Gedung Sasando Memang Tidak Dirancang Tahan Angin

 

 

 

Putra Bali Mula

Bangunan Kantor Gubernur NTT atau Gedung Sasando memang tidak bisa menangkal arus angin apalagi badai Seroja beberapa waktu lalu.

Desain dan kerusakan yang terjadi pada Gedung Sasando ini menjadi pembahasan dalam webinar dampak Seroja pada Bangunan dan Infrastruktur di NTT.

Pembahasan ini digelar oleh Resilience Development Initiative (RDI) Indonesia, Selasa (17/5). Jonathan A. Lassa dari Charles Darwin University menjadi moderator webinar itu.

Rani Hendrikus, akademisi dari UNWIRA Kupang mengatakan tiga infrastruktur yang dikaji adalah Gereja Galed, Politeknik Negeri Kupang, dan Gedung Sasando.

Desain Gedung Sasando, kata dia, tidak tahan terhadap angin kencang. Konfigurasi dan bentuk Gedung Sasando, jelas dia, justru menangkap angin atau menampung arus angin.

Ia juga menyebut ada kegagalan pertama dalam pembuatan yaitu pada plafon di tiang utama gedung yang berupa dawai Sasando. Sayangnya, ia tidak mempunyai foto soal kerusakan yang pernah terjadi itu. Kerusakan itu karena rangka plafon yang tipis. Hingga saat ini jarak antara skrup juga tidak memadai untuk rangka yang besar sehingga tidak mengakomodir vibrasi atau getaran antar sambungan.

“Rangka bidang kaca juga tidak dimanfaatkan sebagai titik tumpu rangka plafon untuk mengurangi beban dan kekakuan bidang kaca,” kata dia.

Dalam kajiannya, ia juga mensimulasikan berbagai gaya angin terhadap rancangan bangunan Gedung Sasando. Masalahnya serupa yaitu desain gedung menampung angin dan menjadi beban.

Sedangkan Gereja Galed memiliki bidang kaca depan pada bagian atas gereja dengan luas 9 meter kali 3 meter. Atap dan rangka rusak atau diterbangkan dan kaca dengan bentangan luas ini pecah 6 meter. 40 persen plafon gereja juga rusak parah karena hantaman angin. (bev/ol)

Leave a Comment