Covid-19 dan Pengaruh Kesadaran Masyarakat (Pendekatan Konsep Kritisisme Kant)

Ilustrasi

 

Oleh Fransiskus Aryanto Narang
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira-Kupang)

 

PADA tanggal 21 Juni 2021, Narasi TV mengunggah kembali sebuah video di akun instagramnya. Video ini sebenarnya telah diunggah pada Januari lalu, yang berisikan pesan tentang pandemi covid 19. Dalam video berdurasi 40 detik itu, terdapat rentetan kata-kata berikut: “Harusnya kita paham angka positif yang terus naik adalah peringatan untuk tetap waspada. Harusnya kita paham, ini bukan soal masker yang nggak nyaman, tapi tentang menjaga keselamatan. Harusnya kita paham, daya tahan tubuh tiap orang beda. Ingat! Enggak semua orang sekuat kamu. Harusnya kita paham, sekarang bukan waktunya buat takut kehilangan tongkrongan. Harusnya kita paham, sekarang bukan saatnya kita foto-foto berdekatan.
Harusnya kita paham, tetap #dirumahaja adalah sebuah kemewahan. Harusnya kita paham, ucapan ‘stay safe’ itu bukan sok-sokan, tapi untuk saling mendoakan. Harusnya kita paham, vaksin adalah harapan. Harusnya kita paham pandemi ini belum usai. Kesadaran adalah hal utama sehingga selalu ada penekanan ‘Harusnya kita paham’.”

Dalam ranah kosmologi spekulatif, kita akan menemukan beberapa tahapan proses untuk memahami kosmos. Berawal dari rasa ingin tahu, orang mencari sebab segala sesuatu. Kekaguman memandang fenomena alam dan berbagai hubungan timbal balik di dalamnya memperbesar daya jelajah otak manusia. Namun karena bersifat apriori, konsep ini dikritik oleh Kant, bahwa harus ada sistematika empiris, bukan hanya melalui akal semata. Ada sebuah istilah yang menggambarkan transisi dari pemahaman mistis menuju pemahaman yang rasional, yaitu demitologisasi. Hal ini secara sederhana pun muncul dalam kehidupan saat ini, misalnya ketika masih kecil orangtua sering melarang anaknya menggunting kuku di malam hari karena akan mengundang makhluk gaib. Padahal yang sebenarnya adalah untuk mencegah anaknya melukai diri sendiri karena redup cahaya lampu di malam hari. Tetapi karena ketakutan dan kemampuan menganalisa yang belum cukup, hal itu diterima saja dan menjadi pembenaran. Hal ini akan menjadi mirip jika dibandingkan dengan konteks Indonesia, dalam tahap awal penyebaran covid 19 hingga saat ini.

Dalam realitas, spekulasi dapat menjadi sumber masalah yang serius. Sebab apa yang ditawarkan berada dalam kondisi tidak pasti. Namun karena ketakutan dan juga sikap kurang kritis seringkali membuat orang percaya tanpa menyelidiki.
Jika menengok kembali pada tahap awal munculnya wabah covid 19 kita akan menemukan berbagai spekulasi yang menarik untuk dibahas lagi. Sebelum wabah ini masuk ke Indonesia, ada anggapan bahwa wilayah Indonesia kebal covid. Sebab berada di daerah tropis yang suhunya tinggi, sehingga virus korona tak akan menyambangi Indonesia. Pada tanggal 2 Maret 2020 kasus pertama muncul di Indonesia. Setelah kasus itu banyak kasus lain mulai bermunculan, bahkan meningkat pesat hingga keputusan untuk lockdown dikeluarkan dan hingga saat ini belum selesai. Lantas di mana validitas argumen suhu daerah tropis menyelamatkan Indonesia dari covid?

Protokol kesehatan yang begitu ketat seringkali memicu munculnya spekulasi terkait covid 19. Seringkali dijumpai bahwa orang menganggap pandemi corona sebagai hoax yang diciptakan para elit berdasarkan konspirasi. Sehingga tongkrongan pun kembali penuh. Ada pula argumen spekulasi yang muncul dari ketakutan, seperti mempercayai minyak wijen dapat mencegah dan menyembuhkan covid sehingga dioles ke seluruh tubuh, atau khasiat bawang putih yang juga dapat menyembuhkan covid atau anak-anak yang kebal terhadap covid, namun nyatanya ada juga kasus positif yang menimpa anak-anak. Maka dapat dikatakan bahwa situasi yang berubah drastis dengan kemunculan corona ini, membuat sebagian besar orang merasa “terpenjara” dan karena itu berusaha untuk keluar dari kungkungan tersebut. Persoalannya adalah ketika orang hanya bersikap idealis dan tidak adaptif serta kritis. Sehingga banyak orang terjebak pada posisi percaya apa yang ingin dipercaya. Artinya percaya dilakukan sebagai pembenaran subjektif demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Perihal permasalahan spekulatif tersebut, kant hadir dengan Kritisismenya. Jadi ketika Thales memberi gagasan bahwa arkhe (prinsip segala sesuatu) adalah air, maupun Anaximandros memberi penjelasan bahwa arkhe adalah sesuatu yang tak terbatas (to apeiron), memang ada pergeseran dari tahap konsep mistis menuju perenungan (kontemplatif) namun tetap saja spekulasi susah diverifikasi. Maka masalah serupa ditemukan pula dalam kesadaran orang terkait pandemi covid 19, banyak spekulasi mencuat tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Masih banyak hal yang dapat menjadi referensi tindakan dan pemikiran spekulatif masyarakat. Misalnya di beberapa tempat yang baru saja memulai pembelajaran online akibat dampak covid 19, pelajar seringkali berdalih bahwa transisi sistem belajar dari tatap muka ke online menjadi hal utama turunnya nilai dan pemahaman mereka akan materi yang diberikan. Akan tetapi, jika ditelusuri, hal tersebut hanyalah spekulasi untuk membenarkan kurangnya usaha dari dalam diri.

Spekulasi dapat membawa orang pada kesalahan persepsi. Sehingga kekeliruan pun terjadi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan (ignorantia) dan ketidaksadaran bahwa sebenarnya diri sendiri sedang berada pada posisi tidak tahu kalau dia sendiri tidak tahu. Keadaan tersebut membuat orang membenarkan apa yang didapat tanpa protes. Seharusnya informasi diteliti sebelum dipakai sebagai acuan. Maka kesadaran untuk bersikap kritis sangat diperlukan, agar dampaknya pun baik.

Mengapa spekulasi selama penyebaran covid 19 harus dihentikan? Pertanyaan ini tentunya sudah dijawab dalam rentetan penjelasan sebelumnya. Namun afirmasi perlu dilakukan agar kesadaran tak terlewatkan. Caption video yang diunggah oleh akun Instagram Narasi TV secara implisit fenomena tersebut melalui perilaku sosial masyarakat. Berikut keterangan video yang diunggah tersebut: “Kami mengunggah video ini pada januari lalu. Enam bulan berselang, ternyata video ini masih relevan. Hari ini, kami unggah kembali sebagai pengingat bahwa kita masih ada di situasi yang sama. Situasi yang belum aman dan masih harus saling jaga.” Spekulasi untuk pembenaran adalah kesalahan, boleh jenuh dengan prokes di masa pandemi tetapi tak boleh mengambil tindakan yang merugikan diri. Errare humanum est (Kekeliruan itu manusiawi) tetapi manusia punya potensi untuk membenahi diri. Pahamilah situasi yang sedang terjadi. Sebagaimana tertera dalam unggahan video Narasi TV, harusnya kita paham pandemi belum usai. Salam sehat.

Leave a Comment