Dua Lagi, Korban Rabies Di Flores

Yunus Atabara

Rabies mengancam masyarakat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam satu bulan terakhir ini sebanyak empat korban gigitan anjing rabies meninggal dunia. Tiga orang di Kabupaten Nagekeo dan satu korban di Kabupaten Ende.

Dokter Aseph Purnama kepada VN Sabtu (17/7) mengatakan baru mendapatkan laporan dari para medis yang menangani korban rabies di Kabupaten Nagekeo. Dimana dalam sehari terjadi dua orang korban gigitan anjing rabies yang meninggal dunia.

Kamis (15/7) sekitar pukul 21.19 Wita, dokter Aseph mendapat kabar dari teman sejawatnya yang bertugas di Puskesmas Boawae, Kabupaten Nagekeo yakni konsultasi terkait keadaan bocah laki laki berusia 7 tahun yang memiliki gejala gelisah, takut air dan angin setelah sebelumnya digigit anjing di bagian lehernya.

Diketahui bahwa sebelumnya bocah itu belum mendapatkan vaksinasi rabies sebagai salah satu rangkaian upaya Pencegahan Paska Paparan (PPP). Apabila korban gigitan anjing mengalami gejala aerophobia dan hydrophobia keluarga hanya bisa berdoa.

“Akhirnya sore pukul 18.30 wita bocah tersebut meninggal dunia sesuai kabar dari teman sejawat yang merawat bocah tersebut di Nagekeo,” kata dokter Asep.

Sedangkan korban rabies ke-4 adalah anak perempuan berusia 6 tahun yang dibawa oleh orang tuanya di sebuah klinik dalam keadaan gelisah, takut air dan takut angin.

Setelah ditelusuri ternyata anak yang tak berdosa itu digigit angjing pada tnggal 11 Mei 2021, di bagian lehernya. Namun saat peristiwa itu terjadi bocah 6 tahun itu belum mendapatkan vaksinasi rabies sebagai salah satu rangkaian upaya Pencegahan Paska Paparan (PPP).

Atas kondisi itu para medis tidak mampu berbuat banyak, dan pada akhirnya nyawa anak itu tidak bisa tertolong dan dinyatakan meninggal dunia oleh para medis yang menanganinya.

“Pagi ini saya mendapat kabar, bahwa tadi malam, anak berusia 6 tahun itu meninggalkan kita selama lamanya,” kata dokter Asep.

Dengan demikian dalam 1 bulan sebanyak 4 nyawa tidak berdosa melayang akibat rabies. Sebanyak 3 korban meninggal di Kabupaten Nagekeo dan 1 korban lainnya dari Kabupaten Ende.

 

Cakupan Vaksin Rabies

Saat pandemi (tahun pertama). Cakupan vaksinasi anjing menurun. Bisa karena refocusing anggaran untuk Covid-19. Tapi anjing rabies belum ada karena dampak vaksinasi anjing setahun sebelum pandemi.

Pertengahan pandemi (tahun kedua), anjing rabies mulai bermunculan, akibat cakupan vaksinasi yg rendah saat pandemi, setahun lalu.

Orang mulai jenuh di rumah saja. Ekonomi memaksa orang bekerja dan beraktivitas akibatnya, anjing rabies semakin banyak yang dibuktikan dengan peningkatan sampel otak positive.

Tidak adanya korban rabies di tahun pertama pandemi menyebabkan warga lupa akan Pencegahan Paska Paparan (PPP). Korban gigitan anjing, tidak melakukan PPP sehingga tidak tertolong.

Akhir pandemi, jika periode 2 dimana peningkatan kasus rabies pada anjing tidak diantisipasi, dan orang orang sudah mulai dibebaskan beraktivitas seperti biasa.

“Disitulah bencana terjadi. Dimana anjing rabies bertemu warga, dan memakan korban. Cuci luka, vaksin anti rabies, serum anti rabies harus disiapkan,” kata dokter Asep.(bev/ol)

Leave a Comment