DKP segera Panen Kerapu di Riung

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodaty saat memantau penyebaran bibit ikan kerapu di Riung.
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodaty saat memantau penyebaran bibit ikan kerapu di Riung.

Simon Selly

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTT segera panen perdana ikan kerapu di Labuan Kelambu Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT.

“Yang segera dipanen ikan yang ada di keramba, sementara di perairan baru bisa panen setelah kurang lebih tiga tahun,” ungkap Kadi KP NTT, Ganef Wurgiyanto kepada VN di Kupang, Kamis (10/6).

Menurutnya, jenis ikan yang dipanen kerapu dan kakap. Totalnya ada 750 ribu ekor, tetapi karena diterjang badai Seroja beberapa waktu lalu jadi banyak yang mati. Yang tersisa kurang lebih 4.000 ekor dan itu yang akan dipanen pada Minggu (13/6) nanti.

Dia menjelaskan panen ikan di Riung akan terus dilakukan karena sistem budidayanya berkelanjutan.

“Budidaya kerapu dan kakap di Riung berkelanjutan dan perairannya juga subur, sehingga menggunakan sistem sirensing. Perairan itu sedikit ikan namun kualitas perairannya subur, makanya kita budidaya ikan dengan cara sirensing. Mengapa disirensing, karena mulut teluk kecil dan sempit, namun luasnya mencapai 235 hektare. Jadi sangat potensial dikembangkan dengan cara sirensing,” jelasnya.

Sistem sirensing, kata Ganef, digunakan untuk membudidayakan induk ikan di wilayah NTT, karena hampir di seluruh Indonesia, budidaya ikan kerapu dan kakap hanya dibudidayakan dalam kolam yang tidak menentu.

“Tujuan sirensing itu untuk memperkaya ikan di NTT yang nantinya dijadikan sebagai induk karena selama ini di seluruh Indonesia calon induk itu hanya dipelihara di kolam dan kualitasnya kurang bagus. Apabila kualitas induk kurang bagus maka benihnya juga tidak bagus, dan untuk itu kita siapkan induk di alam, yang mana 2-3 tahun baru bisa diambil sebagai induk,” jelasnya.

Ganef menjelaskan, selama ini ikan kerapu dan kakap yang didatangkan dari luar NTT dijual dengan harga yang cukup tinggi, namun dengan adanya budidaya induk kedua jenis ikan tersebut di NTT akan mendapatkan prestasi yang baik.

Ganef Wurgiyanto, Kadis DKP NTT

Ganef Wurgiyanto, Kadis DKP NTT

“Dua jenis ikan yang akan di panen tersebut kalau didatangkan dari Bali dan Situbondo harganya sangat mahal, karena pakannya berbeda dengan ikan air tawar dan harganya lebih mahal,” kata dia.

Terkait pembeli, kata Ganef, menunggu kapal dari Bali untuk mengangkut ikan dari Riung.

“Kapal tersebut didatangkan untuk distribusi ikan ke pasar ikan di bali dan bukan mendatangankan benih ikan ke NTT,” tegasnya.

Sementara anggaran yang dihabiskan untuk budidaya kerapu dan kakap di Riung sebesar Rp 7,5 miliar. Hasilnya akan dibagi 50 persen untuk masyarakat dan 50 persen masuk PAD NTT.

Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Provinsi NTT Kasimirus Kolo saat RDP dengan DKP menilai budidaya ikan kakap dan kerapu yang dilakukan oleh DKP gagal.

Pasalnya, pencapaian dan keberhasilan dari tiga lokasi pengembangan atau budidaya keramba apung yakni di Perairan Mulut Seribu-Kabupaten Rote Ndao, Perairan Semau-Kabupaten Kupang dan Labuhan Kulambu-Kabupaten Ngada jauh di bawah target

Kegagalan tersebut disebabkan karena investasi Rp 50 juta, hasil yang diperoleh hanya Rp 5 juta.

“Ini artinya kerja asal-asalan. Kita meragukan kenerja DKP kalau hasilnya seperti ini, apalagi akan ditambah dana yang besar lagi dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” ujarnya. (mg-22/ari)

Leave a Comment