Hotel di Labuan Bajo Wajib Gunakan Kopi Colol

Kopi lokal yang dibudidaya warga Desa Colol, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur. Gambar diabadikan akhir pekan kemarin. Foto: Yohanes Manasye/MI
Kopi lokal yang dibudidaya warga Desa Colol, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur. Gambar diabadikan akhir pekan kemarin. Foto: Yohanes Manasye/MI

 

 

 

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat mewajibkan hotel-hotel di Labuan Bajo untuk menggunakan kopi Colol. Jika tidak, izin untuk hotel tersebut akan dicabut.

Hal itu ditegaskan Laiskodat saat berkunjung ke Desa Colol, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Sabtu (22/5) malam. “Kalau ada kopi lain, kita peringatan. Tidak mau dengar, kita tutup hotelnya,” tegas politikus Partai NasDem itu.

Namun sebelum itu, pihaknya mendorong sejumlah stakeholder seperti BPOP Labuan Bajo Flores, Bank NTT dan Pemkab Manggarai Timur petani kopi mengemas produknya dalam bentuk saset.

“Kita akan menyiapkan agar seluruh kopi kita dalam bentuk saset sehingga kita akan masuk di seluruh toko-toko atau pun hotel-hotel, sampai dalam kamar itu kopi Colol. Nanti kalau (kemasan saset) itu sudah ada, seluruh hotel di Labuan Bajo tidak ada kopi lain. Adanya kopi Colol,” lanjutnya.

Ia pun berguyon, walaupun orang Colol belum masuk kamar hotel bintang lima, tetapi kopinya harus ada di sana untuk menjadi salah satu minuman bagi tamu hotel.

“Walaupun orang Colol belum masuk kamar hotel bintang lima, tapi kopinya masuk kamar hotel bintang lima,” canda Laiskodat disambut riuh tawa warga setempat.

Ia mengatakan, Labuan Bajo merupakan destinasi pariwisata super premium. Karena itu, produk-produk di hotel-hotel hingga restoran di Labuan Bajo harus super premium juga. Kopi Colol, kata Laiskodat, merupakan salah satu produk super premium.

“Kenapa kopi Colol itu kita anggap super premium, karena dia telah mendapatkan peringkat sebagai kopi terbaik. Kemasannya juga harus dikemas dalam kemasan super premium,” ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur BUMDES Colol Rudolf Supardi mengeluhkan sulitnya memasarkan kopi. Meskipun saat ini BUMDES dampingan Bank NTT itu sudah mulai memproduksi kopi dalam kemasan saset, namun jumlahnya masih terbatas sesuai pesanan pembeli.

“Produksi kami masih terbatas. Masih sedikit. Sesuai pesanan pembeli. Pembelinya pun masih di sekitar Manggarai Raya,” ucap Rudolf.

Ia berharap agar ada intervensi kebijakan pemerintah agar pemasaran kopi Colol semakin luas dan bisa berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. (mi/ari)

Leave a Comment