Catatan Perjalanan Gubernur VBL (Komitmen Bangun NTT)

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan rombongan disambut secara adat saat tiba di Lembor.

GUBERNUR NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) sepekan terakhir tepatnya 20-26 Mei 2021 melakukan kunjungan kerja dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat hingga Ende, Kabupaten Ende.

Kunjungan kerja tersebut bukan pertama kali dilakukan orang nomor satu NTT. Sejak awal memimpin NTT, Gubernur Viktor sudah dikenal turun ke seluruh desa. Hingga saat ini ia sudah mengelilingi seluruh pelosok NTT.

Bukan tanpa tujuan, kunjungan Gubernur Viktor ke pelosok bumi Flobamora ini untuk memastikan dan mendorong pembangunan di kabupaten/kota agar berjalan baik demi NTT Bangkit menuju Sejahtera.

Dari Labuan Bajo, Gubernur yang dikenal tegas dan responsif itu menghadiri kegiatan Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 yang diselenggarakan di pelataran Hotel Inaya Mbay. Ratusan tamu dari berbagai provinsi turut menghadiri.

Dalam sambutannya Gubernur Viktor menyatakan komitmen membangun ekonomi Indonesia khususnya NTT. Ia yakin sektor pariwisata merupakan sektor yang berada di garda depan pembangunan ekonomi daerah.

Menurutnya, NTT memiliki wisata alam dan budaya yang sangat indah di dunia. Keindahan alam di NTT bukan hanya Komodo, tetapi ada sejuta destinasi wisata alam yang sangat indah.

Gubernur meminta Kapolda dan Danrem untuk menindak tegas setiap oknum yang ingin merusak keindahan alam, khususnya keindahan alam bawah laut. Baginya, keindahan alam NTT adalah lukisan ilahi yang harus dijaga dan dirawat.

“Jika keindahan adalah lukisan ilahi maka tidak boleh ada satu pihak pun yang merusak. Karena, keindahan alam di Indonesia khusunya di NTT sangat bagus,” Tegas Gubernur dalam sambutannya pada Malam Puncak API Awards 2020 di Labuan Bajo, Kamis (20/5).

Malam itu ia bangga lantaran NTT terpilih sebagai juara umum API 2020. Gubernur memang benar-benar mengagumi keindahan alam daerah ini. Keberhasilan NTT sebagai juara umum API 2020 memberikan angin segar bagi pertumbuhan pariwisata. Gubernur optimistis di tengah pandemi covid-19, ekonomi NTT tetap bangkit akibat dukungan dari sektor pariwisata.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (bertopi putih) meninjau aktivitas mesin incinerator di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo. Foto: Kekson vn

Bangun Sektor Pertanian

Sekitar pukul 09.00 WITA pada Jumat (21/5), rombongan Gubernur yang terdiri dari Staf Khusus, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Bupati Manggarai Barat Editasius Endy dan jajaran forkopimda bertolak dari Ayana Resort and Resto menuju kawasan hutan di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo untuk memantau aktivitas mesin incinerator sumbangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Di sana Gubernur dipandu Kepala Dinas LHK NTT, Ondy Christian Siagian memantau aktivitas mesin pembakar limbah bahan beracun berbahaya (B3) yang akan dikelola Pemprov NTT. Gubernur memberikan masukan dan arahan untuk pengembangan kawasan hutan berbasis masyarakat agar pemberdayaan ekonomi masyarakat berjalan baik.

Gubernur sempat menanam pohon mahoni dan akan menjadi kenangan bahwa ia pernah ada di lokasi ini. Ia berharap dengan hadirnya mesin tersebut maka masalah limbah B3 di Labuan Bajo dapat teratasi dengan baik sehingga wisatawan yang berkunjung nanti tidak perlu khawatir lagi.

Kurang lebih 30 menit Gubernur memantau mesin yang dibangun dengan APBN sebesar Rp 7 miliar lebih. Kemudian, Gubernur bersama rombongan bertolak menuju kawasan pertanian di Lembor.
Iring-iringan mobil rombongan menjadi tontonan menarik warga. Warga berbaris di halaman rumah masing-masing maupun di pinggir jalan untuk menyaksikan ratusan mobil berkecepatan tinggi yang melintas.

Jalan yang terjal dan berkelok membuat iring-iringan rombongan Gubernur harus ekstra hati-hati. Setelah dua jam perjalanan, rombongan tiba di sebuah hamparan sawah yang luasnya mencapai ribuan hektare. Ini lah tempat yang disebut Lembor, daerah persawahan terbesar di Manggarai Raya.

Gubernur dan rombongan disambut masyarakat setempat dengan acara adat yang disebut “kepok”. Usai disambut, Gubernur melakukan peninjauan di gudang Balai Benih Utama Padi Lembor.
Gubernur meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (PKP) NTT, dan Dinas Pertanian Manggarai Barat untuk melakukan sebuah desain agar meningkatkan produktivitas panen padi di Lembor.

Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat, Lorensius Halu dalam penjelasannya di depan Gubernur NTT mengatakan, produktivitas Panen padi di Lembor oleh petani setiap musim panen rata-rata 4-5 ton per hektare.

Mendengar penjelasan tersebut, Gubernur murka. Ia minta supaya Dinas Pertanian NTT berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Manggarai Barat melakukan sebuah desain program penanaman, perawatan hingga panen padi agar meningkatkan produktivitas panen.
Menurut Gubernur, kawasan pertanian di Lembor memiliki lahan yang sangat bagus sehingga hasil panen tidak hanya 3-5 ton per hektare, tetapi minimal 7-8 ton per hektare.

“Coba didesain sebuah program tanam padi yang baik sehingga nanti panen satu hektare bisa sampai 7 ton. Kalau 4 ton per hektar itu kita tidak kerja, sehingga harus ada intervensi terhadap petani agar per hektar bisa capai 7-8 ton karena tanah dan irigasi di Lembor bagus,” katanya.

Ia meminta Dinas Pertanian identifikasi kendala yang dihadapi masyarakat serta melakukan intervensi agar panen nanti hasilnya lebih baik.

“Lembor, Mbay, Sumba Tengah, Oesao dan Bena ini menjadi lumbung padi kita sehingga tidak perlu beli beras dari luar lagi. Coba desain sehingga kita bisa panen 7-8 ton per hektare,” pintanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lucky Frederick Koli menuturkan, luas lahan sawah di Lembor 3.500 hektare. Ia siap menindaklanjuti permintaan Gubernur untuk meningkatkan produktivitas panen padi.

Gubernur mendeadline Dinas Pertanian agar mewujudkan permintaannya sehingga nanti pada musim panen Bulan Agustus ia datang untuk melakukan panen raya.

Kepala UPTD Perbenihan Provinsi NTT, Dewi Manek mengaku menyediakan 15 ton benih padi dengan dua jenis varietas yaitu varietas Impari 43 dan Impari 42.

Kehadiran Balai Perbenihan ini sangat bermanfaat bagi petani karena bisa memperoleh benih yang bermutu dan bersertifikat.

“Tugas pokok kami adalah menyediakan benih untuk kebutuhan penangkar. Jadi tidak langsung ke petani, tetapi benih ini ke penangkar dulu baru diteruskan ke petani,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran Balai Perbenihan untuk mendukung program pemerintah yang telah menetapkan Labuan Bajo sebagai wisata premium melalui penyediaan kebutuhan pangan. (kekson salukh/bersambung)

Leave a Comment