Harga Komoditi Pertanian Anjlok

Gerasimos Satria

Petani di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), NTT mengeluh lantaran harga komoditi  yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka yakni kakao,kemiri dan kopi terus merosot di pasaran.

Harga komoditi biji coklat atau Kakao di tingkat petani di Kabupaten Manggarai Barat dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan. Semula, biji kakao kering dibandrol dengan harga Rp 26.000/Kilogam (Kg) kini turun menjadi Rp18.000 – 22.000/Kg.

Petani asal Desa Tiwu Riwung,Kecamatan Mbeliling,Agustinus  Jeradu, Kamis (29/7) menyampaikan wabah penyakit Covid-19 yang melanda wilayah Manggarai Barat menyebabkan harga kakao berangsur turun.Para pengepul komoditi pertanian di Kecamatan Mbeliling tidak lagi membeli komoditi pertanian.Hal itu disebabkan harga komoditi turun dratis,sehingga pengepul tidak berani membeli komoditi kakao milik petani.

Dia menuturkan, harga jual kakao tidak seperti yang diharapkan, padahal bulan Mei 2021 sempat menjual dengan harga Rp 26.000/Kg. Namun kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama karena harga kakao kembali turun.

Dia mengaku setelah beberapa minggu memanen dan hasil panennya telah terkumpul, harga jual kakao semakin menurun hingga harga Rp18.000 – Rp 22.000/Kg.Petani di Desa Tiwu Riwung tidak tahu mengapa harga kakao hampir setiap minggu anjlok.

Agustinus Jeradu menyampaikan rata-rata petani di Kecamatan Mbeliling fokus pada pengembangan tanaman komoditi pertanian seperti Cokelat,kemiri dan Kopi.Setiap tahun,rata-rata setiap Kepala Keluarga (KK) mendapat keuntungan dari hasil menjual komoditi pertanian mencapai Rp5 Juta hingga Rp10 Juta.Setelah pandemi Covid-19 pada awal Maret 2020 lalu,masyarakat tidak lagi bersemangat mengurus komoditi pertanian.

Dia menyampaikan penurunan harga sangat merugikan para petani yang selama ini bergantung pada hasil kebun kakao. Terlebih, panen buah kakao tahun ini berkurang serta kondisi buahnya juga kurang baik akibat penyakit busuk yang menyebabkan biji kakao tidak berkembang.Tidak seperti panen tahun sebelumnya, buah kakao sangat bagus.

Dia berharap harga komoditi pertanian seperti Kakao,kemiri dan kopi segera pulih kembali, mengingat usaha komoditi pertanian selama ini menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Mbeliling,khususnya Desa Tiwu Riwung.

Petani asal Desa Tondong Belang,Albertus Hadat mengatakan sebagian besar masyarakat di Desa Tondong Belang bergantung kepada tanaman kakao,kemiri dan kopi sebagai mata pencahariannya.Meskipun harga komoditi pertanian turun tetapi petani tidak dapat menahan stok menunggu sampai harga kembali membaik karena membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak, juga agar bisa membeli pupuk dan obat-obatan untuk tanaman kakao.

Dia mengatakan kurang mengetahui penyebab anjloknya harga komoditi pertanian itu.Sebab sulit diprediksi naik turunnya harga komoditi pertanian seperti terjadi pada kopi arabika maupun  kakao.

Sebagian besar petani sedang memasuki panen besar, namun langsung dihadapkan dengan harga murah sehingga keuntungan yang didapat petani menjadi berkurang.Dirinya berharap harga komoditi pertanian bisa naik kembali. (Yan/ol)

Leave a Comment