Komodo harus Tetap Liar

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri) menerima piagam Anugerah Konservasi Alam dari Menteri LHK yang diwakili oleh Wamen LHK Alue Dohang pada puncak peringatan HKAN di Kupang, kemarin. Foto: Nahor Fatbanu/VN
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri) menerima piagam Anugerah Konservasi Alam dari Menteri LHK yang diwakili oleh Wamen LHK Alue Dohang pada puncak peringatan HKAN di Kupang, kemarin. Foto: Nahor Fatbanu/VN

“Komodo bukanlah binatang peliharaan yang dibudidaya. Komodo harus tetap liar di alamnya. Justru liarnya komodo itulah yang membuat kadal purba raksasa itu ‘mahal’ dalam dunia pariwisata.”

Kekson Salukh

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada puncak perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021 di Kupang, kembali menegaskan tentang kebijakan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK).

Ia mengatakan komodo bukanlah binatang peliharaan yang dibudidaya. Komodo harus tetap liar di alamnya. Justru liarnya komodo itulah yang membuat kadal purba raksasa itu mahal dalam dunia pariwisata.

“Kalau purba, tetapi kita tidak mengerti konservasi maka akan berubah menjadi budidaya. Komodo itu tidak boleh dikasih makan. Saya tidak mau ke depan komodo dikasih makan seperti binatang peliharaan, karena kalau dia jinak maka lama-lama kita bisa potong, dan punah. Maka harus dilakukan riset agar dalam konservasi komodo harus tetap liar, dan wild (liar) itu yang mahal,” tegasnya lagi.

Pemerintah akan menyiapkan Pulau Rinca sebagai tempat komodo yang jinak. “Yang mahal itu komodo yang liar di TNK, tetapi yang murah nanti kita siapkan Pulau Rinca sebagai tempat komodo jinak,” jelasnya.

Bukti Cinta
HKAN dilaksanakan di Pantai Lasiana, Kota Kupang, Rabu (24/11), dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong.
Gubernur mengatakan bahwa konservasi alam yang dilakukan pemerintah untuk melestarikan dan melindungi kekayaan alam Indonesia yang terdiri dari flora dan fauna adalah bukti cinta manusia terhadap Tuhan.

Ia menegaskan NTT merupakan salah satu daerah terkaya di Indonesia sehingga konservasi alam harus dilakukan dengan baik. Untuk itu, pemerintah harus paham tentang konservasi dan menjadi contoh bagi masyarakat dalam melakukan konservasi.

“Kekayaan alam, dan kekayaan laut di NTT sangat luar biasa, namun kami saja yang belum bisa kelola. Untuk itu, konservasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa pertumbuhan ekonomi masyarakat, tanpa pengetahuan masyarakat terhadap konservasi lingkungan dan alam. Tidak mungkin juga pelaksanaan konservasi itu berjalan baik kalau pemerintah tidak mengerti konservasi. Kalau pemerintah dan masyarakat tidak mengerti apa itu konservasi, maka semua akan sia-sia,” tegasnya.

Menurutnya, setiap orang yang memiliki kepedulian dalam menjaga, melestarikan, dan mencintai alam pasti masuk surga. Sebab, alam adalah ciptaan Tuhan. Jika alam dirusak, maka Sang Pencipta marah. Karena itu, kata dia, konservasi adalah salah satu cara manusia menunjukkan cintanya kepada Tuhan dan sesama. Sehingga kalau ada lingkungan yang rusak, maka bukti manusia tidak mencintai Tuhan dan sesama.
Riset-riset dan konservasi di TNK harus mengutamakan kesejahteraan masyarakat, dan keaslian flora dan fauna.

“Kalau kita bangun komodo di TNK dengan baik maka kita membangun kembali ekosistem yang baik. Alam itu luar biasa, kalau kita cinta dia maka dia sendiri akan merecoveri diri sendiri, ” tegasnya.

Senada, Wakil Mentri Lingkungan Hidup Alue Dohong menegaskan menjaga alam dan ekosistem ibarat manusia menghormati ciptaan Tuhan.

“Saya sepakat dengan apa yang disampaikan Pak Gubernur. Kita akan masuk sorga bila kita menjaga, dan menggelola ciptaan Tuhan dengan baik,” ucapnya.

Menurut Alue, para penggelola TWA dan wisata konservasi harus menerapkan panduan CHSE (kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan). Bagi dia, penerapan Premium Tourism di TNK sangat tepat dibanding Mass Tourism karena bisa mengancam keberlangsungan komodo. (mg-10/tia/R-01)

Leave a Comment