Kose Kobhe, Tradisi Masak Nasi Dengan Bambu dari Suku Nataia

Tampak para kaum muda di Desa Olaia Suku Nataia sedang melaksanakan bakar nasi bambu yang disebut dengan Kose dan dilanjutkan dengan berburu Kobhe yang biasa disebutkan Kose Kobhe. Foto: Bernard/VN
Tampak para kaum muda di Desa Olaia Suku Nataia sedang melaksanakan bakar nasi bambu yang disebut dengan Kose dan dilanjutkan dengan berburu Kobhe yang biasa disebutkan Kose Kobhe. Foto: Bernard/VN

Bernard Sapu

Warga Desa Olaia, Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT yang masuk dalam Suku Nataia setiap tahunn melaksanakan tradisi Kose Kobhe.

Kepala Suku Nataia Patrisius Seo kepada VN, Rabu (21/7) malam di kampung adat Suku Nataia, Desa Olaia menjelaskan Kose Kobhe merupakan tradisi memasak nasi dalam bambu yang sudah dipotong-potong. Kose artinya makan nasi bambu yang dibakar sedangkan kobhe artinya berburu.

Cara membuat nasi bambu cukup mudah. Beras yang sudah dicuci, dibumbui lalu dibungkus dengan pelepah pisang bagian dalam lalu dimasukkan ke dalam potongan-potongan bambu yang telah disediakan. Potongan-potongan bambu tersebut disimpan berjejer lalu dibakar hingga nasi matang.

Setelah nasi matang, anggota Suku Nataia akan melakukan riual adat dengan memotong ayam, mengucapkan doa dan makan bersama.

“Makan nasi bambu inipun dengan berbagai doa dan permintaan dari setiap keluarga agar hujan dan sinar matahari yang seimbang di musim tanam tahun ini, serta keselamatan jiwa dari bencana dan bahaya-bahaya. Menurut kepercayaan melalui ritual adat Kose Kobhe ini kami dapat mengetahui apakah hujannya panjang atau tidak pada saat pembakaran nasi bambu tadi. Jika belahannya sempurna diyakini musim hujannya panjang jika tidak maka hujan sedikit,” ujarnya.

Patrisius mengatakan tradisi Kose Kobhe akan dilanjutkan esok hari. Setiap anggota keluarga laki-laki dewasa akan bersiap untuk pergi berburu dengan anjing. Hewan yang diburu biasanya babi hutan. Sebelum berburu, di hari kedua mereka akan memasang perangkap di padang. Di hari ketiga, anggota keluarga akan menyiapkan bekal untuk mereka yang akan pergi berburu. Sementara di hari keempat, laki-lakib remaja dan orang dewasa bergerak menuju hutan.

“Tapi sebelum mulai berburu semuanya diawali dengan ritual adat yang digelar melalui persembahan sesajean untuk para penguasa hutan yang pimpin ketua suku untuk minta izin dari para penguasa dan pemilik hutan agar diizinkan mengambil hasil hutan selama dua hari berburu juga dimudahkan. Untuk acara sesajean tersebut terdiri dari nasi, telur, tembakau gunung , kopi dan sirih pinang. Setelah itu ada hari berikutnya yang secara bahasa adat namanya Gae Ka Lako artinya kita cari makanan anjing dan bekal untuk kita turun berburu di hutan selama dua hari. Setelah dua hari kita berburu , selanjutnya kita pulang langsung dilanjutkan dengan adat kita, dimana ada persembahannya di pohon kayu itu. Ada telur, nasi , tembakau gunung , kopi dan sirih pinang. Sebagai Ketua Suku turun terlebih dahulu untuk membuat persembahan khusus ditempat berburu disaat bulan purnama,”tuturnya.

Patrisius menambahkan, perburuan dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing terdiri dari 20 orang. Selama dua hari mereka berburu hanya memungkinkan menangkap rusa dan babi hutan lainnya seperti ayam atau kera bisa ditangkap di luar berburu adat.

“Sekali turun sedikitnya 2 hingga 4 ekor rusa berhasil ditangkap oleh satu kelompok. Sementara babi hutan 2 hingga 3 ekor. Hasil buruan ini dibagikan kepada semua anggota kelompok secara merata dan pesta pun dimulai. Ritual berburu adat di desa ini sudah diwariskan oleh leluhur secara turun- temurun yang digelar setiap tahun dan wajib dilaksanakan anak cucu selanjutnya,”katanya.

Ia menambahkan, sampai saat ini pihaknya masih tetap menjalankan tradisi ini dengan harapan akan dilanjutkan oleh anak cucu di masa yang akan datang. (bev/ol)

Leave a Comment