Inggris Paling Diuntungkan, Final EURO 1996 Bisa Terulang

Timnas Italia di tangan Roberto Manchini dan Belanda di tangan Ronald de Boer dinilai akan mengejutkan di EURO 2020. Perpanduan pemain muda-senior akan menjadi ancaman bagi peserta lain.

 

SEPAKBOLA itu tidak bisa diprediksi! Penuh magis, berselimutkan kejutan atau keberuntungan (Lucky) tak terduga. Yang acap kali memporak-porandakan semua analisa dan hitung-hitungan di atas kertas.

Para penikmat bola sejagat tak pernah jera menantikan prediksi dan analisa ketika turnamen sepakbola sekelas Piala Eropa (EURO) akan digelar. Prediksi dan analisa adalah candu.

Bicara sepakbola dan kejutan, EURO memiliki kejutan-kejutan pada masa lalu. Sebut saja Yunani, negara kecil yang tampil sebagai juara EURO 2004. Atau Denmark yang mampu memenangkan EURO 1992, meski tak lolos babak kualifikasi. UEFA menunjuk Denmark sebagai pengganti Yugoslavia yang saat itu sedang dilanda perang saudara.

Di “Euro 2020” yang akan mulai bergulir mulai malam ini, juga bermunculan prediksi tentang tim mana yang paling berpeluang mengangkat Piala Henri Delaunay di penghujung turnamen 12 Juli mendatang.

Para pundit bola Eropa sejak Januari membuat analisa bahwa Big Match ulangan Piala Eropa 1996 London bukan tak mungkin akan terulang. Rujukannya adalah hasil Drawing Euro 2020 di Bucharest, Rumania, Sabtu (30/11/2019) lalu.

Di EURO 1996, Jerman dan Ceko berada di Grup C bersama Italia dan Rusia. Pada 9 Juni 1996 di laga grup Stadion Old Trafford, Jerman melabrak Ceko 2-0.

Namun Ceko sukses mencapai final untuk kembali menghadapi Jerman pada 30 Juni 1996 di Wembley. Dan dalam Big Match ulangan itu, anak asuhan Berti Vogts menang 2-1 lewat ekstra time.

Drawing EURO 2020 menempatkan juara bertahan Portugal bergabung dengan juara Piala Dunia 2018 Prancis, dan tim spesialis turnamen Jerman, dan Hungaria dalam satu grup, yaitu Grup F.
Dengan format tiga tim bisa lolos dalam satu grup (juara, runner up dan peringkat III terbaik), maka Portugal, Prancis, dan Jerman punya peluang yang besar untuk lolos ke babak 16 besar hingga final. Termasuk menghadirkan partai final atau Big Match Ulangan antara Portugal vs Prancis atau Portugal vs Jerman.

Kemungkinan laga dua tim satu grup di partai final juga bisa berasal dari Grup A (Italia-Swiss), Grup B (Belgia-Denmark-Rusia), atau D (Inggris-Ceko-Kroatia).

TalkSPORT bekerja sama dengan rumah taruhan Betfair pada Kamis (10/6) juga membuat prediksi bahwa duel final Euro 2020 akan menghadirkan laga antara Prancis vs Jerman. Dan Big match ‘ulangan’ duel fase grup itu akan dimenangkan Prancis.

Satu lagi Final Euro yang mempertemukan dua tim dalam satu grup adalah EURO 1988 Jerman Barat, Belanda yang bergabung bersama Rusia, Rep Irlandia dan Inggris di Geup II kalah 0-1 atas Rusia. Belanda kemudian sukses menembus Final dan kembali menghadapi Rusia pada 12 Juni 1988.

Belanda yang diperkuat Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard, takluk di tangan Rusia 0-1 lewal gol Vasyl Rats menit ke-52.

Namun Belanda sukses mencapai final untuk kembali menghadapi Rusia. Dan dalam Big Match ulangan itu, anak asuhan Rinus Michel menang 2-0 lewat gol Gullit menit ke-32 dan Van Basten menit ke-54.

Inggris Diuntungkan

Sementara itu, dari enam tim tuan rumah yaitu Italia (Grup A), Denmark (B), Belanda (C), Inggris (D), Spanyol (E), dan Jerman (F), Inggris dinilai sebagai tim yang sangat diuntungkan.

Beruntung karena mereka akan bertanding di hadapan pendukungnya sendiri dalam tiga laga penyisihan grup. Italia di Stadion Olimpico Roma, Denmark (Parken, Kopenhagen), Belanda (Johan Cruijff Arena Amsterdam), Inggris (Wembley London), Spanyol (Sevilla), dan Jerman (Football Arena Munich).

Khusus The Three Lion Inggris, disebut-sebut sebagai yang paling diuntungkan. Andai lolos babak 16 besar sebagai juara grup lalu masuk semifinal dan Final, maka semua laga ?akan digelar di Stadion Wembley. Total delapan laga akan dimainkan di Wembley.

Sayangnya, kondisi ini dianggap bisa jadi beban yang teramat berat bagi pelatih Gareth Southgate dan pasukannya. Tapi jika Harry Kane dkk mampu mengatasi itu, maka tentu akan menjadi hadiah indah bagi seluruh rakyat Inggris.

Italia-Belanda-Spanyol

Italia dan Belanda dinilai sangat berbahaya karena datang tanpa beban berlebihan sebagai tim besar. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018 plus materi tim yang tidak terlalu gemerlap membuat Italia akan tampil tanpa beban dan siap memberi kejutan.

Namun Roberto Mancini telah terbukti berhasil menyusun ulang kekuatan Azzurri sejak menduduki kursi pelatih. Di tangan Mancini, Italia tak terkalahkan dalam 27 laga terakhir. Catatan tersebut tentu merupakan catatan yang sangat impresif.

Kisah Italia tidak jauh berbeda dengan Belanda. Sempat menjadi runner-up Piala Dunia 2010 serta mampu mengunci tempat ketiga di Piala Dunia 2014, sinar Belanda perlahan meredup. Mereka bahkan gagal masuk Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.

Kini, berbekal generasi baru yang merupakan lulusan Ajax Amsterdam, Belanda coba kembali mengangkat gengsinya di sepak bola Eropa.
Dalam lima laga internasional yang sudah dilakoni sepanjang 2021, Belanda hanya kalah sekali. Sisanya, mereka menang tiga kali dan imbang di satu kesempatan. Di bawah asuhan Frank de Boer, Belanda diprediksi akan jadi tim yang mengejutkan.

Sedangkan Spanyol, kali ini masuk sebagai kuda hitam. Dalam tiga gelaran turnamen akbar terakhir, yakni Piala Dunia 2014, Piala Eropa 2016, dan Piala Dunia 2018, Spanyol tampil jelek. Mereka seolah kehilangan kekuatan, tidak seperti di 2010 atau 2012 era La Masia Barcelona.

Namun, di bawah asuhan Luis Enrique, Spanyol mulai bangkit. Dalam empat laga internasional yang dilakoni sejak awal 2021, mereka sanggup meraih dua kemenangan dan dua kali meraih hasil imbang. Enrique dianggap pelatih bertangan dingin yang bisa memberi kejutan. (paa/ari/yan/ol)

Leave a Comment