Kembangkan Desa Wisata Fatumnasi Berbasis Kearifan Lokal

Matheos Anin Pengelola Desa Wisata Fatumnasi

Desa wisata Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki sejuta keindahan yang menarik untuk dikunjungi. Objek Wisata ini terletak di bawah kaki gunung Mutis, Keindahan wisata ini bagaikan padang savana Palouse, Washington, Amerika Serikat.

Desa Fatumnasi merupakan sebuah  lembah di kaki gunung Mutis.
Letaknya jauh dari keramaian kota Soe, ibukota Kabupaten TTS, Provinsi NTT. Jarak tempuh dari kota Soe ke padang desa Fatumnasi kurang lebih 34 kilometer. Sedangkan dari kota Kupang, ibu kota provinsi NTT jarak tempuh 143 kilometer. Akses jalan menuju tempat ini pun membutuhkan usaha yang ekstra karena kondisi jalan sempit, berbatu dan agak rusak.

Setiap orang yang pernah menyambangi desa wisata Fatumnasi akan  dibuat kagum dengan pesona indah padang savana Fatumnasi. Dibalik keindahan alamnya, terdapat sebuah rumah adat keluarga besar Anin, saat ini rumah adat itu dihuni Matheos   Anin bersama Istrinya Yuliana Anin Fuka sebagai penerus keturunan Anin.

Matheos Anin dikenal sebagai juru kunci Gunung Mutis, Gunung tertinggi di Pulau Timor. Setiap orang yang ingin mendaki gunung Mutis selalu melewatinya. Tak terhitung lagi berapa kali ia memandu ratusan wisatawan mancanegara dan ribuan wisatawan lokal untuk mendaki gunung Mutis.

Saat ditemui media ini di kediamannya, akhir pekan kemarin, Matheos Anin menjelaskan, kunjungan wisatawan mancanegara di desa Fatumnasi mulai ada sejak tahun 1985 dan 1986 saat itu dirinya menjabat sebagai kepala desa, wisatawan manca negara pertama kali mengunjungi desa Fatumnasi berasal dari Australia bernama Jastin.

Kala itu, kata Matheos, masyarakat belum mengenal Pariwisata sehingga setiap wisatawan yang datang selalu diarahkan ke rumah kepala desa. Masyarakat pun sempat  berpikir kalau wisatawan mancanegara itu adalah orang jahat yang biasa disebut orang pemotong kepala.

Data beberapa tahun terakhir, lanjut Matheos, jumlah wisatawan mancanegara paling banyak  berasal dari Italia, sedangkan jumlah totalnya ia belum bisa menjawab karena semua dicatat dalam buku tamu. Buku tamu yang digunakan pun itu tidak semua tamu mengisi karena setiap kelompok tamu hanya diwakili satu orang.

“Saya yang kelola desa wisata Fatumnasi sejak tahun 1985. Sampai saat ini jumlah totalnya pengunjung wisatawan mancanegara belum bisa saya menjawab karena semua dicatat dalam buku tamu, nanti baru kita buka bukunya semua kita hitung, Buku tamu yang digunakan pun itu tidak semua tamu mengisi karena setiap kelompok tamu hanya diwakili satu orang. ” ujarnya.

Anin menjelaskan, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi Fatumnasi adalah memiliki padang sabana yang terbentang luas dan indah, merupakan desa wisata berbasis pertanian (agro wisata), pintu masuk menuju cagar alam Gunung Mutis dan menjadi spot wisata di dataran tinggi untuk melihat sunrise di pagi hari.

Melihat ramainya wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal  yang berkunjung di desa Fatumnasi maka pada tahun 2010 ia mendirikan 4 unit home stay yang diberi nama Lopo Mutis. Awalnya home stay yang ia bangun beratap seng, namun sesuai permintaan beberapa turis yang ingin menikmati rumah bulat atau biasa disebut ume kbubu oleh masyarakat setempat dan sesuai
pengalaman pelatihan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat di Universitas Gadjah Mada tahun 2012 maka ia mengubah atap seng itu menggunakan atap alang-alang sehingga bangunan home stay Lopo Mutis benar-benar berbasis lokal.

Berkembangnya desa Wisata Fatumnasi menjadi salah satu desa Wisata berbasis lokal selain desa Boti,  Saat ini, Home Stay Lopo Mutis  sudah memiliki 10 penginapan. Setiap penginapan yang berukuran sekitar 5×6 meter itu memiliki 3 tempat tidur di dalamnya.

Nikmati Sunrise

Bagi anda yang ingin menikmati sunrise di desa wisata Fatumnasi, cukup merogoh kocek sebesar RP. 100.000/malam di home stay Lopo Mutis. Anda akan disediakan tiga tempat tidur, sarapan pagi dan makan dua kali dalam sehari.

