Diamkan Kasus Kematian Putu Wisang, Keluarga Sesalkan Kinerja Penyidik

Andrianus Magnus Kobesi, Kuasa Hukum Keluarga Almarhumah Putu Wisang.

Gusty Amsikan

 

Keluarga Almarhumah Putu Wisang mendesak Polres Timor Tengah Utara (TTU), Provinai NTT agar segera menuntaskan kasus kematian Almarhumah Putu Wisang.

Hal tersebut disampaikan Kuasa Hukum Keluarga Almarhumah Putu Wisang, Adrianus Magnus Kobesi, kepada media ini, Rabu (14/7) di Kefamenanu.

Kobesi mengatakan dalam kasus kematian Almarhumah Putu Wisang, pihak keluarga telah meminta proses autopsi terhadap jasad Almarhumah dan hasil pemeriksaan laboratorium forensik terhadap sampel hasil autopsi tersebut telah dikirim kembali ke Polres TTU. Sayangnya, hasil autopsi tersebut dinyatakan ‘tidak dapat digunakan’ tanpa ada penjelasan apapun kepada pihak keluarga. Sebagai kuasa hukum keluarga Almarhumah, pihaknya telah meminta Polres TTU untuk memanggil dan memeriksa kembali dokter forensik yang melakukan autopsi terhadap jasad Almarhumah Putu Wisang.

Menurut Kobesi, pemeriksaan ulang tersebut dilakukan dengan maksud memperjelas maksud pernyataan ‘tidak dapat dipergunakan’ itu. Pasalnya, proses autopsi dan pengambilan sampel jasad Almarhumah Putu Wisang pada saat itu berjalan dengan sangat baik. Namun menjadi pertanyaan besar bagi keluarga maupun kuasa hukum jika kemudian hasil yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium itu menjadi tidak dapat dipergunakan.

“Ini pertanyaan besar bagi kami sebagai kuasa hukum. Kita sudah desak berulang kali kalau boleh panggil dokter forensik yang melakukan autopsi. Tapi, Polres TTU belum memanggil dokter yang bersangkutan untuk diperiksa. Jadi, penanganan kasus kematian Almarhumah Putu Wisang tidak berjalan. Kita ingin desak Polres TTU untuk mengusut tuntas kasus kematian Almarhumah Putu. Ini juga kasus kematian misterius yang masih menjadi utang Polres TTU dan sedang dinanti oleh publik,” ungkapnya.

Kobesi menambahkan kondisi tersebut sangat mengecewakan keluarga maupun kuasa hukum. Untuk itu, pemeriksaan ulang terhadap dokter forensik harus segera dilakukan guna menemukan titik terang dalam penanganan kasus ini. Keterangan dokter forensik juga akan memberikan kepastian secara medis terkait hasil autopsi.

“Sebagai pihak keluarga dan kuasa hukum, kita sangat kecewa. Proses autopsi berjalan dengan sangat baik, tapi hasil autopsinya mengecewakan karena tidak dapat dipergunakan tanpa ada penjelasan lanjutan. Sehingga, menurut saya dokter forensik harus diperiksa sebagai saksi ahli. Kemudian tujuan autopsi ini bagaimana? Apakah sampelnya yang salah, tertukar, atau bagaimana?”pungkasnya.

Sebelumnya, keluarga Almarhumah Edita Dorotea Putu Wisang menempuh langkah hukum dengan melakukan autopsi guna mengungkap tabir kematian korban. Pasalnya, kematian Putu disebut keluarga akibat aborsi yang diduga didalangi oleh Debrito Kefi, pria beristri asal Desa Tes, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Proses autopsi terhadap jasad korban berlangsung pada Rabu (8/7/2020) lalu, di Jalan Cendana, Kampung Baru, Kelurahan Aplasi, Kecamatan Kota Kefamenanu. Pembongkaran makam dilakukan petugas Satuan Reskrim Polres TTU, dihadiri Tim Forensik Mabes Polri, dipimpin Kombes Pol. Dr. Sumy Hastri dr. SpF. (Yan/ol)

Leave a Comment