Ithin, Guru yang jadi Sahabat Peserta Didik

Christina Tuto, Guru Mata Pelajaran Agama Katolik dan wali kelas VII di SMPN 4 Taebenu, Kabupaten Kupang, NTT.

Sinta Tapobali

Christina Tuto, merupakan guru Mata Pelajaran Agam Katolik dan wali kelas VII di SMPN 4 Taebenu, Kabupaten Kupang, NTT.

Kepada VN, Kamis 25 November 2021, Christina mengisahkan perjuangannya mulai dari mencari pekerjaan hingga menjadi seorang guru tahun 2017.

Ithin, begitulah ia disapa, sejak tamat kuliah tahun 2015 dari Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (STIPAS) Kupang, mencoba mengadu nasibnya dengan melamar pekerjaan di sejumlah kantor.
Usaha demi usaha ia lakukan selama setahun, namun tidak membuahkan hasil. Takdir akhirnya membawa Ithin untuk melamar di satu sekolah yang terletak di ujung timur Baumata, yakni SMPN 4 Taebenu.

Berbekal ilmu agama yang dimilikinya, Ithin akhirnya diterima menjadi seorang guru agama pada Agustus 2017 yang lalu. Ibu Ithin, begitulah ia disapa oleh para siswa dan rekan gurunya  di sekolah.

Proses mengajarnya di awal tahun diperhadapkan banyak kendala, salah satunya keterbatasan buku bacaan untuk siswa katolik dalam menunjang bahan pembelajaran. Namun karena tuntutan harus segera mengajar maka ia pun berinisiatif mencari bahan atau ajar sendiri.

“Saya donwload buku kemudian saya print di Silvia,” kisah Ithin mengenang kembali perjuangannya di tahun 2017 silam.

Jadi Pendamping dan Teman

Dari pengalaman tersebut, ia bertekad menjadi guru yang tak hanya bisa mengajar tetapi menjadi seorang pendamping dan pembina bagi anak didiknya terutama dalam hal Doa.

“Doa harian dan tata cara berdoa secara khusus untuk agama katolik, banyak siswa yang kesulitan untuk menghafal dan melakukannya. Makanya awal itu saya fokus untuk mengarahkan dan mengajarkan mereka. Apalagi dengan buku yang terbatas. Bahkan ada siswa kelas VII yang tidak bisa melakukan tanda salib dengan cara yang benar,” kisah Ithin.

Selain sebagai guru, Isthin juga dipercayakan untuk menjadi wali kelas. Dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai wali kelas, ia tidak hanya melaksanakan rutinitas yang biasa dilakukan wali kelas. Ia berusaha mengenali karakter dan watak dari anak walinya. Untuk bisa melakukan hal ini, ia tidak hanya membawa diri sebagai guru, namun lebih membawa diri sebagai teman.

“Ada siswa yang cepat tanggap namun ada juga siswa yang punya sikap masa bodoh, kekanakan seperti anak SD. Ketika jadi guru, banyak siswa yang takut dan segan, tapi ketika saya bawa diri jadi teman, mereka lebih akrab dengan saya,” cerita Ithin lagi.

Tantangan BDR

Ithin juga bercerita bahwa, selama menjalankan proses belajar dari rumah (BDR) selama masa Covid-19, sebagai guru ia tentu mengalami kesulitan tersendiri. Proses KBM tatap muka di sekolah dan BDR tentu jauh berbeda baik dalam penerapannya maupun dalam kemampuan anak menangkap penjelasan materi.

BDR membuat anak memiliki daya tangkap yang minim dan pemahaman yang sempit terhadap materi yang diajarkan karena mereka lebih banyak mengerjakan tugas yang diberikan, tanpa mendapatkan penjelasan terlebih dahulu. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka di kelas, sebagai guru ia bisa langsung memberikan contoh terhadap materi yang diajarkan sehingga anak didiknya cepat menangkap apa yang dimaksudkan.

Untuk menghadapi situasi ini, ia memiliki solusi tersendiri agar para siswanya bisa lebih memahami materi yang diajarkan yakni dengan membuat pembelajaran berupa video dan hasilnya sedikit lebih baik karena ada anak yang memahami maksud dan tujuan yang ia tampilkan dalam video tersebut.

“Dalam video penjelasannya seperti kita mengajar sehingga anak-anak lebih mudah paham,” kata Ithin.

Berjalannya waktu dan mempertimbangkan keefektifan mengajar, maka ia bersama rekan guru lainnnya mengadakan rapat  bersama orang tua guna meminta persetujuan agar KBM bisa kembali dilaksanakan tatap muka, namun dengan sistem shif.

Ketika pembelajaran tatap muka dijalankan dengan sistem shift, ada perubahan yang tampak dari para peserta didik dan semangat mereka pun kembali muncul.

“Sudah terlalu lama jadi awal tatap muka dengan shift, banyak siswa yang semangat untuk hadir di sekolah,” kata Ithin.

Semua proses KBM dengan shift berjalan dengan baik dan saat ini menurutnya kegiatan belajar mengajar di SMPN 4 Taebenu sudah berjalan normal 100 persen, karena semua peserta didik dan tenaga pendidik telah divaksin covid-19. “Tetapi seluruh prokes tetap kami laksanakan dengan baik. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan pakai handsanitizer,” tukas Ithin.

Kepada seluruh guru, ia berpesan agar jangan hanya menjelankan tugas mengajar saja, tetapi jadilah guru yang bisa mendidik, sehingga hubungan antara guru dan siswa tidak hanya sebagai pengajar dan anak yang diajar, namun lebih daripada itu bisa menjadi sahabat, orang tua dan teman yang bisa merangkul.

Kepada para anak didiknya ia berpesan demikian. “Karena kamu, saya hingga saat ini berada di SMPN 4 Taebenu. Karena kamu semua, ketika pulang dari sekolah, walaupun dengan kesibukan yang ada di rumah, saya tetap persiapkan diri untuk bertemu dengan kalian di esok hari. Karena kamu saya hadir di sekolah tepat waktu, karena kamu saya takut masuk ke kelas terlambat dan karena kamu saya harus hadir di sekolah tiap hari. Semoga semua yang kamu dapat dari para guru, bisa menjadi bekal yang baik dan yang terbaik untuk kamu di masa depan nanti. Salam sayang dari saya untuk kalian semua,” ucap Christin dengan penuh haru.

Selamat Hari Guru untukmu para pahlawan tanpa tanda jasa. (Yan/ol)

Leave a Comment