Kemitraan Closed Loop Menjaga Stabilitas Harga Hortikultura

Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura, Kementrian Bidang Perekonomian, Yuli Sri Wilanti, bersama Yance Maring, Senin (7/6) siang. Foto: Yunus/VN
Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura, Kementrian Bidang Perekonomian, Yuli Sri Wilanti, bersama Yance Maring, Senin (7/6) siang. Foto: Yunus/VN

 

Yunus Atabara

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berupaya melakukan percepatan replikasi Program Kemitraan Closed Loop Hortikultura di setiap daerah yang tertarik mengembangkan pola kemitraan.

Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura, Kementrian Bidang Perekonomian, Yuli Sri Wilanti, kepada VN Senin (7/6) mengatakan saat ini pihaknya sedan gencar mengembangkan pola kemitraan closed loop dengan pemerintah daerah.

Pola kemitraan ini untuk mensinergikan rantai pasok hortikultura dari hulu hingga hilir sehingga petani sebagai leading sector terhubung dengan semua stakeholder mulai dari penyedia benih, pupuk, perlindungan tanaman, pendampingan petani, pembiayaan, sampai dengan offtaker.

“Pola kemitraan closed loop, selain saling menguntungkan juga untuk stabilkan harga, apabila produk dari luar masuk,” kata Wilanti.

Di Kabupaten Sikka Kemenko Perekonomian sudah berdiskusi dengan petani milenial yang sudah mengembangkan smart farming dan sistem irigasi tetes (Drip Irrigation System) yang memiliki lahan seluas 1 ha yang ditanami komoditas hortikultura.

Kabupaten Sikka mempunyai potensi agribisnis yang sangat besar dan pasarnya dapat menjadi penghubung perdagangan antar kabupaten di NTT khususnya Flores dan Lembata.

Hal yang perlu diperhatikan yakni identifikasi atau pemetaan kebutuhan pasar agar petani dapat merencanakan jenis tanaman sesuai kebutuhan pasar dan melakukan kemitraan dengan offtaker untuk menjaga kestabilan harga.

Dukungan dari semua stakeholder yang akan terlibat dalam kemitraan closed loop akan segera dikoordinasikan oleh Kemenko Perekonomian agar pengembangan kemitraan closed loop di Kabupaten Sikka agar segera diimplementasikan.

Pemerintah memastikan mendukung penuh berbagai inisiatif sinergi dan kolaboratif seperti inklusif closed loop yang melibatkan petani, koperasi, perbankan, hingga offtaker yang akan menjadi pembelajaran bagi petani hortikultura.

Yance Maring seorang petani milenial di Kabupaten Sikka mengatakan kebutuhan pasar lokal terhadap produk horti, berupa sayur dan buah sangat tinggi. Namun sebagian besar masih didatangkan dari luar Sikka, seperti Makassar, Bima dan Surabaya.

“Kebutuhan sayur dan buah, sangat tinggi, tetapi masih sebagian besar masih didatangkan dari luar. Seperti Bima, Makasar dan Surabaya,” kata Yance.

Tantangan masuknya produk hortikultura dari luar NTT, dalam jumlah banyak, produk lokal kalah bersaing oleh karena produksi masih dalam skala kecil.(bev/ol)

Leave a Comment