Gunakan TPG secara Bijak dan Tepat

Oleh Yohanes Peu
(Guru SDI Bertingkat Kelapa Lima 3)

 

“Bijak Mengelola Tunjangan Profesional”. Demikian sebuah judul opini yang ditulis rekan saya Adrianus Ngongo. Saya menyambungnya dengan opini berjudul “Tunjangan Profesi Guru: Perbaikan Kesehjateraan dan Peningkatan Kualitas Pendidikan”.

Kedua tulisan ini dimuat di sebuah harian lokal terbitan NTT bulan September 2009, kurang lebih 11 tahun silam. Poin penting dari dua tulisan ini adalah tentang tawaran bagaimana mengelola tunjangan profesi guru (TPG).

Adrianus menawarkan gagasan bagi segenap penerima TPG agar memiliki sikap bijak dalam mengelola tunjangan tersebut yang juga diarahkan pada kegiatan akademis guna mendongkrak peningkatan kualitas pendidikan. TPG tersebut tidak semata untuk belanja perbaikan kesehjateran agar performa guru yang dahulu terlihat sederhana menjadi kelihatan ‘wah’. Saya justru pesimis terhadap para guru penerima tunjangan profesi untuk mengelola pemanfaatan tunjangan profesinya ke arah kegiatan akademis.

Ketika budaya konsumerisme merasuki hati para konsumen termasuk para guru penerima TPG dewasa ini, bukan tidak mungkin tunjangan profesi akan lebih banyak mengalir ke arah belanja perbaikan kesehjateraan ketimbang belanja akademis. Tunjangan yang langsung masuk ke rekening guru penerima ini tidak diketahui seperti apa pemanfaatannya karena memang itu adalah ranah privasi sang penerima.

Beranjak dari asumsi ini, saya menawarkan, setidaknya ada regulasi atau semacam kebijakan yang di buat pemerintah tentang penggunaan tunjangan profesi sehingga para guru penerima tunjangan tidak semata membelanjakan TPG untuk urusan belanja kesehjateraan. Dengan regulasi, saya optimis tunjangan profesi akan berimbang antara belanja perbaikan kesehjateraan dan belanja akademis atau minimal ada sedikit porsi untuk belanja akademis daripada tidak ada sama sekali.

Sebelas tahun lebih harapan saya melalui opini tersebut terkabul ketika Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang mengeluarkan Surat Edaran Nomor 97/Disdikbud/.007/Dikdas/2021 Tentang Wajib Memiliki Laptop Pribadi Bagi Guru ASN dan Kepala Sekolah Penerima Tunjangan Profesi Guru. Oleh karena itu, tulisan ini hadir selain menyoroti penggunaan TPG juga sebagaibentuk apresiasi atas terbitnya surat edaran tersebut. Setidaknya, melalui surat edaran Kadis Dikbud Kota Kupang tersebut, TPG bisa digunakan secara bijak dan tepat.

Tunjangan Profesi Guru atau lebih dikenal dengan TPG didapat seorang guru setelah melewati proses sertifikasi. Setelah lulus sertifikasi guru dan diberi sertifikat pendidik, seorang guru berhak mendapatkan TPG. Berbicara soal menggunakan TPG secara bijak dan tepat, ada baiknya juga kita menelisik tujuan dan manfaat dari sertifikasi guru itu sendiri.

 

Profesionalisme dan Kesejahteraan Guru
Marselus Ruben Payong (2011: 76-78) menyebut beberapa tujuan dan manfaat sertifikasi guru. Menurut Payong, sertifikasi guru bertujuan untuk: 1). Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran; 2). Meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan; 3). Meningkatkan martabat guru; dan 4). Meningkatkan profesionalisme guru. Sementara itu, manfaat dari sertifikasi guru adalah : 1). Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten yang dapat merusak citra guru; 2). Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional; dan 3). Meningkatkan kesehjateraan guru.

Dari beberapa hal yang disebut Payong di atas, saya meraih ada dua poin penting dari tujuan dan manfaat sertifikasi guru yakni soal profesionalisme guru dan kesehjateraan guru. Sertifikasi esensinya membawa dampak pada peningkatan profesionalisme guru dan peningkatan kesehjateraan guru. Ketika seorang guru dinyatakan lulus sertifikasi dan bersertifikat guru profesional kemudian diberikan tunjangan profesi maka belanja dari tunjangan itu mesti diarahkan untuk kepentingan peningkatan profesionalisme (belanja akademis) dan peningkatan kesehjateraan. Dampak finansial yang diterima mestinya dimanfaatkan untuk dua hal ini.

Dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang Nomor Dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang Nomor 97/Disdikbud/.007/Dikdas/2021 disebutkan tujuan utama dari pemberian TPG bagi guru sesuai Undang-Undang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Tunjangan Profesi Bagi Guru dan Dosen adalah untuk meningkatkan kompetensi guru demi memperbaiki kualitas dan mutu pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. Untuk mewujudkan tujuan utama dari pemberian TPG maka Kepala Dinas Dikbud Kota Kupang mewajibkan setiap guru penerima TPG memiliki sarana penunjang berupa laptop. Kebijakan ini akan berlaku mulai bulan Juli 2021 yang mana pengawas dan tim yang ditunjuk akan melakukan pemeriksaan pada semua guru ASN pada minggu kedua. Untuk memastikan bahwa laptop tersebut benar-benar milik pribadi maka setiap guru penerima TPG wajib menunjukkan bukti pembelian secara elektronik atas nama guru ASN bersangkutan. Dan apabila hingga bulan Juli 2021 guru penerima TPG tidak memiliki laptop pribadi maka proses tunjangan profesi selanjutnya akan dipending.

Kita tahu, di republik ini pemerintah sudah menetapkan aturan bahwa guru profesional yang telah memiliki sertifikat pendidik diberikan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok setiap bulan. Dengan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok itu sudah dipastikan bahwa tingkat kesehjateraan guru penerima TPG akan semakin bagus. Asumsinya, ketika kesehjateraan semakin bagus maka guru lebih berkonsentrasi melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Agar sukses melaksanakan tugas profesional maka ia mesti selalu berupaya untuk meningkatkan profesionalismenya. Dengan demikian maka sekali lagi, gunakan TPG untuk dua hal ini: peningkatan profesionalisme dan peningkatan kesehjateraan.

Untuk menunjang kegiatan pengembangan profesionalisme guru di era digital sekarang ini, sarana penunjang berupa laptop memang mutlak diperlukan. Kewajiban memiliki laptop bagi guru penerima TPG yang ditempuh Disdikbud Kota Kupang patut diapresiasi. Namun bagi saya, kebijakan ini tidak selesai di sini saja. Tidak sebatas memiliki laptop yang dibuktikan dengan kwintansi pembelian secara elektronik. Lebih dari itu adalah kemampuan untuk mengoperasikan laptop yang telah dimiliki. Hasil pengamatan saya, harus diakui bahwa masih ada guru belum mahir dalam menggunakan laptop. Oleh karena itu, setelah memiliki laptop barangkali mesti dilakukan pelatihan atau workshop mengoperasikan laptop untuk kegiatan profesi guru di setiap sekolah.

Esensinya, laptop baru satu dari sekian sarana penunjang peningkatan kompetensi. Masih banyak lagi penunjang peningkatan kompetensi seperti buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, keikutsertaan dalam forum ilmiah (seminar, diklat/workshop fungsional), dsb. TPG yang diterima mestinya juga dibelanjakan untuk hal-hal ini dalam kerangka pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan. Tidak hanya beli laptop, tapi juga beli buku, beli jurnal-jurnal ilmiah untuk memperkaya koleksi bacaan di perpustakaan pribadi milik guru.

SE Kadis Dikbud Kota Kupang di atas masih hanya sebatas kewajiban memiliki laptop. Saya malah punya ekspektasi yang lebih dari itu. Selain laptop atau perangkat multimedia pendukung laptop seperti printer, setiap guru penerima TPG wajib setiap bulan membeli minimal satu judul buku, berlangganan jurnal ilmiah, berlangganan Koran, wajib memiliki perpustakaan pribadi, mengikuti diklat-diklat fungsional dengan biaya sendiri, dsb. Jangan malah sebaliknya, TPG digunakan untuk membeli Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikerjakan orang lain, menyewa jasa urusan kenaikan pangkat, dan praktik-praktik menyimpang lainnya. Gunakan TPG secara bijak dan tepat!

Leave a Comment