Dukung Sekolah Tatap Muka, Save the Children-PKTA Gelar Rakor

Ketua Presidium Aliansi PKTA NTT yang juga Advocacy Coordinator Save the Children Benyamin Leu memandu diskusi dalam Rapat Koordinasi (rakor) Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak NTT di Hotel Neo By Aston Kupang, Kamis (10/6). Foto:Paskal Seran vn.

Paskal Seran 

SAVE The Cildren bekerja sama dengan Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (PKTA) NTT terus melakukan gebrakan untuk menghapus kasus kekerasan terhadap anak di NTT. Untuk mendapatkan berbagai masukan kedua, lembaga itu menggelar Rapat Koordinasi (rakor) Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak NTT di Hotel Neo By Aston Kupang, Kamis (10/6).

Ketua Presidium Aliansi PKTA NTT yang juga Advocacy Coordinator Save the Children Benyamin Leu dalam kesempatan itu mengungkapkan, pertemuan koordinasi itu merupakan bagian dari update data terkini. sekaligus membahas isu-isu terkini yang menjadi potensi penyebab kekerasan terhadap anak.

“Rapat ini merupakan rapat keempat yang dilakukan PKTA.¬†Yang kita bahas dalam kesempatan ini adalah kampanye penerintah isu kembali ke sekolah di tengah pandemi dan potensi kekerasan terhadap anak saat penerimaan siswa baru,” jelasnya.
Sementara isu-isu terkini, beber Beny, terkait kekerasan terhadap anak seperti penikaman guru di Nagekeo, anak-anak dilarang ikut ujian di Manggarai Timur, dan kasus persetubuhan anak di Semau.

Dari hasil pembahasan dengan sejumlah peserta dari tokoh agama, jurnalis, dan berbagai lembaga sosial, pihaknya merekomendasikan bahwa PKTA NTT mendukung kebijakan pembelajaran tatap muka bagi sekolah-sekolah yang sudah memenuhi kriteria pembelajaran tatap muka sesuai dengan keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri tentang panduan penyelenggaranaan pembelajaran di masa pandemi COVID 19.

“Selain itu, kita mendorong para pihak (Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, Tenaga Ahli, dan Fasilitator Dana Desa) untuk mengalokasikan Dana Desa bagi pemenuhan hak anak pada sektor pendidikan Dasar dan PAUD serta kesehatan dan Perlindungan Anak,” jelasnya.

Dia juga mengakui, PKTA juga mendukung Aliansi PKTA Nasional untuk mengadvokasi DPR Republik Indonesia segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) menjadi UU. “Ini akan mengarah pada dukungan kita agar Kemeterian Kominfo segera menghapus situs pornografi dan game online pada akun media sosial,” ungkapnya.

Terkait dengan kasus penikaman guru di Nagekeo, kata dia, PKTA mendorong Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk merevitaliasi peran Dewan Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota serta Komite Sekolah. Juga mendorong pihak sekolah dan komite sekolah untuk melakukan anlisis Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah sebelum menetapkan besaran uang Komite Sekolah yang tidak memberatkan orang tua siswa,” tegasnya.

Melihat aksi kekerasan terhadap anak yang semakin meningkat dari hari ke hari, pihaknya juga mendorong Aparat Penegak Hukum untuk lebih peka dan berkomitmen dalam upaya perlindungan Anak (menindak pelaku dan memberi perlindungan bagi korban). Kepada tokoh agama PKTA mengajak lembaga keagamaan untuk melakukan sosialisasi tentang pola pengasuhan positif.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak NTT Tory Ata pada kesempatan itu mengusulkan agar persoalan kekerasan terhadap anak perlu menjadi perhatian bersama semua pihak. “Kita perlu atasi dari pelakunya yang menjadi dalang penyebab kekerasan itu,” tegasnya.

Sementara itu, aktivis Gusty Brewon mengaku cemas dengan kekerasan yang semakin hari-semakin meningkat di NTT. Karena itu dia meminta agar pertemuan koordinasi seperti itu perlu dihadirkan anak-anak.

“Kenapa pertemuan-pertemuan berbagai aliansi terus dilakukan, tapi kasusnya kekerasan terhadap anak yang ada di depan mata belum juga teratasi. Aliansi harus juga punya gerakan untuk mengatasi ini sehinggga jangan seperti damkar yang datang setelah terbakar. Perlu juga himpun suara anak-anak. Jadi peserta dalam forum-forum diskusi seperti ini perlu hadirkan anak-anak sehingga kita bisa mendengarkan suara mereka juga,” ujarnya. (Yan/ol)

Leave a Comment