Indonesia bisa Lalui Pandemi dengan Pengorbanan

Presiden Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat, terutama umat muslim, di Indonesia untuk meresapi nilai-nilai yang terkandung dari perayaan Idul Adha.

Pada hakekatnya, Idul Adha, yang bermula dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, mengajarkan manusia untuk rela berkorban. Pesan tersebut, menurut kepala negara, sangat bisa diambil hikmahnya dan diterapkan di situasi sekarang, ketika pandemi covid-19 melanda hampir seluruh muka bumi.

Manusia Demi Agama Masyarakat Tanah Air harus bisa berkorban demi satu sama lain dan harus rela berbagi sehingga ujian berat bisa dilalui dengan baik.

“Pandemi covid-19 adalah ujian yang sungguh berat dan nyata. Kita bisa melaluinya dengan pengorbanan, kebersamaan, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh,” ujar Jokowi melalui akun Instagram, Selasa (20/7).

Tidak lupa, ia pun memanjatkan doa kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia selalu dilindungi dari marabahaya dan dilimpahkan rahmat serta karunia.

“Semoga Allah SWT senantiasa melindungi bangsa indonsia dari segala macam marabahaya dan melimpahi kita dengan rahmat dan karunia-Nya,” tandas presiden.

 

Pelajaran Penting
Sementara Direktur Damar Institute H Muhammad Suaib Tahir mengatakan secara histrois, ibadah kurban bagi umat Islam memberikan pelajaran penting bahwa tidak ada korban manusia untuk kepentingan agama.

“Tuhan hanya menguji manusia untuk mengorbankan ego dan kepentingan pribadinya. Semangat ini tentu menjadi cukup aktual ketika dikontektualisasikan dengan problem kebangsaan seperti radikalisme dan pandemi saat ini,” kata Kiai Suaib dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (20/7).

Menurut dia, peringatan Idul Adha ada tiga hikmah utama yang dapat dipetik, yaitu diajak mengenang betapa ketaatan Nabi Ibrahim AS ini tiada tandinganya. Betul-betul totalitas dalam menjalankan perintah Allah SWT termasuk kesiapan untuk mengorbankan segala yang dimiliki. “Yang kedua,

Idul Adha merupakan momentum yang sangat berharga untuk kembali mereflesikkan diri sejauh mana ketaatan kita kepada Allah SWT melalui kesediaan kita untuk mengeluarkan sedikit dari apa yang kita miliki untuk kepentingan bersama (berkurban),” ujar Kiai Suaib. Ketiga, adalah bagaimana kita menghidupkan syiar-syiar agama yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebagai wujud solidaritas kita sesama manusia. Seperti berbagi antarsesama di tengah tengah situasi seperti pandemi sekarang ini, di mana dituntut untuk menunjukkan kebersamaan dan meninggalkan sifat-sifat yang egois.

“Ada tiga sosok yang patut kita renungkan pada peristiwa Hari Raya Idul Adha ini, yaitu Siti Hajar yang menerima perintah suaminya, Nabi Ibrahim AS yang telah mengorbankan anak kesayangannya, yakni Nabi Ismail AS yang dengan sabar dan patuh kepada orang tuanya,” ucap peraih pascasarjana dari Islamic University Khartoum, Sudan itu.

Kiai Suaib menyebut ketiga sosok ini sungguh telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia setelahnya, sehingga hikmah yang dapat dipetik dari tiga sosok yang mulia ini bahwa pengorbanan atas sifat-sifat egoisme akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia di kemudian hari.

”Apa yang dilakukan oleh ketiga sosok yang mulia ini semestinya menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua umat Islam bahwa betapa pengorbanan itu sangatlah penting untuk kepentingan hidup manusia,” tuturnya.

Apalagi, menurut pria yang juga pengamat Timur Tengah ini, di tengah-tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini sekarang, sudah sepatutnya membuang sifat-sifat egoisme dan mengedepankan solidaritas antara sesama untuk saling membantu dan tolong menolong serta gotong royong. Apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim sesungguhnya hanyalah ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Oleh karenanya Allah menggantikannya dengan seekor domba dari surga. (mi/ari)

Leave a Comment