De Oranje di Jalur Semifinal

Skuad Oranje Belanda di bawah pelatih Frank De Boer berisikan pemain senior dan yunior yang ternyata sangat menjanjikan. Inilah selebrasi pemain Belanda usai menjebol gawang Austria di Johan Cruyff Arena Amsterdam, Jumat (18/6) lalu. Foto: AP/Peter Dejong
Skuad Oranje Belanda di bawah pelatih Frank De Boer berisikan pemain senior dan yunior yang ternyata sangat menjanjikan. Inilah selebrasi pemain Belanda usai menjebol gawang Austria di Johan Cruyff Arena Amsterdam, Jumat (18/6) lalu. Foto: AP/Peter Dejong

Pagelaran Piala Eropa (EURO) 2020 mulai memasuki Babak 16 Besar atau knock out (gugur). Timnas Italia, Belgia, dan Belanda tampil sebagai tim yang lolos ke fase Knock out dengan nilai sempurna yakni menang dalam tiga laga penyisihan grup masing-masing.

Bicara performa ketiga “Tim Sempurna” di fase Grup, tentu Italia lebih hebat. Gli Azzurri — julukan Italia — tak pernah kebobolan (clean sheet). De Rode Duivels Belgia kebobolan satu gol Denmark (Yussuf Poulsen), sedangkan Oranje Belanda kebobolan dua gol pemain Ukraina (Yarmolenko dan Yaremchuk).

Satu hal yang cukup menarik adalah, andai ketiganya lolos dari babak 16 besar, maka Italia sudah harus berhadapan dengan Belgia di babak perempat final. Tentu laga ini bakal sangat menarik!

Italia sebagai tim dengan kualitas pertahanan yang tak tertandingi, diprediksi akan mampu mengalahkan Austria di babak 16 Besar. Begitu pula dengan Belgia yang masih menunggu peringkat 3 Grup A/D/E/F.
Berbeda dengan Italia dan Belgia, Pasukan Frans De Boer, memiliki jalur menuju Semifinal lebih ringan.

Jika lolos dari hadangan peringkat 3 Grup D/E/F di babak 16 Besar, maka Belanda akan bertemu dengan pemenang antara Wales kontra Denmark di babak perempat final untuk memperebutkan tiket Semifinal.

Tak sampai di situ, Belanda pun punya peluang menuju babak final dengan catatan mampu mengalahkan tim-tim unggulan yang masuk semifinal. Bisa Inggris, Prancis, Jerman, Portugal, Swedia, atau bahkan Spanyol.

 

Keraguan De Boer
Para analis bola Eropa memberi penilaian bahwa jika dibandingkan dengan dua tim dengan pertahanan yang lebih baik (Italia dan Belgia), Belanda lebih punya potensi menuju babak final dan juara.

Georginio Wijnaldum dkk dinilai mampu beradaptasi cepat untuk memperbaiki kesalahan di lini belakang pasca kebobolan dua gol Ukraina. Hal ini tentu menjadi modal menghadapi gempuran tim favorit lain di fase knockout.

Di atas kertas, Belanda memiliki skuad mumpuni. De Oranje memadukan para pemain senior macam Daley Blind (78 caps) dan Georginio Wijnaldum (75), dengan talenta-talenta baru.

De Boer pun memanggil duo Ajax yang masih berusia 19 tahun, Jurrien Timber dan Ryan Gravenberch dan wWinger PSV Eindhoven, Cody Gakpo, Wout Weghorst, Owen Wijndal, dan Donyell Malen.

Talenta generasi baru Belanda diwakili oleh De Ligt dan Frenkie de Jong yang terus tampil impresif sejak membawa Ajax ke semifinal Liga Champions 2018/19. Kendati masih 21 tahun, De Ligt telah menjadi sosok tak tergantikan di lini belakang Juventus. Sedangkan De Jong, menjadi andalan Ronald Koeman di lini tengah Barcelona.

Sayangnya, Frank De Boer hanya menargetkan lolos ke semifinal. “Mengakhiri turnamen sebagai empat tim terbaik adalah pencapaian setelah absen di Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018,” ujar De Boer.

“Sejujurnya, saya tidak menghitung kami sebagai salah satu favorit juara. Saya pikir Perancis, Belgia, dan Spanyol adalah favoritnya. Lalu ada Jerman, Inggris, Italia, dan Portugal yang juga dapat mengalahkan siapa pun,” pungkasnya. (paa/pol/R-2)

Leave a Comment