45 menit kemudian, komisi etik membacakan putusan rekomendasi PTDH nya yang dibacakan ketua majelis komisi etik, Kompol I Ketut Diarsa setelah bermusyawarah bersama wakil ketua komisi etik, Kompol Abdullah Paoh dan anggota komisi etik, AKP Ketut Suardana. Dimana dalam sidang ini duduk sebagai Penuntut I, Aipda Bernabas O Sandi dan penuntut II Bripka Erick D. L. Come. Sedangkan duduk sebagai pendamping terduga pelanggar etik, I Nengah Darmayasa.

Rekomendasi PTDH ini diambil komisi etik karena menilai terduga pelanggar, Brigpol Vicke Lomi telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 12 ayat 1 huruf a peraturan pemerintah nomor 1 tahun 2003 tentang pemberhentian anggota Polri, sebagaimana diuraikan penuntut dalam sidang yang terbuka untuk umum, dan menolak keberatan yang diajukan oleh pendamping terduga pelanggar etik.

Rekomendasi PTDH ini sendiri juga merujuk pada sidang pidana umum yang berlangsung di Pengadilan Negeri Waingapu Maret 2021 lalu yang memvonis Brigpol Vicke Lomi dengan pidana penjara delapan tahun, ditambah denda sebesar Rp 1 Miliar dengan ketentuan jika tidak dibayarkan diganti dengan pidana kurungan dua bulan penjara. Dimana putusan ini sendiri sudah berkekuatan hukum tetap.

Sidang komisi kode etik profesi Polri Polres Sumba Timur ini diawali dengan menghadirkan saksi-saksi yakni Andre Karwelo yang menjadi tujuan pengiriman paket shabu-shabu yang dipesan Vicke Lomi, dan juga dua teman Vicke Lomi yang diminta bantuannya membeli shabu-shabu dari Jakarta yakni Yoseph Moktarius alias Joice dan Irfan Zulkifli alias Irfan.

Dimana dalam kesaksiannya, Andre Karwelo menjelaskan awal kasus ini terjadi saat dirinya mendapatkan pengiriman paket dengan nama pengirim Stevani yang tidak dikenalnya. Andre yang sedang berada di dalam toko sempat meminta karyawan tokonya menerima paket tersebut karena dirinya sedang makan, namun kurir JNT yang mengantar paket tersebut meminta agar Andre menerima sendiri paket tersebut.

“Saya tidak sedang menanti kiriman paket, sehingga saya sempat bingung. Tapi kemudian karena diminta ambil sendiri, jadi saya keluar terima dan saat itulah saya ditangkap oleh polisi dari Polda NTT,” jelasnya.

Sementara itu Yoseph Moktarius alias Joice dan Irfan Zulkifli dalam keterangan mereka membenarkan kalau paket shabu-shabu yang dikirim ke alamat Andre Antoni Karwelo tersebut merupakan paket yang diminta oleh Vicke Lomi, termasuk dengan alamatnya dengan alasan pengembangan kasus dan sudah di back up oleh anggota Narkoba Polda NTT.

“Kami awalnya tidak mau, tetapi karena saudara Vicke meyakinkan dan menjamin bahwa ini di back up anggota Polda NTT, sehingga kami beli dan kirim ke alamat yang di kasih Vicke,” jelas Joice yang dibenarkan Irfan.

Pada kesempatan tersebut, tim penuntut kode etik juga membacakan keterangan dua anggota Polda NTT yang menangani kasus ini karena tidak dapat hadir dalam persidangan. Dimana pada pokoknya keduanya mengaku setelah mengawal paket yang dikirim dari Jakarta ke Waingapu melalui Kupang dan menangkap Andre Karwelo, tidak diperoleh bukti-bukti kepemilikan paket tersebut dan Andre Karwelo sendiri setelah dilakukan pemeriksaan urin maupun rambut, hasilnya negatif.

Karena itu untuk memastikan kepemilikan paket shabu-shabu tersebut, penyidik Narkoba Polda NTT meminta keterangan dari Vicke Lomi dari mana informasi bahwa Andre Karwelo sebagai pemesan paket tersebut namun Vicke berbelit-belit sehingga melalui JNT anggota Polda NTT menelusuri asal paket tersebut dan akhirnya menangkap Joice dan Irfan di Jakarta sesuai dengan petunjuk dari rekaman CCTV pada kantor JNT Kebayoran Jakarta.

“Setelah menangkap Joice dan Irfan, barulah diketahui bahwa semua proses hingga pengiriman paket shabu-shabu tersebut dilakukan atas petunjuk dari Vicke Lomi,” urai penuntut saat membacakan berita acara pemeriksaan anggota Polda NTT.

Pantauan VN, Selasa (22/6) sidang komisi etik profesi Polri Polres Sumba Timur ini juga dihadiri istri bersama dua anak Vicke Lomi dan juga puluhan anggota Polri Res Sumba Timur. Vicke Lomi, bersama Joice dan Irfan sendiri hadir dalam persidangan ini dalam kawalan Polsuspas Lapas Kelas II A Waingapu.

Brigpol Vicke Lomi sendiri tampak tegar menghadapi rekomendasi komisi etik dengan PTDH ini, namun istrinya tidak sanggup menahan rasa harunya sehingga langsung menunduk dan meneteskan air matanya saat ketua komisi etik, Kompol I Ketut Diarsa membacakan rekomendasi PTDH. Bahkan usai keluar ruang sidang, istrinya langsung berteriak histeris saat memeluk Vicke Lomi namun kemudian langsung ditenangkan. (Yan/ol)

Leave a Comment