Di Flores, Dua Orang Meninggal karena Rabies

Yunus Atabara

Di tengah situasi yang mencekam akibat pandemi Covid-19 dengan angka positif yang terus meningkat serta merenggut nyawa, kasus rabies kembali makan korban.

Dokter Asep Purnama kepada VN Senin (5/7) mengatakan rabies kembali makan korban di Flores. Dua orang meninggal dunia yakni seorang wanita berusia 34 tahun di Nagekeo dan seorang bocah perempuan berusia 8 tahun di Ende meninggal dunia Sabtu (3/7) lalu.

“Saya sudah ingatkan sebelumnya. Ternyata saya dikontak teman sejawat yang ada di Nagekeo dan Ende bahwa di hari yang sama ada dua korban meninggal dunia akibat rabies di Flores,” kata dokter Asep.

Dokter Asep menjelaskan, pada tanggal 2 Juli, Dinas Kesehatan Nagekeo melakukan konsultasi terkait seorang ibu rumah tangga berusia 34 tahun yang gelisah, takut air (hydrophobia) dan takut angin (aerophobia).

Wanita berusia 34 tahun itu sebelumnya digigit anjing yang diduga kuat rabies. Setelah korban digigit anjing, ia tidak melakukan pencegahan paska paparan (PPP) seperti mencuci luka dengan sabun dan air mengalir, pemberian vaksin anti rabies (VAR) dan atau Serum Anti Rabies (SAR).

Pada tanggal 3 Juli, ia kembali mendapat telpon dari teman sejawat dokter yang bertugas di Ende menanyakan penanganan seorang bocah 8 tahun yang sedang dirawat. Anak itu dikeluhkan takut air dan takut angin. Satu bulan sebelumnya, anak itu digigit anjing dan tidak mendapatkan Pencegahan Paska Paparan (PPP).

“Kepada teman dari Dinas Kesehatan Nagekeo dan dari Rumah Sakit di Ende menyampaikan, bahwa Case Fatality Rate (CFR) rabies adalah 100 persen,” kata dokter Asep.

Menurut dokter senior pada RS TC Hillers Maumere itu, apabila seseorang memiliki gejala rabies yang khas seperti hydrophobia dan aerophobia, maka angka kematiannya 100 persen karena tidak akan tertolong.

“Penanganan hanya secara symptomatis, supportive dan palliative,” kata dokter Asep.

Oleh karena itu kepada seluruh masyarakat di tengah pandemi Covid 19, diminta tetap waspada dengan rabies. Hal itu agar peristiwa yang menimpa seorang ibu berusia 34 tahun di Nagekeo tidak terjadi lagi.

Rabies belum ada obatnya. Tapi rabies bisa dicegah dengan Pencegahan Paska Paparan (PPP) dan sudah terbukti. Dimana kasus rabies yang mendapatkan PPP dengan cepat dan tepat, bisa diselamatkan.

Mata rantai penyebaran rabies bisa dihentikan dengan vaksinasi pada anjing, kucing dan kera (Hewan Penular Rabies) HPR. Rabies mematikan, tetapi bisa dicegah dengan mencuci luka dan vaksinasi terhadap korban gigitan HPR.

Rabies memang menular, tapi bisa dihentikan penularannya dengan vaksinasi pada anjing (HPR). Vaksinasi serentak dengan cakupan di atas 70%, maka akan terbentuk herd immunity dan menghentikan penularannya.(bev/ol)

Leave a Comment