KPA NTT Gelar Pendampingan bagi 22 ODHA

Peserta pelatihan pendampingan dan penjangkauan ODHA dari 22 kabupaten/kota se-NTT serius mengikuti kegiatan yang digelar KPA NTT di Hotel On The Rock Kupang, Kamis (14/10) siang.

Sinta Tapobali

 

Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Provinsi NTT menyelenggarakan kegiatan Pendampingan dan Penjangkauan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) bagi teman sebaya dengan melibatkan 22 ODHA dari 22 Kabupaten/Kota se-NTT.

Kegiatan ini bertujuan, memberikan pemahaman dan pengetahuan terhadap para ODHA yang secara sukarela bekerja menjadi pendamping ODHA agar mengetahui tugas dan fungsi mereka di lapangan.

Keberadaan pendamping ODHA untuk menfasilitasi ODHA lainnya agar mampu menangani tekanan psikis dan sosial yang dialami di lingkungan masyarakat. Selain itu, pendamping ODHA juga berperan untuk menghubungkan kebutuhan ODHA dengan sumber-sumber di sekitarnya seperti penjangkauan pengobatan ARV di Fasilitas Kesehatan.

“Kita ingin agar mereka memahami fungsi mereka sebagai pendamping ODHA di tempat tinggal mereka masing-masing. Meskipun mereka semua ini adalah ODHA, tapi mereka mau dan secara sukarela ingin membantu teman-teman mereka yang ODHA agar bangkit dari keterpurukan. Mereka juga akan membantu untuk menghilangkan stigma negatif orang terhadap ODHA. Mereka juga akan membantu untuk memastikan agar ODHA yang ada di wilayah mereka ini harus rutin minum ARV setiap hari,” ujar Pengelola Program KPA NTT, Adi Lamuri di sela-sela kegiatan yang berlangsung di Hotel On The Rock Kupang, Kamis (14/10) siang.

Kegiatan yang berlangsung sejak Rabu 13 Oktober-15 Oktober ini menghadirkan narasumber yang memiliki kemampuan dan kapasitas dalam memberikan informasi dan pemahaman terkait HIV, AIDS, IMS, dan upaya penjangkauan dan pendampingan.

MN salah satu ODHA peserta pelatihan dari Kabupaten TTS mengatakan bahwa ia sejak tahun 2009 telah melakukan upaya-upaya pendampingan kepada orang-orang terkonfirmasi positif HIV di Kabupaten TTS.

“Ada keluarga yang marah saat saya datang antar obat karena mereka pikir anak mereka dalam keadaan sehat. Padahal sebenarnya anak mereka ini HIV namun tidak terbuka dengan pihak keluarganya, sehingga pada saat saya datang justru saya diusir,” cerita MN yang sudah menjadi ODHA sejak tahun 2007 ini.

Menurutnya 14 tahun yang lalu, ia positif HIV karena tertular dari mantan suaminya yang merupakan seorang pengguna narkoba. Karena ketidaktahuannya akan kondisi suaminya, akhirnya ia juga menderita penyakit ini. Terburuknya ia harus iklas kehilangan kedua anaknya karena HIV. (Yan/ol)

 

Leave a Comment