Kasih, Kunci Sukses Sarmi Yan Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Sinta Tapobali

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak yang mengalami keterbatasan baik secara fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional.

Meski hal ini berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain, namun mereka tetap punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak.

Kesadaran akan hal inilah yang menbuat Sarmi Yan terpanggil untuk melayani anak berkebutuhan khusus.

Ia ingin memberikan pendidikan yang layak dengan teknik dan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan ABK.

Sarmi mengaku sejak tahun 2005, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar dan mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus di SLB Negeri Pembina Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus sekolah luar biasa, namun keinginannya untuk melayani anak-anak ini patut diapresiasi.

Sarmi mengikuti berbagai pelatihan agar bisa memahami cara melayani dan mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Berkat tekad yang kuat dan keteguhannya, ia bisa memiliki kemampuan dan memahami bagaimana cara mendidik anak-anak dengan berkebutuhan khusus ini.

“Awal mengajar di SLB ini, saya brrtanggung jawab mendidik anak-anak tuna grahita atau anak-anak dengan kemampuan intelektual dan kognitif yang berada di bawah rata-rata dibandingkan anak pada umumnya.
Namun, beberapa tahun terakhir ini, ia dipercayakan untuk menjadi wali kelas untuk menangani anak-anak autis atau anak yang memiliki gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuam seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi serta berperilaku,” kisah Sarmi.

Ia akui, banyak kendala dan tantangan mendidik anak-anak autis namun itu semua dapat ia atasi dengan cara merangkul dan mencintai mereka layaknya anak sendiri. Ia berupaya memberi yang terbaik untuk anak didiknya.

“Mereka ini memiliki dunianya sendiri. Yang mereka tahu dan paham itu hanya dunia mereka saja. Tidak gampang untuk bisa membuat mereka mau dekat dengan saya, prosesnya lama dan tidak gampang,” ungkap Sarmi.

Ia mengatakan banyak penolakan yang ia alami saat mengasuh dan mendidik, hingga ia harus membagi jadwal mengajar untuk anak didiknya.

“Saya punya anak ada tiga orang dan mereka kelas 3 semua. Tidak bisa ajar mereka sekaligus di hari dan waktu yang sama. Makanya saya bagi hari, setiap anak itu saya ajar di hari yang beda. Misalnya si A saya ngajar dia di hari senin, si B di hari selasa dan si C ini di hari rabu. Dengan begini kita bisa konsen dan menangani mereka satu persatu secara baik,” jelasnya.

Dari pengalaman, ia belajar bahwa anak berkebutuhan khusus butuh dirangkul untuk bisa diasuh.

“Ketika berhasil dirangkul, didekati mereka lebih mudah untuk diajak bercerita, menggambar dan juga bermain bersama. Lama mereka fokus itu hanya 30 menit saja dan mereka ini tidak bisa kita ajar soal akademik atau yang bersifat memahami, itu mereka tidak akan bisa paham. Mereka ini kita ajarkan lebih kepada skill, misalnya ajar mereka untuk menulis angka, abjad, ilmu pasti seperti matematika dan menggambar. Lebih pintar mereka menghitung. Kalau diajarkan soal pengertian mereka tidak akan mengerti,” paparnya.

Sarmi mengataka pandemi membawa dampak negatif tersendiri bagi dunia pendidikan khususnya bagi pendidikan di sekolah luar biasa. Mengapa? Karena siswa begitu lama belajar dari rumah dan ketika masuk kembalj, para guru harus ekstra bekerja keras agar anak-anak ini bisa kembali dirangkul agar mudah diajar.

“Kita seperti memulai semua dari awal lagi. Meski kita sudah lama dengan mereka tapi sejak masuk sekolah kita harus mulai ulang dari awal lagi. Mulai perkenalkan diri lagi kepada mereka, harus mencuri hati mereka lagi, harus buat mereka mau dekat dengan kita lagi, bahkan saat mereka belajarpun kita harus bantu pegang alat tulis lagi. Padahal, sebelum ini itu sudah bisa kita lakukan, sekarang kita mulai dari awal lagi,” jelasnya.

Meski demikian, kecintaannya menjadi guru khusus bagi siswa SLB membuatnya tetap optimis akan mampu membangun rasa percaya diri dari anak-anaknya lagi, agar mereka mau untuk belajar dan diajar kembali.

“Intinya semua yang kita lakukan di sini harus dengan hati dan iklas, karena kalau kita mulai dengan marah-marah atau bentak mereka, mereka malah akan menjadi takut dengan kita. Kita harus rangkul mereka, peluk-peluk mereka lagi, ajak mereka bermain lagi supaya mereka itu bisa kembali merasa dekat dengan kita di sini,” tambah Sarmi.

Ia berharap ke depan anak didiknya bisa lebih mengenal diri sendiri, mudah berkomunikasi dan mampu bersosialisasi dengan sesama mereka serta tetap percaya diri bahwa mereka mampu mandiri meski secafa fisik dan mental mereka terbatas. (bev/ol)

Leave a Comment