Geliat Kreativitas Dekranasda NTT

Staf Dekranasda Provinsi NTT saat melayani para pembeli, kemarin. Foto: Putra/VN
Staf Dekranasda Provinsi NTT saat melayani para pembeli, kemarin. Foto: Putra/VN

Putra Bali Mula

Pernah berkunjung ke Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTT, di Jalan Mohammad Hatta Nomor 42 Fontein, Kota Kupang?

Gedung yang dibangun dan diresmikan tahun 2013 lalu tersebut, kini jauh berubah. Di tangan Ketua Dekranasda NTT Julie Soetrisno Laiskodat, gedung yang tadinya biasa-biasa saja dan tak dilirik pengunjung, kini disulap menjadi gedung serba guna nan artistik.

Semua indera pengunjung dimanjakan dengan aroma kain tenun, anyaman, berbagai ornamen dari kayu, kopi, dan aneka produk olahan Petempuan dan remaja putri NT.

Semua terpampang di seluruh sisi, tertata di kabinet yang luas, kaca menyekat ruang yang
satu dengan yang lainnya.

Tempat duduk pun sederhana nan estetik, sofa mungil berbalut anyaman, memantik nyaman. Saat VN mengunjungi gedung itu akhir pekan lalu, seorang Staf Sekretariat Dekranasda NTT, Steve Parera, menyambut dengan ramah.

Steve menyinggung soal ISO 9001:2015 yang telah dicapai Dekranasda NTT. Itu sebabnya semua diperhitungkan, bukan soal interior semata tetapi kecakapan dan santunnya para pegawai Dekranasda NTT telah mewakili standar profesional itu.
Ruangan Rapih

Steve lalu mengajak berkeliling ke setiap ruangan. Ruangan pertama yang ditunjukkan adalah tempat berbagai komoditi hasil pertanian dan perkebunan yang disulap ke dalam kemasan ramah lingkungan.

Desainnya pun ramah di mata tak kalah dari barang hasil industri besar, mengundang tangan untuk menyentuh dengan hati-hati, menghargai karya-karya itu.

Ia menyebut banyak produk yang diambil dan ditampilkan di Dekranasda NTT. Produk-produk yang pernah tampil dalam webinar pun didatangkan. Banyak jenisnya, ada kopi, madu asli, cokelat, semua dari berbagai wilayah di NTT tampil di Dekranasda NTT. Aroma ruangan itu jadi khas sekali.

Dekranasda NTT adalah fasilitator dari hulu hingga hilir atas produk-produk UMKM. Dekranasda NTT memakai sistem beli putus produk yang diambil dari UMKM NTT dengan tujuan UMKM tetap hidup.

Ada 300 lebih UMKM NTT yang bekerjasama mengikuti standar kualitas yang dipatok Dekranasda NTT. Kualitas produk adalah wajib. Tetapi UMKM yang datang dengan produk-produk yang belum memenuhi standar pun akan difasilitasi untuk dapat memenuhi itu. Semua dukungan akan dibantu cuma-cuma asal komit mempertahankan kualitas.

Berpindah ke ruangan sebelahnya dimana pada kabinet lemari itu tertata produk-produk dari bahan alami seperti sedotan dari rumput hingga sabun dan shampoo semuanya dari bahan alami. Ia menyebut Ketua Dekranasda NTT juga turut menggunakannya.

Selain itu disediakan pula bahan khusus untuk mencuci kain tenun yang juga diolah oleh UMKM lokal. Produk lain seperti hand sanitizer yang umum dipakai selama pandemi ini juga tersedia. Terdapat aneka aroma tersedia seperti kopi misalnya.

Semua produk-produk itu mendapatkan satu kamar dengan berbagai tenun yang dimodifikasi menjadi berbagai produk-produk dan aksesoris. Ruangan itu cukup lebar. Aksesoris dari pakaian adat lokal maupun yang ala modern tersedia di situ.

Beberapa pengunjung juga ada di ruangan itu mencermati berbagai barang lokal yang dipajang. Tenun asli pasti dapat dirasakan perbedaannya di ujung jari, susunan warna yang tak memaksa dan sensasinya saat diendus.

Pasar Sendiri
Dekranasda NTT tetap stabil omzetnya selama pandemi ini karena telah mempunyai pasar yang solid. Ranah bisnis Dekranasda NTT menjangkau seluruh penjuru negeri ditambah adanya sistem pembelian online. Ada aplikasi LAPAKDEKRA yang dapat diunduh di smartphone.

Lewat aplikasi itu Dekranasda NTT menjual kurang lebih 500 produk-produk UMKM NTT dan selalu update. Sementara omzet dapat mencapai Rp. 100 juta per bulan apabila penjualan stabil. “Kita yang kelola semua,” katanya.

Sampai di sini ia menyebut peran Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, cukup serius, jeli dan penuh perhitungan, terencana hingga beberapa langkah ke depan. Seluruh SDM Dekranasda NTT bersemangat karena itu.

Misalnya, benang untuk para penenun juga disediakan yang mana para penenun sendiri terlibat dalam memastikan kualitas benang-benang tersebut. Harganya juga terjangkau dan lebih murah dari yang ada di pasaran selama ini.


Benang-benang ini berada di ruangan terpisah dimana terdapat ti’i langga yang disimpan khusus agar awet. Ada sampel benang yang diletakkan di atas meja beserta timbangannya. Eksperimen untuk menguji kualitas benang-benang ini juga telah dilakukan dan karenanya bahan baku ini telah dikirim ke beberapa kabupaten untuk digunakan penenun.

“Kualitas kita jaga dari awal, dari bahan bakunya,” imbuhnya.

Ada tempat untuk rehat juga di Dekranasda NTT yaitu sebuah kafe dengan menu lokal termasuk kopi dari berbagai kabupaten di NTT. Kafe ini dikelola oleh anak muda NTT.

Sementara di lantai dua adalah galeri yang menampilkan berbagai pakaian adat di NTT. Berbagai informasi dari daerah-daerah di NTT juga disampaikan di seluruh lantai itu. Pengunjung juga nantinya dapat menyaksikan langsung praktek menenun di tempat itu secara langsung. Saat itu ada empat ibu penenun yang sedang bekerja. Ada seorang siswi SMKN 4 Kupang yang juga sedang menenun.”Kita buka setiap hari,” katanya.

Pembuatan alat tenun itu sendiri bekerjasama dengan SMKN 4 Kupang termasuk dengan kegiatan pelatihannya. Ada juga alat tenun yang dibawa oleh Ketua Dekranasda NTT ke Jakarta untuk diketahui dunia luar.

Ia menyebut sudah banyak pengunjung yang datang ke galeri itu sekedar untuk menambah informasi atau referensi. Tidak ada pungutan biaya untuk menikmati galeri itu. Uniknya juga Dekranasda NTT turut menyetor ke Pendapatan Asli Daerah yang sebenarnya tidak wajib dilakukan Dekranasda NTT.

“Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk Dekranasda NTT untuk setor kan karena itu dana hibah tapi Bunda tetap kasih untuk PAD,” pungkasnya. (R-01)

Leave a Comment