GM ASTON Kupang Ikut Tanggapi Soal Pajak Sembako

General Manager ASTON Kupang, Sony Bambang
General Manager ASTON Kupang, Sony Bambang

Putra Bali Mula
General Manager ASTON Kupang, Sony Bambang, ikut menanggapi soal riuhnya rencana Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen pada kelompok sembako dari pemerintah.

Menurutnya, masyarakat harus mendapatkan informasi utuh dari berita yang beredar pada berbagai media saat ini. Hal ini, kata dia, juga penting diluruskan pemerintah.

“Tidak semua yang dimaksud sembako, sembako yang mana dulu. Jangan dipenggal-penggal, kita butuh informasi asli yang benar. Memang bunyinya sembako tapi sembako yang mana tidak dijabarkan di situ,” jawab dia kepada VN, Senin (14/6).

Ia juga telah membaca sejumlah referensi terkait PPN ini. Misalnya, bidang pendidikan yang dipajaki adalah sekolah swasta atau setingkat internasional yang biaya pendidikan tinggi dan untuk kesetaraan maka perlu membayar pajak.

Menurutnya, berbeda bila dibandingkan dengan sekolah negeri, dana BOS dan dana lainnya telah meringankan beban masyarakat dan ia melihat pemerintah cukup serius untuk itu. Begitu juga di bidang kesehatan yang menurut dia yang dikenakan pajak adalah dari golongan mampu yang memiliki berbagai alternatif akses kesehatan di rumah sakit yang mahal.

Lantas untuk sembako, ia yakin adalah sembako impor atau yang bernilai mahal yang tentunya dipajaki, contohnya daging wagyu. Ia tidak ragu soal itu.

“Daging juga bahan pokok, tapi daging yang mana? Daging steak Australia, wagyu dari Jepang yang bisa Rp 2 juta sekilo, karena pajaknya juga dari luar, dari importir,” ungkapnya.

Sekalipun pajak terhadap sembako impor diberlakukan, seara pribadi dan pebisnis ia juga tidak akan mempermasalahkan ini.

“Ya tidak masalah. Sekarang yang nginap di hotel, makan di hotel, apakah penduduk? Yang urusan kantor akan dibayarin nginap di hotel, kan balik lagi,” tambah dia.

ASTON juga memiliki supplier baik untuk impor maupun lokal, tergantung kebutuhan makanan nantinya. Menurutnya, bukan sesuatu yang krusial PPN ini bila sembako impor yang dipajaki.

“Karena emang target marketnya beda,” tambahnya. (bev/ol)

 

Leave a Comment