Tujuan utama di dirikannya homestay Lopo Mutis, lanjut Matheos, karena banyaknya pengunjung dari berbagai kalangan yang awalnya datang tetapi menginap di Soe sehingga terkadang terlambat ke Fatumnasi atau gunung Mutis untuk menikmati Sunrise. Dasar itulah yang menjadi motivasi utama dirinya membangun homestay Lopo Mutis untuk pengunjung bisa menginap dan tidak terlambat menikmati sunrise.

Dengan berkembangnya desa Wisata Fatumnasi, Matheos mengaku masyarakat Fatumnasi masih kekurangan sumber daya manusia sehingga ia meminta pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur untuk membangun sekolah pariwisata di desa Fatumnasi karena desa Fatumnasi memiliki potensi pariwisata yang sangat menjanjikan.

Rumah Adat Ume  Anin Fuka

Selain memiliki homestay  dengan gaya desain bangunan lokal, Matheos Anin juga memiliki satu rumah adat yang dinamai rumah adat Ume Anin Fuka sesuai  marga keturunannya. Rumah adat Anin Fuka berbentuk ume kbubu dengan luas sekitar 5×6 meter dan tinggi sekitar 10 meter, beratap alang-alang.

Di dalam rumah adat Anin Fuka terdapat benda-benda pusaka peninggalan keturunan raja Anin Fuka seperti pedang, tombak, kalung muti, gong, kelewang, pisau, pakaian adat, dan masih banyak barang peninggalan lainnya tak bisa di sebutkan satu persatu.

Dalam rumah adat yang sudah berdiri sekitar ratusan tahun itu terdapat juga binatang peliharaan seperti burung merpati, ayam, kus-kus, burung nuri, kucing dan lain sebagainya. Di atas loteng terdapat hasil-hasil bumi yang disimpan seperti jagung, ubi, kacang dan padi.

“Saya punya mama itu yang keturunan raja Mollo sehingga saya juga adalah keturunan raja Mollo. Ume Anin Fuka ini adalah rumah adat keturunan keluarga besar Anin Fuka. Rumah ini juga berfungsi sebagai tempat perdamaian keluarga ketika ada perselisihan dalam anggota keluarga Anin Fuka.” Ungkapnya.

Dalam rumah adat itu juga terdapat sebuah tiang penyanggang yang tinggi sampai atap rumah yang tidak bisa dipegang sembarang. Ada juga tempat duduk ayah dari Matheos Anin yang tidak boleh diduduki oleh tamu dan juga tempat tidur yang tidak boleh disentuh atau dipakai tamu.

Begitu juga hal yang sama pada tangga yang dipakai naik ke loteng, dinilai kramat dan hanya bisa dinaiki Matheos Anin atau istrinya. Hasil panen yang di atas loteng pun hanya bisa diturunkan saat digelar ritual adat bersama masyarakat desa Fatumnasi.

Dalam ritual adat itu hanya bisa dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu saat panen dan saat musim tanam. Sebelum ritual adat itu dilaksanakan, terlebih dahulu harus dilakukan pesta raya selama seminggu. Hewan yang disembelih pun beraneka ragam, bisa   ayam jantan, bisa kambing dan bisa kerbau sesuai kemampuan masyarakat setempat.

Agro Wisata

Pariwisata Berbasis Pertanian (Agro Wisata) adalah sebuah destinasi wisata yang memiliki potensi di bidang pertanian. Desa Fatumnasi juga merupakan desa wisata berbasis  pertanian. Di sana anda bisa menikmati wisata agro, anda bisa mengambil hasil-hasil pertanian di kebun seperti ubi jalar, jeruk, kentang, wortel, dan masih banyak lagi.

Matheos Anin menjelaskan, Desa Fatumnasi memiliki 100 Kepala keluarga dengan 1562 jiwa dengan luas wilayah 12.000 hektare, Pekerjaan warga 99 persen Petani dan 99 persen warga menganut agama Kristen Protestan. Tingkat pendidikan masyarakat rata-rata SD dan SMP.

“Kalau hasil pertanian disini juga disebut agro wisata, karena kita memiliki hasil pertanian yang cukup. Setiap pengunjung yang datang kita kasih kebebasan untuk mengambil sendiri di kebun, setelah itu kita timbang dan bayarnya sesuai harga perkiloannya.” Jelasnya.

Untuk mengelola desa wisata Fatumnasi, Matheos mengaku dibantu puluhan anggota kelompok sadar wisata yang ia bentuk. Anggota kelompok sadar wisata bertugas untuk membantu menjaga dan merawat kebersihan homestay dan lingkungan desa Wisat Fatumnasi. Kelompok sadar wisata dikoordinir langsung dirinya.

Mengakhiri perbincangan dengan VN, Matheos Anin mengaku bahwa walaupun sudah memasuki usia senja, dirinya tidak pernah berhenti menjaga, merawat dan melindungi desa Wisata Fatumnasi. Ia berjanji ketika tiada maka akan menyerahkan hak ahli waris kepada salah satu anaknya yang ia nilai mampu mengelola desa Wisata Fatumnasi. (Putra Bali Mula/Yan/ol)

Leave a Comment