Catatan Panjang OJK Untuk Bank NTT

Putra Bali Mula

Otorisas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan NTT memberikan catatan panjang bagi Bank NTT.

Catatan ini disampaikannya saat perayaan hari ulang tahun Bank NTT ke 59 di Halaman Kantor Pusat Bank NTT, Sabtu (17/7).

Robert Sianipar, Kepala OJK NTT terlebih dahulu memaparkan kondisi pertumbuhan sektor perbankan nasional dan seluruh NTT yang tumbuh positif tahun ke tahun. Ia memaparkan kondisi ini sebelum memberikan catatan spesifik untuk Bank NTT.

Ada 23 bank umum dan 12 BPR (Bank Perkreditan Rakyat) di NTT dengan total aset yang meningkat hingga 5,02 persen atau Rp. 43 triliun total aset perbankan di NTT. Jumlah ini lebih rendah dari nasional yaitu 7,65 persen.

Kredit perbankan di NTT sendiri tumbuh 8,55 persen hingga Mei sementara pertumbuhan skala nasional minus 1 persen. Sementara himpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di NTT mencapai 5,07 persen peningkatan dan tumbuh paling besar secara nasional. Secara kuantitatif patut diapresiasi rasio NPL di NTT hingga Mei 2021 mencapai 2,08 persen yang masih lebih rendah 3,44 persen dari nasional.

“Tentunya ini melalui berbagai relaksasi COVID-19 dan khusus untuk NTT OJK menerbitkan Peraturan OJK relaksasi Badai Seroja,” kata dia.

Sementara lebih spesifik untuk Bank NTT sendiri kinerjanya dapat diapresiasi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bank NTT secara kredit tumbuh mencapai 8,9 persen sedangkan nasional sendiri minus pertumbuhan.

Terkait penghimpunan dana, Bank NTT tumbuh 4,9 persen sedangkan perbankan secara nasional 10,6 persen dan NTT 5,07 persen. Kemudian nilai rasio-rasio yang penting seperti NPL (non performing loan) atau kredit macet sudah menunjukkan perbaikan. NPL Bank NTT hingga Juni ini sekitar 2,5 persen.

Namun, apabila Bank NTT dibandingkan secara aset, DPK dan NPL termasuk juga kemampuan perolehan labanya hanya ada di rangking 16 dan 17 dari 21 BPD se-Indonesia. Kemampuan Bank NTT menghasilkan laba hanya 1,49 persen sementara rata-rata BPD di Indonesia kemampuannya 2,19 persen.

“Tentunya ini perlu ditingkatkan Bank NTT melalui program-programnya seperti produk baru,” tukasnya.

Tetapi rasio efisiensi Bank NTT unggul lebih tinggi dari rata-rata BPD se-Indonesia yang mencapai 77,8 persen. Bank NTT meraih 88 persen rasio efisiensi.

“Angka pencapaian positif itu jangan membuat direksi Bank NTT berpuas diri tapi melihat tantangan ke depan,” Robert mengingatkan.

OJK sendiri mempunyai roadmap hingga 2025 untuk memajukan perbankan. Ada beberapa kriteria. Pertama, bank yang kuat atau resilient dalam perubahan-perubahan dan tentu dengan kecukupan modal. Kedua, daya saing atau mental kompetitif bank dengan layanan yang dapat dilakukan dimana saja sehingga semakin sedikit nasabah yang datang ke bank karena semua instan dengan teknologi. Ketiga, perbankan harus berkontribusi pada ekonomi atau berkontribusi terhadap daerah.

“Bank NTT perlu meningkatkan layanan bukan hanya gedung kantor layanan yang baik tetapi memudahkan masyarakat,” kata dia.

Empat hal yang menjadi catatan lainnya adalah pertama permodalan Bank NTT. Ini menjadi penting untuk ekspansi usaha dan pemerintah daerah tidak perlu melakukan peminjaman pendanaan ke pihak luar kalau Bank NTT mampu membiayai kebutuhan pembangunan di daerah.

Kedua, SDM Bank NTT bukan lagi kuantitatif atau banyaknya personil tapi kualitasnya yang memadai. Contohnya, untuk kredit infrastruktur dan konstruksi butuh analis yang paham apalagi pariwisata dijadikan prime mover pembangunan NTT.

Peluang pasar di NTT, kata dia masih banyak yang potensial bisa digarap oleh Bank NTT. Kredit infrastruktur dan konstruksi ini perlu mendapatkan SDM berkualitas. Menurutnya, NPL naik dikarenakan kredit konstruksi yang tidak dikelola dengan ahlinya. Jadi, bukan saja SDM yang ahli melayani ASN atau kredit konsumsi yang resiko kredit sebenarnya lebih rendah.

Ia juga menyebut perbankan saat ini terbatas dalam menggarap kredit modal kerja dan investasi sehingga ini menjabat peluang bagi Bank NTT.

Ketiga adalah teknologi informasi yang digunakan juga memiliki resiko sangat besar operasionalnya sehingga perlu diidentifikasi resiko digitalisasi termasuk dalam sistem Bank NTT yang baru diluncurkan.

“Supaya tidak ada kerugian,” ungkapnya.

Keempat, terkait tata kelola manajemen dan struktur masih harus dilengkapi tapi yang penting adalah good process seperti transparan, akuntabel, responsible, dan independent.

Leave a Comment