Kak Seto : Jakarta Harus Belajar dari Anak-Anak NTT

Kak Seto berfoto bersama Ketua LPA NTT Veronika Ata, Kepala Rumah Perempuan Liby Sinlaeloe, dan wartawan. Foto: Putra/VN
Kak Seto berfoto bersama Ketua LPA NTT Veronika Ata, Kepala Rumah Perempuan Liby Sinlaeloe, dan wartawan. Foto: Putra/VN

 

Putra Bali Mula

Anak-anak NTT mempunyai solidaritas dan kebhinekaan yang tinggi yang ditunjukkan dalam cara bermain dan bergaul sehari-hari. Anak-anak NTT, menurut Kak Seto, tidak memandang perbedaan dan melebur dalam keberagaman. Baginya, Indonesia khususnya warga Jakarta perlu belajar banyak pada anak-anak NTT.

Pemilik nama lengkap Seto Mulyadi ini menyampaikan hal tersebut kepada VN di ASTON Kupang, Kamis (24/4) malam.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) ini mengunjungi daerah bencana Seroja di NTT untuk menberikan trauma healing atau pemulihan psikis pasca bencana.

Ia sudah sembilan kali ke NTT dan menemui hal itu.

Ia mengagumi toleransi dan kebhinekaan anak-anak NTT yang saling memahami keragaman agama bahkan dalam permainan dan pergaulan sehari-hari.

Ia melihat anak-anak NTT saling bantu dalam situasi pasca bencana, bermain bersama tanpa ada pembedaan latar belakang dan agama, saling memahami agama dan kewajiban temannya yang beragama berbeda. Saat puasa di bulan Ramadhan misalnya, anak nasrani pun mendukung teman mereka yang muslim. Hal itu lantas menjadi pelajaran dan kerinduan baginya secara pribadi.

“Orang Jakarta harus belajar dari anak-anak NTT,” tukasnya.

Ia mengaku dalam kunjungannya kali ini, ia telah melihat banyak perubahan di NTT seperti kebebasan berpikir dan kreativitas anak, tidak seperti sebelumnya.
Namun, keberagaman dan saling menghargai masih melekat kuat di antara anak NTT.

Kak Seto juga menilai respon dan kreativitas anak NTT tidak jauh berbeda dengan provinsi lainnya. Untuk itu, peran guru hingga ke pelosok perlu digalakkan termasuk kurikulum yang disesuaikan dengan NTT.

“Saat kami berikan treatment psikologis atau pendampingan sosial ini kami tanpa sadar belajar hanya dari anak-anak NTT, anak-anak yang tegar, kreatif, kompak,” kata Kak Seto.

Tidak hanya soal solidaritas, mental anak NTT pun diakuinya lebih kuat dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Hal ini ia temui di lapangan terutama di Adonara dan Lembata yang terdampak bencana.

“Seperti tidak pernah terbayangkan mereka sudah mengalami suatu peristiwa yang traumatik. Artinya punya daya lenting yang luar biasa, punya tahan banting, jiwa yang tidak mudah menyerah adalah salah satu ciri dari anak-anak NTT,” ungkapnya.

Kendati demikan, ia tetap ingin keluarga memahami pola pikir anak dan tidak menggunakan kekerasan saat mendidik anak. Semua instansi segala segi baik itu kesehatan, sosial, pendidikan, perlindungan juga perlu hadir ke anak-anak korban musibah alam ini.

“Kalau anak punya kebutuhan-kebutuhan khusus, tidak saja soal pakaian dan gizi, tapi permainan atau buku cerita, karena belajar bisa apa saja baik itu menyanyi, menggambar,” kata dia.

Isu pendidikan yang perlu diberikan dalam situasi in pun tidak luput dari nilai etika, estetika, iptek, nasionalisme, kesehatan termasuk kesehatan mental. Faktor-faktor ini perlu menjadi perhatian pasca bencana. Semuanya dapat dirangkai dengan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.

Kak Seto malam itu berjumpa Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT, Veronica Ata dan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Terhadap Anak LPA NTT Libby Ratuarat-Sinlaeloe.

Veronica Ata pada kesempatan itu ikut menyampaikan apresiasi terutama karena Kak Seto berencana kembali nantinya ke NTT khususnya ke Kabupaten Alor.

“Banyak hal yang masih banyak dilakukan untuk NTT terutama karena banyak masalah yang dialami anak-anak NTT,” tambah dia. (bev/ol)

Leave a Comment