Gubernur NTT Ingatkan Bupati dan Wali Kota Se-NTT Serius Tangani Stunting

Gerasimos Satria

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dengan tegas mengingatkan bupati dan wali kota di untuk serius menangani stunting. Pasalnya, porsentase penurunan angka stunting di wilayah NTT jauh dari harapan.

“Kita semua harus malu! Penurunan angka stunting kita tahun 2021 hanya dua  persen. Berarti, semua bupati dan wali kota tidak kerja maksimal. Saya minta semua bupati dan wali kota harus bekerja dengan serius untuk menekan angka stunting,” tegas Viktor di hadapan bupati se-NTT dalam acara Rapat Koodinasi Percepatan Penurunan Stunting Se-Provinsi NTT, Senin (11/10) di Hotel Sylvia Labuan Bajo.

Ia mengatakan Pemprov, Pemkot dan Pemkab di NTT harus memiliki desain kerja percepatan pencegahan dan penurunan angka stunting.

“Hampir seluruh kabupaten dan kota hingga saat ini belum ada desain pencegahan stunting,” ujarnya.

Dia menjelaskan penurunan angka prevalensi Stunting di NTT ditargetkan semaksimal mungkin untuk mengurangi dampak dari stunting dal rangka menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul serta generasi yang produktif untuk menyambut Bonus Demografi 2045 mendatang.

Ia menegaskan, menangani stunting sangat penting dalam upaya pencegahan munculnya sumber daya manusia yang tidak kompeten ketika menghadapi bonus demografi.

Dia menyayangkan sua daerah di wilayah NTT seperti Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Timur yang malah mengalami kenaikan angka kasus stunting. Ia menilai Wali Kota Kupang dan Bupati Sumba Timur tidak serius mengurus stunting.

“Wali Kota Kupang gagal menurunkan angka stunting. Angka stunting di Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Timur naik dratis. wali kota, wakil wali kota, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang tidak bekerja mengurus stunting,” tegas Viktor.

Viktor menargetkan tahun 2022 angka stunting di Provinsi NTT turun 50 persen.

Angka stunting NTT saat ini 81.000. Ia berharap tahun 2022 sisa 40.000.

Ia mengatakan keterlibatan stakeholder di daerah sangat penting untuk menekan angka stunting di masing-masing wilayah.

Dia mendorong Pemkab dan Pemkot di wilayah NTT untuk melibatkan TNI/Polri untuk pencegahan stunting.Presiden Joko Widodo menginginkan agar angka stunting di NTT Tahun 2024 tersisa 14 persen.Semua elemen di daerah harus berkontribusi dalam penurunan stunting dan sampai di level desa.

Dia menambahkan strategi percepatan penurunan stunting di Provinsi NTT harus melalui konvergensi dan integrasi di daerah yang menjadi instrumen dalam bentuk kegiatan. Mulai dari rencana kegiatan, analisa kegiatan, rembuk stunting dan pengukuran Selain itu juga untuk konvergensi percepatan penurunan stunting dilakukan baik dari level Pemkab hingga Pemerintah Desa.

“Secara nasional, Provinsi NTT penyumbang stunting terbesar.Kita semua harus malu dan harus segera memiliki desain penurunan stunting,”ujar Viktor.

Sementara Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi pada kesempatan itu menargetkan penurunan kasus stunting tahun 2022 menjadi 10 persen.

Untuk mencapai target tersebut Pemkab Manggarai Barat akan menempatkan tenaga gizi di seluruh puskesmas di wilayah Manggarai Barat pada tahun 2022 mendatang.

Dia mengaku upaya percepatan penurunan stunting harus dilakukan melalui pendekatan multisektor. Hal itu tentu saja tidak terbatas pada sektor kesehatan.

Pihaknya akan melibatkan berbagai stakeholder mulai dari dunia usaha, mitra pembangunan, media massa dan akademisi untuk penanganan.

“Kami memiliki komitmen tahun 2020 kasus stunting kita turun ke 10 persen. Kita akan bekerja keras menurunkan angka stunting di Manggarai Barat,”ujarnya. (bev/ol)

Leave a Comment