Editorial: Meniru Selandia Baru

Selandia Baru punya oposisi pemerintah. Mereka kuat di parlemen. Namun untuk urusan keselamatan rakyat, tak ada yang mengritik kebijakan pemerintah.

 

SELANDIA Baru punya cara khas mengendalikan virus covid-19. Resepnya sederhana. Kita pun bisa melakukannya. Namun, kemauan, partisipasi dan semangat rakyatnya yang luar biasalah yang membedakannya.

Ada tiga cara yang dipakai Selandia Baru untuk akhirnya bisa mengendalikan korona. Pertama, menutup perbatasan. Kedua, lockdown, baik lokal maupun nasional. Ketiga, menggalang partisipasi masyarakat melalui Tim 5 Juta Orang.

Negara di dataran Oseania ini berpenduduk 5 juta jiwa. Itu artinya, setiap warga di Selandia baru berpartisipasi mengambil peran masing-masing untuk memuluskan program pengendalian covid-19.

Selandia Baru punya oposisi pemerintah. Mereka kuat di parlemen. Namun untuk urusan keselamatan rakyat, tak ada yang mengritik kebijakan pemerintah.

Semua kompak. Jadi, intinya kepercayaan, saling percaya. Tak perlu terlalu berbuih-buih bicara persatuan bangsa, Selandia Baru mengerjakan langsung hakikat persatuan dan gotong royong. Masalah keselamatan bangsa akan meruntuhkan ego sektoral, menyikat segala sekat, membangkitkan kebersamaan di sekujur negeri.

Walhasil, kasus positif covid-19 di Selandia Baru selama pandemi sangat rendah. Hanya 2.742 kasus dalam satu setengah tahun pandemi. Itu berarti hanya 0,054% jumlah penduduk. Bandingkan dengan Indonesia yang mencapai 2,2 juta kasus, atau 0,81% dari 270 juta penduduk.

Persentase kita dalam keterpaparan korona lebih besar 18 kali lipat jika dibandingkan dengan Selandia baru. Angka kematian akibat covid-19 di Selandia Baru juga amat minim: ‘hanya’ 26 orang atau satu per 200 ribu penduduk. Adapun di Indonesia, hingga Kamis (1/7), angka kematian akibat korona mencapai hampir 59 ribu orang atau satu per 5 ribu penduduk.

Perbedaan dosis saling percaya antara Selandia Baru dan di Indonesia kiranya menjadi pangkal soal perbedaan angka statistik tersebut. Di kita, sikap oposisi dijalankan secara salah kaprah dan dengan dosis maksimum pula.

Ada baiknya kita merenungi apa yang pernah disampaikan oleh Proklamator kita, Bung Karno, dalam pidato tentang Kebangkitan Nasional pada 1958 dan 1963 di Alun-alun Bandung.

Bung Karno mengatakan, “Saudara-Saudara, bangsa Indonesia ini seperti sapu lidi yang terdiri dari beratus-ratus lidi. Jika tidak diikat akan tercerai-berai, tidak berguna, dan mudah dipatahkan.

Namun, jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat, menjadi satu, mana ada manusia yang bisa mematahkan sapu lidi yang sudah diikat. Tidak ada Saudara-Saudara. Jikalau kita bersatu, jikalau kita rukun, kita menjadi kuat kesatuan sikap dan tindakan”.

Kita hanya perlu itu, saat segala cara melawan korona sudah tersedia. Sayangnya, tidak semua bisa berjiwa besar untuk melakukannya.

(Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/)

 

Leave a Comment