Kekurangan Suplai Air, Ratusan Hektar Sawah di Malaka Alami Kekeringan

Ratusan Hektar Sawah yang ada di Dusun Bateti,Desa Loofoun,Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, NTT, kering akibat kekurangan air. Foto: Wilfrid Wedi vn

Wilfrid Wedi

 

Ratusan hektar sawah di Dusun Bateti,Desa Loofoun ,Kecamatan Malaka Barat,Kabupaten Malaka, Provinsi NTT, mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air. Kondisi ini sudah berlangsung dua bulan lebih dan belum ada perhatian dari pemerintah untuk mengatasi persoalan itu.

“Bahkan dua bulan lalu,beberapa anggota Dewan dari Komisi II pernah datang pantau.Katanya akan menyuarakan persoalan itu di Gedung DPRD tapi sampai hari ini suara itu hilang,entah kemana kami juga tidak tahu .Mungkin pada saat pemilihan legislatif baru mereka datang pantau sembari tunjuk sana-tunjuk sini seolah-olah sudah ada solusi di bibir sawah yang kering ini,”ucap Nofry Yos Nahak warga Desa Loofoun,kepada VN,Senin (25/10)

Nofry pun mengaku akibat dari kekeringan ini ada beberapa petani sawah yang sudah merantau keluar daerah dengan harapan apa yang dikerjakan di sana bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa menyambung hidup keluarga mereka.

“Sebab mereka bilang kita mau bertahan di sini mau makan apa.Harapan satu-satunya itu hanya kerja sawah.Sementara lahan yang biasa kita garap ini sudah kering karena tidak ada persediaan air yang cukup.Berharap anggota DPRD yang pernah datang ke sini untuk bersuara tentang kondisi ini tapi mereka datang hanya kasih geli-geli kita setelah itu hilang.Tunggu momen baru mereka muncul lagi,” tandasnya.

Pemerintah, kata Nofri, harus segera mengambil langkah konkrit salah satunya dengan memanfaatkan sumber mata air Weliman. Karena debit airnya cukup untuk bisa mengairi lahan persawahan yang ada. Pemerintah segera melakukan intervensi dengan mengerjakan irigasi secara permanen di sekitar lokasi itu sehingga ke depan petani tidak lagi memperebutkan air.

“Jujur, memasuki musim tanam kedua (MT II) kami sering baku rebut air dengan warga yang ada di Desa Maktihan.Bahkan kami pernah beli terpal dan buat bendungan secara darurat agar bisa mengairi persawahan yang ada tapi hasilnya tidak maksimal.Karena dua Minggu kemudian setelah kami cek di lokasi terpalnya sudah dikasih rusak oleh oknum tertentu.Akhirnya kami pasrah dan lahan yang produktif ini dibiarkan kering.Tunggu hujan datang baru kami kerja lagi,”ujarnya.

Dikatakannya, pada musim pertama (MT I) hasilnya sangat maksimal.Sebab dari satu hektar bisa menghasilkan padi kurang lebih 40 karung.

“Sementara memasuki musim tanam kedua kita mau kerja lagi tapi tidak ada persediaan air yang cukup jadi kita mau tanam apa.Terpaksa kita biarkan saja tunggu musim hujan dulu baru kita kerja lagi.Kalau musim kedua ini stoknya airnya bagus maka petani di sekitar wilayah sini tidak akan susah dan tidak keluar daerah karena hasil dari MT II kita bisa jual untuk keperluan lain,”katanya.

Terkait kekeringan, Bupati Malaka,Simon Nahak kepada media sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena alam.Jadi untuk menghadapi alam harus terukur dengan kemampuan.

“Tapi bagaimanapun kami tidak pernah menutup mata.Teman-teman dewan turun lapangan mendapat informasi kemudian komunikasikan dengan kita lalu kita turun eksekusi.Jadi,kita akan terus perhatikan semua itu,”ujarnya. (Yan/ol)

 

Leave a Comment