Dokter Alphonsius Anapaku Berpulang

dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG, Minggu (30/5).
dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG, Minggu (30/5).

 

Jumal Hauteas

Lahir sebagai anak sulung dari pasangan Marthen M. Anapaku (Alm) dan Yanetha Bertha Wuri Mangi (Almh), Alphonsius Anapaku kecil sempat menderita sakit saat masih bayi, bahkan karena kondisinya yang gawat saat itu dokter yang menanganinya sampai ‘angkat tangan’ dan menyerah untuk menanganinya.

Saat itu, almarhum ayahnya menazarkan Alphonsius kecil untuk disekolahkan menjadi dokterjika diizinkan Tuhan selamat dari maut dan penyakit yang dideritanya. Mujizat Tuhan pun terjadi sehingga Alphonsius kecilpun sembuh dan selamat hingga akhirnya berhasil menjadi dokter di Universitas Brawijaya Malang sesuai dengan nazar almarhum ayahnya.

Sulung dari delapan bersaudara ini memulai pendidikannya di SD Baing, SMP Kristen Payeti hingga SMA Katolik Andaluri Waingapu. Ia sempat mengambil pendidikan dokter di Universitas Airlangga Surabaya namun putus kuliah saat ibunya meninggal dunia.

Tekad ayahnya untuk menyekolahkan anak sulung kesayangannya tersebut menjadi dokter tidak berhenti selepas kepergian istrinya, sehingga anak sulungnya kembali melanjutkan pendidikan dokternya hingga selesai di Universitas Brawijaya Malang tahun 1986 dan kemudian melanjutkan spesialis Obstetro dan Ginekologi di Universitas Airlangga dan selesai tahun 1997.

Kepada VN Minggu (30/5) di rumah duka, Albertina Rosiani Anapaku saudari dari dokter yang dikenal tegas namun penyayang ini menuturkan, Alphonsius adalah pria yang tekun dan rajin sejak kecil. Bahkan Alphonsius dikenal sangat telaten dan menjadi pengayom bagi tujuh adiknya.

“Kakak (Alm. dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG) ini sejak kecil sangat rajin dan baik. Suka bantu kasih bersih rumah sampai bantu Bapak (Alm. Marthen M. Anapaku) siram bunga dan bersihkan kebun,” jelas ibu yang akrab disapa Nona Anapaku ini.

Ia mengatakan sebagai sulung, Alphonsius dikenal sangat tegas sekaligus sangat mengayomi adik-adiknya sehingga tidak pernah memanggil adik-adiknya dengan langsung menyebut nama adik-adiknya, namun selalu didahului dengan sapaan ‘Ina’ bagi saudari-saudarinya dan ‘Ama’ bagi adik-adik laki-lakinya.

Sikapnya yang tegas dan penyayang ini tidak berhenti pada saudara-saudarinya, namun juga ditunjukkannya dengan keluarga besar dan setiap orang yang dikenalnya. Sifat ini tidak berubah saat menikah dengan Debi Samudra yang darinya lahir Alberto Marselius Anapaku, Arthur Stefano Anapaku dan Angela Yanetha Betty Wuri Anapaku.

“Bapak itu tegas tapi sangat penyayang dan hatinya lembut sekali,” jelas putra keduanya Arthur Stefano Anapaku.

Arthur mengaku sangat bangga dengan ayahnya karena ketegasan dan kelembutan hati ayahnya mereka bisa bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mampu membedakan setiap hal dalam hidup dan mampu mengambil keputusan yang tepat.

“Satu hal yang luar biasa dari Bapak adalah walau sudah sakit sejak tahun 2014, Bapak tidak pernah menyerah dan tetap optimis. Bahkan setiap hari Minggu, Bapak masih tetap ke gereja walau harus dengan kursi roda, dan ini teladan yang sangat baik bagi kami semua,” ungkapnya.

Mengenai riwayat sakit ayahnya, Arthur menuturkan pertama kali ayahnya sakit tahun 2014 lalu karena mengalami perdarahan di otak sehingga mengalami struk dan harus menjalani operasi bedah otak.

Ayah tiga anak dan opa dari empat orang cucu ini kemudian mengalami sejumlah sakit lain sehingg harus menjalani sisa hidupnya di Surabaya agar lebih dekat dengan rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap.

“Terakhir, Bapak kembali mengalami pendarahan di otak sampai koma 10 hari dan akhirnya meninggal,” tuturnya.

Istri almarhum menambahkan suaminya tidak hanya tegas dan penyayang namun satu hal positif yang dikagumi dari almarhum adalah kebesaran hatinya untuk mengakui dan menyesali suatu tindakan atau pernyataan yang dianggapnya keliru.

“Karena ini, Bapak sangat disayangi oleh banyak orang, termasuk semua dokter yang merawatnya selama sakit,” ungkap Deby.

Untuk diketahui, dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG memulai kariernya di Puskesmas Mangili, kemudian merangkap menjadi Direktur pada Rumah Sakit Kristen Lindimara Waingapu dan Rumah Sakit Kristen Lindimoripa di Waikabubak, sebelum berpindah ke Kupang dan mengakhiri kariernya sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sejak 30 Desember 2008 hingga tahun 2015 setelah jatuh sakit tahun 2014.

Almarhum dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG sendiri lahir di Rumah Sakit Kristen Lindimara (RSKL) 27 Agustus 1958 dan meninggal dunia Jumat (28/5) di Rumah Sakit Premier Surabaya. Almarhum rencananya akan dimakamkan di kampung halamannya Desa Hadakamali, Kecamatan Wulla Waijelu, Selasa (1/6) mendatang. (bev/ol)

Leave a Comment