Jangan Terus Jadi Kuli di Tanah Orang

Putra Bali Mula

Berwirausaha menjadi opsi kuat untuk mengangkat ekonomi dan menjadi kekuatan suatu daerah. Menurut Consulting Director di OIKONOMICS PGI dan CEO di Industri 360, Elya G. Muskitta, NTT punya harga diri dan tidak bisa terusan menjadi kuli atau pekerja migran yang pulang dalam peti mati.

Ia menyampaikan ini Sabtu (19/6) dalam Webinar Peran Wirausaha Milenial Sebagai Penopang Menuju Indonesia Emas tahun 2045 dari Unkriswina (Universitas Kristen Wira Wacana) Sumba Timur.

Paling sederhana, kata dia, adalah membuat bisnis digital yang bisa tanpa ada investasi. Pasar atau lapangan pekerjaan ini juga tanpa harus didatangi secara fisik. Fokus bisnis dimulai dari pada apa yang dibutuhkan sesuai isu yang berkembang saat ini, misalnya kesehatan terkait COVID-19.

Ribuan ibu rumah tangga maupun milenial bisa melihat peluang ini. Peluang bisnis masih banyak di NTT termasuk di Sumba dan perlu dikerjakan bukan akhirnya menjadi kuli di tanah orang lain. Komunitas kerja atau bisnis di daerah itu perlu dengan inovatif diciptakan sehingga tidak ada lagi pekerja migran asal NTT.

“Kita kalau menghadirkan tenaga kerja juga kita ngga mau menghadirkan atau membangun industri kulinisasi, menjadikan orang Sumba, orang Timor, orang NTT jadi kuli,” tukasnya.

Bisnis kerja yang dibangun adalah soal harga diri sehingga kapasitas ekonomi yang dibangun tidak merendahkan martabat orang lain.

“Jangan pulang dalam peti mati!” kata dia.

Kultur dari wilayah dimana bisnis berkembang harus diperhatikan saat memulai usaha. Bisnis yang ditawarkan di Sumba misalnya bisa melihat produktivitas SDM yang dapat dilakukan. Menurut dia, tidak dapat disamakan karakter bisnis maupun produktivitas masyarakat di NTT dengan ketentuan yang sama dengan SDM dari Jakarta. Hal ini harus dinilai lebih faktual.

“Salah pilih culture sama dengan kita membunuh bisnis kita,” tegasnya. (bev/ol)

Leave a Comment