Inggris Terancam Sanksi UEFA, Uang atau Tanpa Penonton di Final

TIMNAS Inggris akhirnya menuntaskan puasa 55 tahun tidak tampil di pertandingan babak final turnamen sepakbola elite dunia. Squad The Three Lion (tiga singa) sukses mengatasi perlawanan sengit Timnas Denmark 2-1 pada laga semifinal di Wembley Stadium, Rabu (7/7) malam waktu London atau Kamis (8/7) dinihari waktu Indonesia.

Kemenangan tersebut tampaknya bakal dibayar mahal. Badan sepakbola Eropa, UEFA bergerak cepat untuk menyelidiki insiden laser yang menimpa Kiper Denmark Kasper Schmeichel di laga itu. UEFA mendakwa Inggris bersalah atas kejadian itu.

Insiden yang dimaksud Pada saat itu, Inggris mendapatkan penalti setelah Raheem Sterling “dijatuhkan” di kotak terlarang.

Sebelum eksekusi dilakukan, ada laser yang tertangkap kamera mengarah ke wajah Schmeichel. Namun sang kiper tetap berhasil menepis penalti Harry Kane meski bola muntah berhasil disambar sang striker dan menjadi gol.

“Dakwaan bagi Inggris: Penggunaan laser oleh pendukung mereka, pendukung membuat kegaduhan saat menyanyikan lagu kebangsaan dan juga penggunakan kembang api oleh para supporter mereka.”
Dalam keterangan resmi UEFA itu, UEFA belum menjatuhkan hukuman apa yang akan diterima Inggris. Komite Disiplin mereka masih menginvestigasi lebih lanjut dakwaan tersebut.

Dan kemungkinan besar denda yang bisa didapatkan Inggris adalah denda uang atau pelarangan supporter menonton pertandingan mereka. Jika pelarangan yang diberlakukan, maka Inggris terancam tanpa penonton atau pembatasan jumlah penonton.

Penebusan Southgate

Asal tahu saja, ketika masih berkarir sebagai pemain, Gareth Southgate sempat membawa Inggris mencapai babak semifinal kejuaraan EURO 1996. Ia menjadi alasan mengapa the Three Lions gagal melaju ke babak final pada saat itu.

Southgate adalah satu-satunya algojo yang gagal melakukan tugasnya dengan baik ketika Inggris berduel dengan Jerman di drama adu penalti. Pada akhirnya, the Three Lions tumbang dengan skor 5-6. Butuh waktu 25 tahun buat Southgate untuk menebus dosa terberatnya itu.

Mantan kapten Inggris Tony Adams, berbicara kepada ITV; “Ya, 25 tahun yang lalu saya memimpin negara saya, kami mencapai semifinal, nyaris, kami keluar melalui adu penalti dan senang melihat Gareth di sana (menang di Wembley). Aku sangat, sangat bangga padanya,” ujar Adams.

“Saya mengirim SMS kepadanya beberapa hari yang lalu, untuk mengucapkan selamat. Dia kembali dengan jawaban yang indah. Dia berkata: ‘Syukurlah ibu dan ayah saya tidak harus menanggung semua rasa sakit itu lagi. Sekarang dia membuat cerita baru, membuat jalan baru bagi para pemain muda baru ini. Kebanyakan dari mereka tidak lahir ketika dia gagal mengeksekusi penalti itu (di EURO ’96),” tutup pemain eks kapten Arsenal itu.

Pasukan Gareth Southgate menang 2-1 melalui tambahan waktu 2×15 menit setelah di waktu normal 90 menit, kedua tim bermain imbang 1-1. Gol pembuka dicetak Mikkel Damsgaard menit ke-30 lewat tendangan bebas yang spektakuler.
Harry Kane dkk menyamakan kedudukan melalui  gol bunuh diri kapten Denmark Simon Kjaer menit ke-39. Di babak tambahan, Kane membobol gawang Denmark lewat bola rebound dari penaltinya sendiri yang sempat ditepis Kasper Schmeichel pada menit ke-104.

Gol penalti pun hingga detik ini masih menyisikan perdebatan karena Raheem Sterling dianggap diving namun wasit Danny Makkelie tak bergeming dan mensyahkan gol itu.

Banyak pihak menilai Sterling diving. Pemain Denmark pun melakukan protes kepada wasit Makkelie. Akan tetapi, dalam tayangan ulang terlihat Maehle melakukan kontak terhadap Sterling. Guna meyakinkan pelanggaran itu, wasit Makkelie juga menggunakan VAR, yang hasilnya Inggris tetap mendapatkan penalti.

Ini merupakan kali pertama The Three Lions melaju ke partai final dari dua turnamen besar, Piala Eropa dan Piala Dunia. Inggris terakhir kali maju ke final pada gelaran Piala Dunia 1966 lalu. (paa/pol/ari)

Leave a Comment