Ini Tujuh Prinsip Menyikapi Dampak Negatif Pariwisata yang Disampaikan Uskup Ruteng

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat menyampaikan masukan dalam kegiatan Webinar Nasional tentang pariwisata, melalui aplikasi zoom, Senin (27/9).

Sinta Tapobali

 

Pariwisata menjadi sesuatu yang serius bagi gereja universal baik secara internal maupun eksternal. Secara internal pariwisata adalah tempat dibangunnya sebuah pastoral, pariwisata tempat dibangunnya sebuah teologi dan liturgi yang aktual kontekstual dan integral.

Secara eksternal, pariwisata adalah media dialog dan perjumpaan antara manusia dan kebudayaan agama dan komunitasnya. Keberadaan pariwisata membangun interkulturalitas, multikulturalisme, interreligius dan interkomunitas.

Demikian pandangan dari Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat dalam kegiatan Webinar Nasional bertemakan ‘Pastoral Ekopariwisata Inklusif dan Integral Berbasis Budaya da Religi Masyarakat Lokal’ melalui aplikasi zoom, Senin (27/9) pagi.

Dalam kesempatan ini Uskup Sipri mengatakan bahwa pariwisata telah menjadi jembatan dan perekat antara manusia yang bersifat inklusif di mana setiap destinasi wisata adalah rumah Bhineka Tunggal Ika.

“Pariwisata adalah tempat pewartaan secara internal untuk memperdalam dan menguatkan akar iman dan secara eksternal untuk menunjukkan kepada semua orang buah-buah iman dari pohon kasih. Lewat pariwisata gereja diharapkan menjadi signifikan ke dalam dan relevan keluar,” jelas Uskup Ruteng.

Dirinya mengakui, Pariwisata tidak hanya memberikan dampak positif namum juga dampak negatif. Dalam Sinode ketiga, Keuskupan Ruteng mencatat ada banyak dampak negatif yang ditimbulkan, di antaranya keberadaan pariwisata juga mengancam eksistensi identitas kehidupan masyarakat lokal.

Secara eksistensial sentra ekonomi pariwisata dikuasai oleh orang luar dan penduduk lokal kehilangan tanah sehingga menjadi tamu di wilayah sendiri. Selain itu pariwisata dengan kultur asing menguasai gaya hidup sosial sehingga identitas kultural penduduk lokal menjadi redup.

Menyadari akan dampak negatif terhadap pariwisata maka perlu ditekankan beberapa prinsip yang penting untuk pengembangan pariwisata di wilayah Manggarai raya yang menjadi wilayah penggembalaan Keuskupan Ruteng.

Semua prinsip ini dibungkus dalam 7 ramah. Pertama prinsip martabat manusia dan dan hak-haknya yang disebut ramah akan martabat manusia.

Kedua prinsip partisipasi masyarakat lokal dalam pariwisata sambil membuka diri kepada semua orang yang disebut ramah terhadap sesama.

Ketiga, prinsip pelestarian kebudayaan lokal sambil menghormati budaya lain yang disebut ramah budaya. Keempat prinsip keselamatan lingkungan dan ekologi yang disebut ramah lingkungan.

Kelima, prinsip nilai-nilai moral dan nilai-nilai religius atau yang disebut ramah akan agama dan etika. Keenam, prinsip kerja sama transparansi dan keadilan dalam pengelolaan pariwisata atau disebut ramah akan keadilan dan kejujuran.

Ketujuh, prinsip penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna dan manusiawi atau ramah akan IPTek yang manusiawi.

Ia berharap dalam webinar ini semua stakeholders yang terlibat memberikan masukan yang positif terkait dengan perkembangan pariwisata Labuan Bajo Flores ke depannya. (Yan/ol)

Leave a Comment