Kinerja Kontekstual ‘Krusial’ (Perspektif Sektor Publik)

Penulis: Alexander B Koroh (Alumnus Victoria University of Wellington)

CONTEXTUAL performance atau kinerja kontekstual menentukan keberhasilan organisasi sektor publik dalam meraih target kinerjanya. Tentunya achievement yang diraih oleh organisasi ditentukan juga oleh task performance (kinerja tugas). Oleh karena itu diperlukan penyeimbangan dan penyelarasan antara kinerja kontekstual dan kinerja tugas pada setiap organisasi. Tulisan ini memfokuskan pada pembahasan tentang kebermanfaatan kinerja kontekstual dalam meningkatkan kinerja organisasi sektor publik. Kinerja kontekstual adalah penting karena potensinya untuk melakukan go the extra mile, yang berdampak langsung bagi tidak saja peningkatan kinerja organisasi sektor publik, tetapi juga peningkatan kuantitas dan kualitas layanan organisasi sektor publik bagi warga pengguna.

Pengertian dan Implementasi

Koopmans dan Bernaards (2011) menekankan bahwa contextual performance goes beyond formal job responsiblities. Also referred to as “discretionary extra-role behavior”. Konsep ini memperlihatkan bahwa pegawai/karyawan dan organisasi memiliki tanggung jawab untuk berkinerja melampaui kewenangan formalnya. Dengan kata lain, mereka harus memproduksi kinerja melewati dari yang tertera pada kontrak kinerja atau dalam konteks organisasi publik di Indonesia dikenal sebagai ‘perjanjian kinerja’. Dengan kata lain ASN dalam instansinya masing-masing seyogianya dapat melakukan berbagai hal baik yang secara internal dapat meningkatkan kompetensi rekan sekerjanya melaui coaching, memperkuat jejaring kerja internal dan eksternal, dan melakukan berbagai hal baik secara volunteer dalam memenuhi kebutuhan warga pengguna. Contohnya, ASN tertentu dari dinas Peternakan secara suka rela memberikan pelatihan/bimtek kepada kelompok peternak tentang pemberian pakan ternak organik untuk sapi, kambing, domba, dan ayam kampung. Tentunya perbuatan mulia ini dapat dilakukan pula oleh perangkat daerah lainnya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kinerja kontekstual dalam sector publik mendorong ASN untuk think and act outside the box. Pada saat yang sama, contextual performance membawa organisasi sektor publik untuk melakukan going the extra mile for the organization. Intinya kinerja kontekstual berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan tugas formal pegawai/karyawan, tapi membentuk lingkungan organisasi, sosial dan psikologi, akademisi dalam manajemen kenerja biasanya menyebut sebagai “pro-social behaviors” dan “organizational citizenship behaviors”.

Dalam implementasinya, secara umum cendikiawan pada manajemen kinerja meyakini bahwa kinerja kontekstual hadir dalam 5 perilaku. Pertama, senantiasa antusias dan berfungsi ketika dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas hingga terselesaikan dengan tuntas. Hal ini tampak pada kehadiran pegawai yang selalu tepat waktu, hampir tidak pernah absen, dan selalu memperluas upaya tambahan dalam tugas. Kedua, secara suka rela melaksanakan berbagai kegiatan yang bukan ditetapkan secara formal, dengan memberikan usulan-usulan konstruktif dan menyarankan perbaikan organisasi. Ketiga, menolong dan bekerja sama dengan pihak lain, melalui membantu rekan kerja dan pelanggan/warga pengguna secara volunteer. Keempat, Mengikuti prosedur dan aturan organisasi bahkan ketika secara personal hal itu tidak mengenakkan. Hal ini akan tampak melalui, mematuhi tata tertib dan aturan, menunjukkan rasa hormat pada atasan, mematuhi nilai-nilai dan kebijakan organisasi. Kelima, mendukung, mendorong dan mempertahankan tujuan, hal ini tampak pada kesetiaan pada organisasi, dan menunjukkan kebaikan organisasi pada pihak luar.

Manfaat

Kinerja kontekstual memperbaiki iklim organisasi melalui penguatan jejaring sosial secara internal dan eksternal. Iklim kerja yang kondusif adalah penting karena akan menjadi arena yang sehat bagi pegawai untuk lebih produktif karena dapat menjalankan kinerja tugas secara sehat dan leluasa. Sejalan dengan itu, kinerja kontekstual dapat mentransformasikan organisasi karena kerja suka rela pegawai untuk kerja-kerja tambahan yang dijalankan dengan ketekunan dan antusiasme sehingga membuat organisasi sektor publik lebih bernilai. Artinya, tampilan kinerja organisasi publik mencengangkan banyak pihak karena dapat menghasilkan social values yang membantu memecahkan berbagai permasalah publik, seperti, stunting, pengangguran, kekeringan, kemiskinan dan kemacetan. Pada poin ini, dapat dikatakan bahwa kemampuan organisasi sekto publik untuk menjalankan kinerja kontekstual menentukan kebermaknaan organisasi ini bagi warga pengguna. Dengan kata lain, jika suatu organisasi sektor publik berkinerja kontekstual rendah maka ia harus berupaya keras untuk meningkatkannya, sebab, jika tidak maka organisasi tadi kurang atau bahkan tidak bermanfaat bagi masyarakat.

Selanjutnya, kinerja kontekstual berkontribusi pada peningkatan kinerja organisasi sektor publik. Dalam hal ini, sejalan dengan penjelasan di atas, organisasi sektor publik mampu mencapai tidak saja berbagai output berkualitas dan outcome (khususnya immediate outcome) yang pada akhirnya bermuara pada pencapaian well being seluruh masyarakat baik pada aspek sosial budaya, ekonomi dan lingkungan hidup. Pencapaian output berkualitas menjadi suatu keniscayaan sebab hanya output yang berkualitaslah yang dapat berkontribusi pada pencapaian outcome. Selain itu, organisasi sektor publik dapat secara langsung mengendalikan peraihan output dengan dukungan sumber daya manusia, penganggaran, peralatan, dan regulasi. Namun pada target indikator kinerja outcome pencapaiannya ditentukan pula oleh stakeholder lainnya.

Merujuk pada penjelasan di atas, tampak jelas bahwa memang penting bagi setiap organisasi sektor publik untuk menerapkan kinerja kontekstual secara optimal. Di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia, dibutuhkan kreatifitas, inovasi dan terebosan organisasi sektor publik untuk tetap dapat melakukan kinerja kontekstual. Bahkan dalam kondisi sulit ini, di mana sektor swasta dan sektor nirlaba juga sangat terpukul, maka sandaran masyarakat dalam rangka mengurangi beban hidup mereka adalah pada pemerintah. Organisasi sektor publik sebagai elemen pemerintah yang membumikan berbagai program strategis tentunya harus dapat menghadirkan kinerja kontekstual yang membantu konsumer/warga pengguna agar tetap tabah dan mampu melewati pandemi Covid-19 dengan self confidence yang memadai. Hal ini memang tidak mudah, namun dengan antusiasme ASN untuk melakukan go the extra mile yang melampaui kinerja tugas dalam melayani masyarakat dengan iklas dan sepenuh hati, tentunya akan berkontribusi bagi peningkatan kinerja organisasi sektor publik dan pemenuhan kebutuhan publik.

Leave a Comment